KH. Abdul Wahid Hasyim, Berprestasi Besar pada Usia Muda (4)

Written on March 19, 2005 – 2:14 pm | by DHB Wicaksono |

Bismilahirrahmanirrahim Walhamdulillah Wassholatu Wassalamu `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Washohbihie Waman Walaah amma ba’du…

Geraknya Lambat

Selama empat tahun Wahid Hasyim menimbang-nimbang berbagai tawaran
yang diterima. Sesudah itu barulah pilihan dijatuhkan kepada
organisasi Nahdlatul Ulama. Tepatnya tahun 1938 dia menyatakan
menerima tawaran untuk aktif di NU. “NU saya pilih untuk
mengembangkan sayap dan kecakapan,” ujarnya. Dalam buku Mengapa
Memilih NU? Wahid Hasyim menjelaskan alasan dia memilih NU sebagai
tempat “berlabuh”.

Mula-mula dia menyadari bahwa tidak ada satu pun perhimpunan yang
seratus persen memuaskan. “Ibarat jodoh, yang sungguh-sungguh memuaskan kecantikannya, kecerdasannya, rumahnya, saudaranya,
kemenakannya dan lain-lainnya lagi, pasti tidak terdapat di dunia
ini,” ujarnya membuat tamsil. Karena itu menurut Abdul Wahid Hasyim,
harus dipilih perkumpulan yang paling ringan tingkat kekurangannya.
Untuk ini dia menggunakan tolok ukur tersendiri, yaitu pertama ukuran
keradikalan. Dari segi ini, Wahid Hasyim mengakui bahwa NU kurang
memenuhi keinginannya.

“Nahdlatul Ulama merupakan perhimpunan orang-orang tua yang geraknya lambat, tidak terasa dan tidak revolusioner,” tuturnya. Tetapi ada kenyataan lain yang membuat NU di mata Wahid Hasyim memiliki nilai lebih dibandingkan dengan perhimpunan lain, bahkan dari perhimpunan kaum muda sekalipun. Beberapa perhimpunan pemuda Islam yang ada, selama lebih satu dasawarsa mengembangkan sayapnya, baru memiliki cabang di 20 tempat dan itu pun tempatnya berdekatan. Sedangkan perkembangan NU di mata Wahid Hasyim demikian lain. Mesti ada sesuatu yang berbeda dengan NU. Hanya dalam tempo satu dasawarsa, NU telah berkembang mencapai 60% di berbagai daerah dan hampir merata di seluruh Indonesia.

Lalu Wahid Hasyim mempertanyakan sendiri tolok ukur yang pernah
dipergunakan sebagai kriteria untuk menentukan pilihan. Apa artinya
radikal dan revolusioner jika hasilnya hanya sebatas itu. Masak
selama sepuluh tahun hanya memiliki puluhan cabang yang berada di
satu-dua keresidenan saja. Radikalisme dan revolusioner memang
menimbulkan kesan gagah. “Tapi yang penting dalam hal ini bukanlah
kegagahan di dalam berjuang, melainkan hasil yang dicapai dalam
perjuangan itu sendiri,” kata Wahid Hasyim.

Ada lagi ukuran lain yang dijadikan Wahid Hasyim untuk menentukan
pilihannya, yaitu banyaknya kaum terpelajar yang tergabung di
dalamnya. Jika ukuran ini yang dipakai, jelas NU tidak masuk
hitungan. Untuk mencari akademisi di dalam NU, Abdul Wahid Hasyim
mentamsilkan orang dengan mencari penjual es pada pukul satu malam.
Tetapi Wahid Hasyim menanggalkan sendiri penggunaan ukuran “banyaknya
kaum terpelajar ini”. Menurut Wahid Hasyim, banyaknya kaum terpelajar
bukan menjadi jaminan suatu perhimpunan akan maju.

“Bukan hanya otak yang menyebabkan majunya perhimpunan atau partai, melainkan juga mentalitas,” ujarnya seraya menunjukkan sejumlah contoh. Banyak perhimpunan yang waktu itu dipenuhi kaum terpelajar, tetapi karena mentalitasnya tidak memadai, maka perhimpunan itu tidak maju-maju. Waktu dan tenaganya habis untuk mengatasi pergolakan yang terjadi di dalam. Dia menunjuk PKI salah satu contoh partai yang solid, padahal tidak memiliki banyak kaum terpelajar.

Wahid Hasyim juga berbeda pandangan dengan kebanyakan pemuda Islam
lain kala itu dalam melihat NU. Selama ini kalangan pemuda Islam
enggan memasuki organisasi NU karena dua alasan
:

Pertama, NU dinilai terlalu kuat menuntut anggotanya dalam urusan menjalankan kewajiban agama. Misalnya setiap anggota NU harus “beres” dalam melaksanakan shalat, shalat Jum’at, puasa atau ibadah lain. NU menerapkan ukuran yang berat kepada anggotanya dalam soal tersebut. Seandainya ada kehidupan prive (pribadi) anggota NU yang kurang sedap di mata kyai NU, yang bersangkutan akan mendapat peringatan keras. Hal ini menyebabkan orang luar sering memandang NU sebagai organisasi yang menakutkan; dan

Kedua, adalah berkenan dengan kedudukan ulama di dalam NU yang dinilai memonopoli perhimpunan. Sedangkan para ulama sendiri selalu menyandarkan pemikiran, perkataan dan perbuatannya kepada para ulama terdahulu melalui kitab-kitab karyanya. Menurut anggapan sebagian pemuda Islam waktu itu, kemerdekaan berpikir dan bergerak di dalam perhimpunan NU sudah tentu akan sangat terhambat oleh pandangan para ulama yang dipandang kolot seperti itu.

Menghadapi pandangan seperti itu, Wahid Hasyim semakin berketetapan
hati untuk masuk NU. Menurut Wahid Hasyim, jika orang mau bersungguh-
sungguh menyelidiki NU akan ditemui kenyataan bahwa kedudukan ulama
di dalam NU tidak lebih dari anggota biasa. Ulama tidak memonopoli
perhimpunan. Kedudukan ulama di dalam tubuh NU digambarkan oleh Wahid
Hasyim sebagai penjaga ajaran Islam dari kemungkinan dilanggar oleh
anggotanya. Jika ajaran agama Islam dilanggar oleh penganutnya
sendiri, siapa yang akan bersedia memelihara dan menjaganya, kalau
bukan ulama
?

Wahid Hasyim juga tidak melihat bahwa kehadiran ulama NU sebagai
“penjaga” ajaran Islam menyebabkan ajaran Islam menjadi statis atau
jumud. Para ulama dinilai bisa mengakselerasi dan menyesuaikan
pemikiran keagamaan secara tepat terhadap perkembangan keadaan,
sejauh hal itu tidak bertentangan dengan pokok-pokok ajaran Islam.

Selama empat tahun Wahid Hasyim mengembangkan pemikiran kritisnya
terhadap eksistensi berbagai perhimpunan atau partai yang ada, baik
yang berdasarkan Islam maupun kebangsaan. Setelah itu dia pun memilih
NU, dengan keyakinan yang kuat bahwa NU bisa lebih memberi banyak
kemungkinan bagi kebangkitan umat Islam di Indonesia.

“Faktor-faktor di dalam yang dahulu saya anggap sebagai rintangan
bagi kemajuan malah sebaliknya, justru menjadi faktor yang
mempercepat kemajuan,” katanya beragumentasi.

Keterlibatan Wahid Hasyim di NU dirasakan menambah kekuatan
tersendiri bagi perkumpulan ini. Dia memulai keterlibatannya dari
bawah sekali, yaitu menjadi penulis NU Ranting Cukir, sebuah struktur
organisasi di NU paling bawah. Tidak lama sesudah itu dia sudah
dipercaya menjadi ketua NU Cabang Jombang. Kariernya di organisasi
melaju cepat, selang dua tahun yaitu tahun 1940, HBNO mengesahkan
Departeman Ma’arif (pendidikan) sebagai departemen yang pengurusnya
berdiri sendiri dan memiliki anggaran rumah tangga sendiri. KH. Abdul
Wahid ditunjuk sebagai penanggung jawab proses pembentukan Ma’arif
yang berdiri sendiri itu. Sekaligus KH. Abdul Wahid Hasyim dipercaya
untuk menjadi ketuanya. Inilah awal keterlibatan Abdul Wahid Hasyim
dalam kepengurusan Nahdlatul Ulama di tingkat pusat (PBNU).

bersambung…

*Dari “KARISMA ULAMA, Kehidupan Ringkas 26 Tokoh NU”, Editor: Saifullah Ma’shum, Penerbit: Yayasan Saefuddin Zuhri dan Penerbit MIZAN

Post a Comment

Tentang Kami

Keluarga Muslim Delft adalah wadah kegiatan kemasyarakatan ummat muslim Indonesia di Delft yang bertujuan menggairahkan kegiatan-kegiatan tersebut dalam mengharapkan ridla Allah Subhanahuu Wata’ala.

Ingin Berlangganan?

 Subscribe in a reader
Cari :