KH. Abdul Wahid Hasyim, Berprestasi Besar pada Usia Muda (7)

Written on March 19, 2005 – 2:53 pm | by DHB Wicaksono |

Bismilahirrahmanirrahim Walhamdulillah Wassholatu Wassalamu `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Washohbihie Waman Walaah amma ba’du…

Tokoh Termuda

Karier Wahid Hasyim dalam pentas politik nasional terus melejit.
Dalam usianya yang masih muda, beberapa jabatan penting dia sandang,
baik di kepengurusan NU maupun Masyumi. Bahkan ketika Jepang
membentuk badan yang bertugas menyelidiki usaha-usaha persiapan
kemerdekaan atau dikenal BPUKI, Wahid Hasyim merupakan salah satu
anggota termuda setelah BPH. Bitoro, dari 62 orang yang ada. Waktu
itu Wahid Hasyim berusia 33 tahun, sementara Bintoro 27 tahun.
Sebagai tokoh muda, dia juga diangkat menjadi penasihat Panglima
Besar Jenderal Soedirman. Dia juga merupakan tokoh termuda dari
sembilan tokoh nasional yang menandatangani Piagam Djakarta, sebuah piagam yang melahirkan proklamasi dan konstitusi negara.

Di dalam kabinet pertama, dibentuk Presiden Sukarno pada September
1945, Abdul Wahid Hasyim ditunjuk menjadi Menteri Negara. Demikian
juga dalam Kabinet Sjahrir tahun 1946. Ketika KNIP dibentuk, Abdul
Wahid Hasyim menjadi salah seorang anggotanya mewakili Masyumi dan
meningkat menjadi anggota BPKNIP tahun 1946.

Setelah terjadi penyerahan kedaulatan dan berdirinya RIS, dalam
Kabinet Hatta tahun 1950 dia diangkat menjadi Menteri Agama. Jabatan
Menteri Agama terus dipercayakan kepadanya selama tiga kali kabinet,
yakni Kabinet Hatta, Natsir dan Kabinet Sukiman.

Pada 1 Mei 1952, dalam muktamarnya di Palembang NU memutuskan keluar dari Masyumi dan menjadi partai politik sendiri. Sesudah keluarnya NU dari Masyumi, KH. Wahid Hasyim menulis sepucuk surat kepada PB Masyumi yang menyatakan alasan betapa pentingnya Masyumi mengubah struktur organisasi menjadi sebuah badan federasi. Dengan struktur demikian, semua organisasi yang berdasarkan Islam dapat menjadi anggotanya dan dapat dipersatukan kembali potensi umat Islam dalam melakukan perjuangan. Seruan itu ternyata tidak ditanggapi pihak
Masyumi. Kemudian Wahid Hasyim menyampaikan gagasan pembentukan badan
federasi itu kepada Partai Sarikat Islam Indonesia dan Partai Perti
(Pergerakan Tarbiyah Islamiyah) dan ternyata disambut positif.

Dalam rapat badan persiapan, disetujui federasi itu dinamakan Liga
Muslimin Indonesia. Peresmiannya dilakukan di serambi Gedung Parlemen
Pejambon (kini Gedung Deplu) pada 30 Agustus 1952, bertepatan dengan
Hari Wukuf di Arafah pada musim haji tahun itu. Menurut anggaran
dasarnya, federasi ini dibentuk untuk mewujudkan masyatakat Islamiyah
yang sesuai dengan hukum Allah dan Sunnah Rasulullah. Untuk
mewujudkan tujuan itu, federasi ini berusaha mengatur rencana bersama
mengenai langkah- langkah besar bagi kepentingan umat Islam di
Indonesia dalam segala lapangan kehidupan.

Selama menjadi Menteri Agama, KH. Abdul Wahid Hasyim melihat tanda-
tanda munculnya sikap manja di kalangan umat Islam, suatu sikap yang
sangat tidak disuka olehnya. Umat Islam sering terlalu mengandalkan
support dari para pejabat yang beragama Islam, terutama Menteri
Agama. Sikap ini lambat laun dinilai Wahid Hasyim melahirkan
menurunnya semangat berusaha dan kurangnya rasa percaya diri. Merasa
punya menteri yang bisa diminta bantuan apa pun terutama bantuan
materi, dalam banyak hal umat Islam menjadi manja. Memang ini
dirasakan cukup dilematis. Jika kebutuhan umat Islam tidak dipenuhi,
akan menimbulkan perasaan tidak senang dari kalangan Islam. Apalagi
secara objektif kondisinya memang perlu dibantu. Tetapi bila setiap
kebutuhan terus-menerus dipenuhi, dikhawatirkan menimbulkan sikap
manja dan melemahnya semangat kemandirian.

Pada suatu waktu, KH. Abdul Wahid Hasyim mengeluhkan kondisi itu
kepada KH. Saifuddin Zuhri. “Apa saya tidak salah memberikan bantuan
keuangan kepada umat ini?” ujar Wahid Hasyim dengan nada bertanya.
Kenapa?

“Sejak dahulu umat Islam tidak pernah mendapat bantuan material atau moral dari Pemerintah Hindia Belanda. Umat memiliki kepercayaan pada diri sendiri yang demikian besar. Dengan kemampuan sendiri, dengan semangat gotong-royong, mereka mendirikan masjid, madrasah, pesantren dan bangunan untuk kepentingan agama lainnya. Tapi kini setelah merasakan bantuan Departemen Agama, mereka menjadi manja,” katanya.

“Kan sudah selayaknya Departemen Agama membantu umat Islam, umat yang serba terbelakang,” kata KH. Saifuddin Zuhri menimpali.

“Membantu memang harus, tetapi kalau menyebabkan manja?” tuturnya
setengah uring-uringan.

Tak mau kalah, Saifuddin Zuhri balik bertanya, “Lha, yang selama ini membantu siapa? Kan sampeyan sendiri Menteri Agama pertama yang
melakukan kebijaksanaan memberikan bantuan…..”

Thayyib, benar, memang saya akui. Sebab itu tadi saya menanyakan kepada ente, apa saya tidak salah memberikan bantuan keuangan kepada umat Islam. Pertanyaan saya itu seperti zelf-correctie, kritik diri,” ujarnya.

bersambung…

*Dari “KARISMA ULAMA, Kehidupan Ringkas 26 Tokoh NU”, Editor: Saifullah Ma’shum, Penerbit: Yayasan Saefuddin Zuhri dan Penerbit MIZAN

Post a Comment

Tentang Kami

Keluarga Muslim Delft adalah wadah kegiatan kemasyarakatan ummat muslim Indonesia di Delft yang bertujuan menggairahkan kegiatan-kegiatan tersebut dalam mengharapkan ridla Allah Subhanahuu Wata’ala.

Ingin Berlangganan?

 Subscribe in a reader
Cari :