KH. Abdul Wahid Hasyim, Berprestasi Besar pada Usia Muda (5)

Written on March 19, 2005 – 2:22 pm | by DHB Wicaksono |

Bismilahirrahmanirrahim Walhamdulillah Wassholatu Wassalamu `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Washohbihie Waman Walaah amma ba’du…

Pribadi Tawadhu’

Meskipun dikenal sebagai pemimpin nasional yang berpikiran maju, KH. Abdul Wahid Hasyim tetap memiliki sikap tawadhu (kepada para ulama, lebih-lebih kepada ayahandanya Hadhratusysyaikh Hasyim Asy’ari. Hal itu, antara lain bisa dilihat ketika melakukan percakapan sehari-hari dengan sang ayah. Kepada KH. Abdul Wahid Hasyim, Hadhratusysyaikh Hasyim Asy’ari biasa melakukan percakapan dengan bahasa Arab yang fasih. Tetapi KH. Abdul Wahid Hasyim selalu menjawab dengan bahasa Jawa halus (kromo inggil). KH. Abdul Wahid Hasyim kurang lancar bercakap-cakap dengan bahasa Arab? Jelas bukan. Penggunaan bahasa Jawa halus saat bercakap-cakap dengan ayahnya dilakukan KH. Abdul Wahid Hasyim untuk memperlihatkan sikap tawadhu (rendah hati) kepada orangtuanya. Apalagi jika percakapan itu disaksikan oleh orang ketiga atau orang keempat. KH. Abdul Wahid Hasyim ingin menghindari jangan sampai ada orang yang tersinggung atau tidak paham dengan yang dibicarakan.

Hidupnya sederhana, ilmunya mendalam dan cara berpikirnya moderat.
Karena itu menjadi mudah baginya untuk melakukan sesuatu dalam
kondisi apa pun. Tidak menjadi soal baginya kalau suatu waktu harus
mengenakan kain pantalon, atau jas berdasi tanpa mengenakan kopiah
hitam, sementara di kesempatan yang lain dia mesti mengenakan kain
sarung atau baju takwa. Ketika berada di Jombang, untuk menunjang
aktivitasnya sehari-hari KH. Wahid Hasyim memiliki kendaraan pribadi
mobil merk Chevrolet Cabriolet berwarna putih. Sedangkan di Jakarta
dia biasa menyetir sendiri mobil Fiatnya.

Abdul Wahid Hasyim bertubuh agak pendek, sedikit gemuk dengan kulit
sawo matang dan berhidung mancung. Lehernya sedikit pendek dan
dadanya bidang, dengan tahi lalat di dada, bahu kiri sebelah atas dan
salah satu ujung jarinya.

Pada usia 25 tahun, Abdul Wahid mempersunting gadis Solichah puteri KH. M. Bisri Syansuri, yang waktu itu berusia 15 tahun. Pasangan ini dikaruniai enam putera, yaitu Abdurrahman Ad-Dakhil (mantan Ketua Umum PBNU), Aisyah (salah seorang wakil ketua PP Muslimat NU), Salahudin Al-Ayyubi (insinyur lulusan ITB), Umar (dokter lulusan UI), Chadijah dan Hasyim.

Salah satu kebiasaan yang melekat pada diri KH. Abdul Wahid Hasyim
adalah kegemaran berkirim surat kepada kawan-kawannya. Berkirim surat
menjadi salah satu media silaturahim yang dipilih di kala yang
bersangkutan tidak banyak kesempatan untuk bersilaturahim secara
langsung. Surat-surat itu umumnya berisi pandangan politik, arah
perjuangan dan cita-citanya. Segalanya ditulis dengan bahasa yang
menarik, lancar dan tak lupa dibumbui humor segar.

Mendudukkan para santri dalam posisi sejajar, atau bahkan bila
mungkin lebih tinggi, dengan kelompok lain agaknya menjadi obsesi
yang tumbuh sejak usia muda. Dia tidak ingin melihat santri
berkedudukkan rendah dalam pergaulan masyarakat. Karena itu
sepulangnya dari menimba ilmu pengetahuan, dia berkiprah langsung
membina pondok pesantren asuhan ayahandanya.

Pertama-tama dia mencoba menerapkan model pendidikan klasikal dengan memadukan unsur ilmu agama dan ilmu-ilmu umum di pesantrennya.
Ternyata uji cobanya dinilai berhasil. Karena itu, pada tahun 1935
model pendidikan yang diujicobakan itu diterapkan secara besar-
besaran dengan mendirikan madrasah modern bernama Madrasah Nazamiyah.
Di madrasah ini diajarkan materi pelajaran yang sebelumnya tidak
pernah ada di pesantren. Dia membuka fan-fan pengetahuan umum yang
kala itu merupakan barang asing di dunia pesantren. Karena itu dia
dikenal sebagai perintis pendidikan klasikal dan pendidikan modern di
dunia pesantren.

“Biarlah saya tidur di mushalla ini saja,” kata KH. Abdul Wahid
Hasyim ketika melihat bahwa di atas kamar mandi ada mushalla. Waktu
itu kebetulan dia berkunjung ke rumah sahabatnya, KH. Saifuddin Zuhri
di Sokaraja, Banyumas.

“Kami telah menyiapkan kamar buat Gus Wahid,” kata tuan rumah
Saifuddin Zuhri.

“Tak apa. Mushalla berbentuk panggung seperti ini mempunyai sirkulasi udara yang baik. Biasanya tidak banyak nyamuk. Kalau toh ada
nyamuknya ya biar saja. Anggap saja kita bersedekah sedikit dengan
darah kita kepada nyamuk-nyamuk itu,” jawabnya.

Dia memang terkenal memiliki cita rasa humor yang tinggi. Kepada
siapa saja dia biasa melemparkan joke-joke segar, untuk mencairkan
suasana sehingga komunikasi bisa berjalan lancar dan akrab. Kepada
sopirnya hal yang sama juga berlaku.

“Wah ini ikan gurame, Rasyad!” serunya kepada sopirnya yang bernama
Rasyad. “Ente tahu, orang yang suka makan gurame otaknya akan
bertambah cerdas. Percaya apa tidak?” ujar KH. Abdul Wahid Hasyim.

“Saya percaya. Tentu saja menjadi cerdas karena orang selalu
berpikir, bagaimana mendapatkan uang agar bisa makan ikan gurame
setiap hari…,” jawab Rasyad setengah berseloroh. Serentak
meledaklah tawa mereka. Mereka setuju karena ikan gurame dikenal
lezat.

bersambung…

*Dari “KARISMA ULAMA, Kehidupan Ringkas 26 Tokoh NU”, Editor: Saifullah Ma’shum, Penerbit: Yayasan Saefuddin Zuhri dan Penerbit MIZAN

Post a Comment

Tentang Kami

Keluarga Muslim Delft adalah wadah kegiatan kemasyarakatan ummat muslim Indonesia di Delft yang bertujuan menggairahkan kegiatan-kegiatan tersebut dalam mengharapkan ridla Allah Subhanahuu Wata’ala.

Ingin Berlangganan?

 Subscribe in a reader
Cari :