KH. Abdul Wahid Hasyim, Berprestasi Besar pada Usia Muda (8-Tamat)
Bismilahirrahmanirrahim Walhamdulillah Wassholatu Wassalamu `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Washohbihie Waman Walaah amma ba’du…
Musibah di Cimindi
Tanggal 19 April 1953 merupakan hari berkabung. Waktu itu hari Sabtu tanggal 18 April, KH. Abdul Wahid Hasyim bermaksud pergi ke Sumedang untuk menghadiri rapat NU. Berkendaraan mobil Chevrolet miliknya, Abdul Wahid Hasyim ditemani seorang sopir dari harian Pemandangan, Argo Sutjipto, tata usaha majalah Gema Muslimin dan putera sulungnya, Abdurrahman Ad-Dakhil. Abdul Wahid Hasyim duduk di jok belakang bersama Argo Sutjipto.
Daerah di sekitar Cimahi dan Bandung waktu itu diguyur hujan dan
jalan menjadi licin. Pada waktu itu lalu lintas di jalan Cimindi,
sebuah daerah antara Cimahi-Bandung, cukup ramai. Sekitar pukul 13.00
ketika memasuki Cimindi, mobil yang ditumpangi Abdul Wahid Hasyim
selip dan sopirnya tidak bisa menguasai kendaraan. Di belakang
Chevrolet nahas itu banyak iringan-iringan mobil. Sedangkan dari arah
depan sebuah truk yang melaju kencang terpaksa berhenti begitu
melihat ada mobil zig-zag karena selip dari arah berlawanan. Karena
mobil Chevrolet itu melaju cukup kencang, bagian belakangnya
membentur badan truk dengan kerasnya. Ketika terjadi benturan, Abdul
Wahid Hasyim dan Argo Sutjipto terlempar ke bawah truk yang sudah
berhenti itu. Keduanya luka parah. KH. Abdul Wahid Hasyim terluka
bagian kening dan mata, serta pipi dan bagian lehernya. Sedangkan
sang sopir dan Abdurrahman tidak cedera sedikit pun. Mobilnya hanya
rusak bagian belakang dan masih berjalan seperti semula.
Lokasi terjadinya kecelakaan ini memang agak jauh dari kota. Karena
itu usaha pertolongan datang sangat terlambat. Baru pada pukul 16.00
datang mobil ambulans untuk mengangkut korban ke Rumah Sakit Boromeus
di Bandung. Sejak mengalami kecelakaan, kedua korban terus tidak
sadarkan diri. Pada pukul 10.30 hari Ahad, 19 April 1953, KH. Abdul
Wahid Hasyim dipanggil ke hadirat Allah SWT. dalam usia 39 tahun.
Beberapa jam kemudian, tepatnya pukul 18.00 Argo Sutjipto menyusul
menghadap Sang Khalik.
Musibah ini tentu mengejutkan masyarakat. Jenazahnya dibawa ke
Jakarta dan setelah disemayamkan sejenak, lalu diterbangkan ke
Surabaya. Selanjutnya dibawa ke Jombang untuk dimakamkan di Pesantren
Tebuireng. Banyak yang menyesalkan kyai berusia muda dan merupakan
tokoh nasional itu begitu cepat dipanggil menghadap Sang Khalik.
Tetapi, itulah kehendak Tuhan.
Jika pada umumnya kematangan prestasi dan karier seseorang baru
dimulai pada usia 40, KH. Wahid Hasyim justru telah merengkuhnya pada
usia di bawah itu. Orang menilai kematian itu teramat cepat
datangnya, secepat Wahid Hasyim meraih prestasi. Karena itu, melihat
kepemimpinan dan prestasi yang diraih Wahid Hasyim dalam usia
mudanya, sering muncul pengandaian dari masyarakat, “…seandainya
KH. Wahid Hasyim dikaruniai usia yang lebih panjang, tidak
mustahil…”
TAMAT
*Dari “KARISMA ULAMA, Kehidupan Ringkas 26 Tokoh NU”, Editor: Saifullah Ma’shum, Penerbit: Yayasan Saefuddin Zuhri dan Penerbit MIZAN
Sorry, comments for this entry are closed at this time.