Hikmah dari Kisah Waliyullah

Written on May 30, 2005 – 9:41 pm | by DHB Wicaksono |

Bismilahirrahmanirrahim Walhamdulillahi Rabbil ‘aalamiin Wassholatu Wassalamu `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Washohbihie Waman Walaah amma ba’du…

oleh KH. Jalaluddin Rakhmat

Dunia tasawuf mengenal banyak cerita sufi. Sebagian dari cerita itu
termuat dalam kitab Tadzkiratul Awliya, Kenangan Para Wali, yang
ditulis oleh Fariduddin Attar. Buku ini ditulis dalam bahasa Persia,
meskipun judulnya ditulis dalam bahasa Arab. Selain berarti kenangan
atau ingatan, kata tadzkirah dalam bahasa Arab juga berarti
pelajaran. Sehingga Tadzkiratul Awliya berarti pelajaran yang
diberikan oleh para wali
.

Attar mengumpulkan kisah para wali; mulai dari Hasan Al-Bashri, sufi pertama, sampai Bayazid Al-Busthami. Dari Rabiah Al-Adawiah sampai Dzunnun Al-Mishri. Selain buku ini, Attar juga menulis buku cerita sufi berjudul Manthiquth Thayr, Musyawarah Para Burung. Berbeda
dengan kitab pertama yang berisi cerita para tokoh sufi, kitab ini
berbentuk novel dan puisi sufi. Sebagian besar ceritanya bersifat
metaforis.

Fariduddin dijuluki Attar (penjual wewangian), karena sebelum
menjadi sufi ia memiliki hampir semua toko obat di Mashhad, Iran.
Dahulu, orang yang menjadi ahli farmasi juga sekaligus menjadi
penjual wewangian. Sebagai pemilik toko farmasi, Attar terkenal kaya
raya.

Sampai suatu hari, datanglah seorang lelaki tua. Kakek itu bertanya, “Dapatkah kau tentukan kapan kau meninggal dunia?” “Tidak,” jawab Attar kebingungan. “Aku dapat,” ucap kakek tua itu, “saksikan di
hadapanmu bahwa aku akan mati sekarang juga.” Saat itu juga lelaki
renta itu terjatuh dan menghembuskan nafasnya yang terakhir. Attar terkejut. Ia berpikir tentang seluruh kekayaan dan maut yang mengancamnya. Ia ingin sampai pada kedudukan seperti kakek tua itu;
mengetahui kapan ajal akan menjemput. Attar lalu meninggalkan
seluruh pekerjaannya dan belajar kepada guru-guru yang tidak
diketahui. Menurut shahibul hikayat, ia pernah belajar di salah satu
pesantren di samping makam Imam Ridha as, di Khurasan, Iran. Setelah
pengembaraannya, Attar kembali ke tempat asalnya untuk menyusun
sebuah kitab yang ia isi dengan cerita-cerita menarik.

Tradisi mengajar melalui cerita telah ada dalam kebudayaan Persia.
Jalaluddin Rumi mengajarkan tasawuf melalui cerita dalam kitabnya
Matsnawi-e Ma’nawi. Penyair sufi Persia yang lain, Sa’di, juga
menulis Gulistan, Taman Mawar, yang berisi cerita-cerita penuh
pelajaran. Demikian pula Hafizh dan beberapa penyair lain. Tradisi
bertutur menjadi salah satu pokok kebudayaan Persia.

Kebudayaan Islam Indonesia juga mengenal tradisi bercerita. Islam
yang pertama datang ke nusantara adalah Islam yang dibawa oleh
orang-orang Persia lewat jalur perdagangan sehingga metode
penyebaran Islam juga dilakukan dengan bercerita
. Mereka menggunakan
wayang sebagai media pengajaran Islam.

Dalam pengantar Tadzkiratul Awliya, Attar menjelaskan mengapa ia
menulis buku yang berisi cerita kehidupan para wali. Alasan pertama,
tulis Attar, karena Al-Quran pun mengajar dengan cerita. Surat
Yusuf, misalnya, lebih dari sembilan puluh persen isinya, merupakan
cerita.

Terkadang Al-Quran membangkitkan keingintahuan kita dengan cerita:
Tentang apakah mereka saling bertanya? Tentang cerita yang dahsyat,
yang mereka perselisihkan. (QS. An-Naba; 1-3). Bagian awal dari surat
Al-Kahfi bercerita tentang para pemuda yang mempertahankan imannya:
Ingatlah ketika pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam
gua lalu mereka berdoa: Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada
kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus
dalam urusan kami ini. (QS. Al-Kahfi; 10) Surat ini dilanjutkan
dengan kisah pertemuan Nabi Musa dan Nabi Khidhir, diteruskan dengan
riwayat Zulkarnain, dan diakhiri oleh cerita Rasulullah saw.

Demikian pula surat sesudah Al-Kahfi, yaitu surat Maryam, yang penuh berisi ceritera; Dan kenanglah kisah Maryam dalam Al-Quran. Ketika ia menjauhkan diri dari keluarganya ke satu tempat di sebelah timur. (QS. Maryam; 16) Al-Quran memakai kata udzkur yang selain berarti “ingatlah” atau “kenanglah” juga berarti “ambillah pelajaran.” Attar mengikuti contoh Al-Quran dengan menamakan kitabnya Tadzkiratul Awliya.

Alasan kedua mengapa cerita para wali itu dikumpulkan, tulis Attar,
adalah karena Attar ingin mendapat keberkahan dari mereka. Dengan
menghadirkan para wali, kita memberkahi diri dan tempat sekeliling
kita. Sebuah hadis menyebutkan bahwa di dunia ini ada sekelompok
orang yang amat dekat dengan Allah swt. Bila mereka tiba di suatu
tempat, karena kehadiran mereka, Allah selamatkan tempat itu dari
tujuh puluh macam bencana
. Para sahabat bertanya, “Ya Rasulallah,
siapakah mereka itu dan bagaimana mereka mencapai derajat itu?” Nabi
yang mulia menjawab, “Mereka sampai ke tingkat yang tinggi itu bukan
karena rajinnya mereka ibadat. Mereka memperoleh kedudukan itu
karena dua hal; ketulusan hati mereka dan kedermawanan mereka pada sesama manusia.”

Itulah karakteristik para wali. Mereka adalah orang yang berhati
bersih
dan senang berkhidmat pada sesamanya. Wali adalah makhluk
yang hidup dalam paradigma cinta. Dan mereka ingin menyebarkan cinta
itu pada seluruh makhluk di alam semesta. Attar yakin bahwa
kehadiran para wali akan memberkahi kehidupan kita, baik kehadiran
mereka secara jasmaniah maupun kehadiran secara ruhaniah.

Dalam Syarah Sahih Muslim, Imam Nawawi menjelaskan dalil dianjurkannya menghadirkan orang-orang salih untuk memberkati tempat tinggal kita. Ia meriwayatkan kisah Anas bin Malik yang mengundang Rasulullah saw untuk jamuan makan. Tiba di rumah Anas, Rasulullah meminta keluarga itu untuk menyediakan semangkuk air. Beliau memasukkan jari jemarinya ke air lalu mencipratkannya ke sudut-sudut rumah. Nabi kemudian shalat dua rakaat di rumah itu meskipun bukan pada waktu shalat.

Menurut Imam Nawawi, shalat Nabi itu adalah shalat untuk memberkati
rumah Anas bin Malik. Imam Nawawi menulis, “Inilah keterangan tentang mengambil berkah dari atsar-nya orang-orang salih.” Sayangnya, tulis Attar dalam pengantar Tadzkiratul Awliya, sekarang ini kita sulit berjumpa dengan orang-orang salih secara jasmaniah. Kita sukar menemukan wali Allah di tengah kita, untuk kita ambil pelajaran dari mereka. Oleh karena itu, Attar menuliskan kisah-kisah para wali yang telah meninggal dunia. Attar memperkenalkan mereka agar kita dapat mengambil hikmah dari mereka. “Saya hanya pengantar hidangan,” lanjut Attar, “dan saya ingin ikut menikmati hidangan ini bersama Anda. Inilah hidangan para awliya.”

Attar lalu menulis belasan alasan lain mengapa ia mengumpulkan ceritera para wali. Yang paling menarik untuk saya adalah alasan bahwa dengan menceritakan kehidupan para wali, kita akan memperoleh berkah dan pelajaran yang berharga dari mereka. Seakan-akan kita menemui para wali itu di alam ruhani, karena di alam jasmani kita sukar menjumpai mereka.

Seringkali kita juga lebih mudah untuk mendapatkan pelajaran dari
cerita-cerita sederhana ketimbang uraian-uraian panjang yang ilmiah.
Berikut ini sebuah cerita dari Bayazid Al-Busthami, yang insya Allah, dapat kita ambil pelajaran daripadanya;
Di samping seorang sufi, Bayazid juga adalah pengajar tasawuf. Di
antara jamaahnya, ada seorang santri yang juga memiliki murid yang
banyak. Santri itu juga menjadi kyai bagi jamaahnya sendiri. Karena
telah memiliki murid, santri ini selalu memakai pakaian yang
menunjukkan kesalihannya, seperti baju putih, serban, dan wewangian
tertentu.

Suatu saat, muridnya itu mengadu kepada Bayazid, “Tuan Guru, saya
sudah beribadat tiga puluh tahun lamanya. Saya shalat setiap malam
dan puasa setiap hari, tapi anehnya, saya belum mengalami pengalaman
ruhani yang Tuan Guru ceritakan. Saya tak pernah saksikan apa pun
yang Tuan gambarkan.”

Bayazid menjawab, “Sekiranya kau beribadat selama tiga ratus tahun pun, kau takkan mencapai satu butir pun debu mukasyafah dalam hidupmu.”

Murid itu heran, “Mengapa, ya Tuan Guru?”

“Karena kau tertutup oleh dirimu,” jawab Bayazid.

“Bisakah kau obati aku agar hijab itu tersingkap?” pinta sang murid.

“Bisa,” ucap Bayazid, “tapi kau takkan melakukannya.”

“Tentu saja akan aku lakukan,” sanggah murid itu.

“Baiklah kalau begitu,” kata Bayazid, “sekarang tanggalkan pakaianmu. Sebagai gantinya, pakailah baju yang lusuh, sobek, dan compang-camping. Gantungkan di lehermu kantung berisi kacang. Pergilah kau ke pasar, kumpulkan sebanyak mungkin anak-anak kecil di sana. Katakan pada mereka, “Hai anak-anak, barangsiapa di antara kalian yang mau menampar aku satu kali, aku beri satu kantung kacang.” Lalu datangilah tempat di mana jamaah kamu sering mengagumimu. Katakan juga pada mereka, “Siapa yang mau menampar mukaku, aku beri satu kantung kacang!”

“Subhanallah, masya Allah, lailahailallah,” kata murid itu terkejut.

Bayazid berkata, “Jika kalimat-kalimat suci itu diucapkan oleh orang kafir, ia berubah menjadi mukmin. Tapi kalau kalimat itu diucapkan oleh seorang sepertimu, kau berubah dari mukmin menjadi kafir.”

Murid itu keheranan, “Mengapa bisa begitu?”

Bayazid menjawab, “Karena kelihatannya kau sedang memuji Allah, padahal sebenarnya kau sedang memuji dirimu. Ketika kau katakan: Tuhan mahasuci, seakan-akan kau mensucikan Tuhan padahal kau menonjolkan kesucian dirimu.”

“Kalau begitu,” murid itu kembali meminta, “berilah saya nasihat
lain.”

Bayazid menjawab, “Bukankah aku sudah bilang, kau takkan mampu melakukannya!”

Cerita ini mengandung pelajaran yang amat berharga. Bayazid mengajarkan bahwa orang yang sering beribadat mudah terkena penyakit
ujub dan takabur. “Hati-hatilah kalian dengan ujub,” pesan Iblis.
Dahulu, Iblis beribadat ribuan tahun kepada Allah. Tetapi karena
takaburnya terhadap Adam, Tuhan menjatuhkan Iblis ke derajat yang
serendah-rendahnya.

Takabur dapat terjadi karena amal atau kedudukan kita. Kita sering merasa menjadi orang yang penting dan mulia. Bayazid menyuruh kita menjadi orang hina agar ego dan keinginan kita untuk menonjol dan
dihormati segera hancur, yang tersisa adalah perasaan tawadhu dan
kerendah-hatian. Hanya dengan itu kita bisa mencapai hadirat Allah
swt.

Orang-orang yang suka mengaji juga dapat jatuh kepada ujub. Mereka
merasa telah memiliki ilmu yang banyak. Suatu hari, seseorang datang
kepada Nabi saw, “Ya Rasulallah, aku rasa aku telah banyak
mengetahui syariat Islam. Apakah ada hal lain yang dapat kupegang
teguh?” Nabi menjawab, :”Katakanlah: Tuhanku Allah, kemudian ber-
istiqamah-lah kamu.”

Ujub seringkali terjadi di kalangan orang yang banyak beribadat.
Orang sering merasa ibadat yang ia lakukan sudah lebih dari cukup
sehingga ia menuntut Tuhan agar membayar pahala amal yang ia lakukan. Ia menganggap ibadat sebagai investasi.

Orang yang gemar beribadat cenderung jatuh pada perasaan tinggi
diri. Ibadat dijadikan cara untuk meningkatkan statusnya di tengah
masyarakat. Orang itu akan amat tersinggung bila tidak diberikan
tempat yang memadai statusnya. Sebagai seorang ahli ibadat, ia ingin
disambut dalam setiap majelis dan diberi tempat duduk yang paling
utama.

Tulisan ini saya tutup dengan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh
Imam Ahmad dalam musnad-nya; Suatu hari, di depan Rasulullah saw Abu
Bakar menceritakan seorang sahabat yang amat rajin ibadatnya.
Ketekunannya menakjubkan semua orang. Tapi Rasulullah tak memberikan
komentar apa-apa. Para sahabat keheranan. Mereka bertanya-tanya,
mengapa Nabi tak menyuruh sahabat yang lain agar mengikuti sahabat
ahli ibadat itu. Tiba-tiba orang yang dibicarakan itu lewat di
hadapan majelis Nabi. Ia kemudian duduk di tempat itu tanpa
mengucapkan salam. Abu Bakar berkata kepada Nabi, “Itulah orang yang
tadi kita bicarakan, ya Rasulallah.” Nabi hanya berkata, “Aku lihat ada bekas sentuhan setan di wajahnya.”

Nabi lalu mendekati orang itu dan bertanya, “Bukankah kalau kamu datang di satu majelis kamu merasa bahwa kamulah orang yang paling salih di majelis itu?” Sahabat yang ditanya menjawab, “Allahumma, na’am. Ya Allah, memang begitulah aku.” Orang itu lalu pergi meninggalkan majelis Nabi.

Setelah itu Rasulullah saw bertanya kepada para sahabat, “Siapa di
antara kalian yang mau membunuh orang itu?” “Aku,” jawab Abu Bakar.
Abu Bakar lalu pergi tapi tak berapa lama ia kembali lagi, “Ya Rasulallah, bagaimana mungkin aku membunuhnya? Ia sedang ruku’.”
Nabi tetap bertanya, “Siapa yang mau membunuh orang itu?” Umar bin
Khaththab menjawab, “Aku.” Tapi seperti juga Abu Bakar, ia kembali
tanpa membunuh orang itu, “Bagaimana mungkin aku bunuh orang yang
sedang bersujud dan meratakan dahinya di atas tanah?” Nabi masih
bertanya, “Siapa yang akan membunuh orang itu?” Imam Ali bangkit,
“Aku.” Ia lalu keluar dengan membawa pedang dan kembali dengan
pedang yang masih bersih, tidak berlumuran darah, “Ia telah pergi,
ya Rasulullah.” Nabi kemudian bersabda, “Sekiranya engkau bunuh dia. Umatku takkan pecah sepeninggalku….”

Dari kisah ini pun kita dapat mengambil hikmah: Selama di tengah-
tengah kita masih terdapat orang yang merasa dirinya paling salih,
paling berilmu, dan paling benar dalam pendapatnya, pastilah terjadi
perpecahan di kalangan kaum muslimin. Nabi memberikan pelajaran bagi
umatnya bahwa perasaan ujub akan amal salih yang dimiliki adalah
penyebab perpecahan di tengah orang Islam. Ujub menjadi penghalang
naiknya manusia ke tingkat yang lebih tinggi. Penawarnya hanya satu,
belajarlah menghinakan diri kita. Seperti yang dinasihatkan Bayazid
Al-Busthami kepada santrinya.

  1. 18 Responses to “Hikmah dari Kisah Waliyullah”

  2. By arief on Jan 26, 2006 | Reply

    yah lumayan bagus

  3. By Syafie on Jun 29, 2006 | Reply

    Apakah kita sanggup meletakkan diri kita sehina-hinanya hamba Allah..di ludah di muka tetapi masih mampu tersenyum dan bersabar

  4. By ubaid on Jul 1, 2006 | Reply

    terima kasih atas nasehatnya bisa kirim nggak untuk mailing list di email saya

  5. By nurman on Jul 26, 2006 | Reply

    sososososo…sukghoooiii des nee:)

  6. By taufig on Jul 27, 2006 | Reply

    berat, kalo kita sebagai umat akhir jaman ini melakukan hal itu…..yg bisa kita lakukan mulailah belajar membersihkan hati pelan2, banyak sedekah, istighfar dan shollawat…baca ratib

  7. By muhaimin on Jul 29, 2006 | Reply

    bisa kirim artikel ke mailing list kami gak?terima kasih

  8. By muhammad khoiron on Aug 9, 2006 | Reply

    Cukup menyentuh, dan menggugah saya, terima kasih banyak, buah pikiran anda bermanfaat banyak bagi saya,
    bisakah saya menerima artikel lain ke email saya?
    terima kasih sekali lagi

  9. By anas on Sep 3, 2006 | Reply

    Mulia benar seorang murid bisa anut sama Guru

  10. By yusah on Sep 6, 2006 | Reply

    massya Allah…. jadi selama ini saya merasa lebih dari teman.. ternyata mungkin menjadi orang paling ujub ya… trims sudah mengingatkan…

  11. By zainal.arifin on Oct 4, 2006 | Reply

    anggaplah hal itu terjadi pada diri kita,sehingga kita bisa lebih berhati2 & sungguh2 dalam hal ibadah kepda Allah swt………….yaa Allah jadikanlah hidupku selalu ingin berIBADAH yang terbaik untuk-MU….sehingga ibadahku bisa sampai kepdMU………….yaa muqolibal quluub stabit qolbi ala diinik…….

  12. By bdasuhardi on Oct 27, 2006 | Reply

    Alhamdulillah,
    Semoga Allah memuliakan anda.
    Saya sangat berterimakasih atas tulisan anda.
    Bisakah saya mendapatkan yang lain?
    Salam untuk semuanya.

  13. By ananditha on Nov 22, 2006 | Reply

    Insya Allah.swt memberikan petunjuk yang hak bagi orang-orang yang berdoa

  14. By nabilah on Oct 21, 2007 | Reply

    Alhamdulillah,
    ruangan ini banyak memberi saya iktibar untuk saya te;adani…..

  15. By abdullah on Nov 17, 2007 | Reply

    Saudara, apakah zaman sekarang kita perlu melatih diri untuk memakai pakaian yang buruk2.Ini seolah-olah ingin mengkufuri nikmat Allah.Umat Islam sekarang perlu menunjukkan contoh terbaik agar agama Islam yang direhai Allah ini tidak dipandang hina dan lekeh.Bagaimanapun disebalik cerita yang saudara paparkan terkandung banyak pengajaran.Jazakallahu Khairan Kathira.

  16. By Nartono on Dec 8, 2007 | Reply

    Saat kita dihina,dicacimaki,direndahkan,saat itulah Allah sebenarnya sedang mengajarkan kesabaran dan kerendahan hati kita.Tapi kadang kita memang kalah dengan keegoan kita

  17. By aliridho on Feb 6, 2009 | Reply

    mhn ijin membuat link juga ternyata isinya saya senang sekali
    alhamdulillah saya punya banyak saudara yg mendukung zikir2

  18. By saiful on Feb 24, 2009 | Reply

    Alhamdulillah….
    ternyata di zaman akhir ini masih ada orang yang penduli kepada umat. Setidaknya apa yang Anda tulis ini dapat menjadi pengendali hati ini yang makin liar. Saya akan senang sekali jika bisa mendapatkan cerita hikmah ini dalam bentuk e-book.
    Jazakallah akhsanal jaza’

  19. By rahmat s on Mar 5, 2009 | Reply

    Assalamu’alaikum, Alhamdulillah semoga kita diberikan Taufik oleh Allah Ta’ala, silahkan kunjungi Radio muslim di http://radiomuslim.com semoga bermanfaat.

Post a Comment

Tentang Kami

Keluarga Muslim Delft adalah wadah kegiatan kemasyarakatan ummat muslim Indonesia di Delft yang bertujuan menggairahkan kegiatan-kegiatan tersebut dalam mengharapkan ridla Allah Subhanahuu Wata’ala.

Ingin Berlangganan?

 Subscribe in a reader
Cari :