KH. Abdul Wahid Hasyim, Berprestasi Besar pada Usia Muda (3)

Written on March 19, 2005 – 2:06 pm | by DHB Wicaksono |

Bismilahirrahmanirrahim Walhamdulillah Wassholatu Wassalamu `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Washohbihie Waman Walaah amma ba’du…

Mondok Cukup dengan Hitungan Hari

KH. Hasyim Asy’ari adalah seorang kyai terkenal yang sangat disiplin dalam memimpin. Kepemimpinannya sangat efektif dan unggul sehingga sebagian besar orang yang dipimpinnya menjadi “orang” di kemudian hari. Hampir semua kyai kenamaan pengasuh pesantren pada dekade ‘40-an sampai ‘70-an pernah berguru pada KH. Hasyim Asy’ari. Dia juga berjiwa demokratis. Kedisiplinan dalam memimpin dan sikap demokratisnya tampak menonjol dalam kehidupan keluarga, terutama dalam mendidik putera-puterinya. Sebagai ulama besar beliau mengharapkan putera-puterinya bisa mengikuti jejak dan berkembang menjadi generasi yang berpengetahuan luas, khususnya dalam ilmu agama. Untuk itulah suasana kehidupan keluarga diciptakan sedemikian rupa sehingga mendukung proses pembelajaran seluruh anggota
keluarganya. Sejak dini putera-puterinya diperkenalkan dengan
pengetahuan agama Islam dan dibebaskan untuk mempelajari ilmu
pengetahuan umum. Tidak soal baginya bagaimana mendapatkan buku bahan
bacaan bagi putera-puterinya sebab secara ekonomi dia tergolong mampu
untuk ukuran saat itu. Dalam suasana seperti itulah Abdul Wahid
tumbuh dan berkembang.

Abdul Wahid berotak sangat cerdas. Pada usia kanak-kanak dia sudah
pandai membaca al-Qur’an, dan malah sudah khatam al-Qur’an ketika
masih berusia tujuh tahun. Selain mendapat bimbingan langsung dari
ayahnya, Abdul Wahid belajar di bangku Madrasah Salafiyah di
Pesantren Tebuireng. Pada usia 12 tahun, setamat dari madrasah dia
sudah bisa membantu ayahnya mengajar adik-adik dan anak-anak
seusianya.

Sebagai anak tokoh, Abdul Wahid tidak pernah mengenyam pendidikan di bangku sekolah Pemerintah Hindia Belanda. Dia lebih banyak belajar
secara autodidak. Selain belajar di madrasah, dia banyak mempelajari
sendiri kitab-kitab dan buku berbahasa Arab. Abdul Wahid mendalami
syair-syair berbahasa Arab dan hafal di luar kepala, selain menguasai
maknanya dengan baik. Pada usia 13 tahun dia dikirim ke Pondok
Siwalan, Panji, sebuah pesantren tua di Sidoarjo. Ternyata di sana
dia hanya bertahan sebulan. Dari Siwalan dia pindah ke Pondok
Pesantren Lirboyo, Kediri. Lagi-lagi dia di pesantren ini mondok
dalam waktu yang singkat, beberapa hari saja. Dengan berpindah-pindah
pondok dan nyantri hanya dalam hitungan hari itu, seolah-olah yang diperlukan oleh Abdul Wahid adalah keberkatan dari sang guru, bukan
ilmunya itu sendiri. Soal ilmu, demikian mungkin dia berpikir, bisa
dipelajari di mana saja dan dengan cara bagaimana saja. Tapi soal
memperoleh berkat soal kiai? Inilah yang agaknya menjadi pertimbangan
utama dari Abdul Wahid ketika itu.

Sepulang dari Lirboyo, Abdul Wahid tidak meneruskan belajar di
pesantren lain, tetapi memilih tinggal di rumah. Oleh ayahnya pilihan
tinggal di rumah dibiarkan saja, toh Abdul Wahid bisa menentukan
sendiri bagaimana harus belajar. Benar juga, selama berada di rumah
semangat belajarnya tidak padam, terutama belajar secara autodidak.
Meskipun tidak sekolah di lembaga pendidikan umum milik Pemerintah
Hindia Belanda, pada usia 15 tahun dia sudah mengenal huruf Latin dan
menguasai bahasa Inggris dan Belanda. Kedua bahasa asing itu
dipelajari dengan membaca majalah yang diperoleh dari dalam negeri
atau kiriman dari luar negeri.

Pada tahun 1932 ketika menginjak usia 18 tahun, dia dikirimkan ke
Mekkah, disamping untuk menunaikan rukun Islam kelima juga untuk
memperdalam berbagai cabang ilmu agama. Kepergiannya ke Mekkah
ditemani oleh saudara sepupunya, Muchammad Ilyas (kelak menjadi
Menteri Agama). Muchammad Ilyas memiliki jasa yang besar dalam
membimbing Abdul Wahid sehingga tumbuh menjadi remaja yang cerdas.
Muchammad Ilyas dikenal fasih dalam bahasa Arab, mengajari Abdul
Wahid dalam bahasa ini. Di tanah suci dia belajar selama dua tahun.

Jarang ada orang yang memasuki suatu organisasi atau perhimpunan atas dasar kesadaran kritis. Pada umumnya orang aktif dalam sebuah
organisasi atas dasar tradisi -mengikuti jejak kakek, ayah atau
keluarga lain- karena ikut-ikutan atau karena semangat primordial.
Tidak terkecuali bagi kebanyakan warga NU. Sudah lazim orang ber-NU
karena keturunan: ayahnya aktif di NU, maka secara otomatis pula
anaknya masuk dan menjadi aktivis NU. Kelaziman seperti itu agaknya
tidak berlaku bagi Abdul Wahid Hasyim. Proses ke-NU-an Wahid Hasyim
berlangsung dalam waktu cukup lama, setelah melakukan perenungan
mendalam. Dia menggunakan kesadaran kritis untuk menentuk pilihan
organisasi mana yang akan dimasuki.

Waktu itu April 1934. Sepulang dari mukim di Mekkah, banyak
permintaan dari kawan-kawannya agar Wahid Hasyim aktif di perhimpunan
atau organisasi yang dipimpinnya. Tawaran juga datang dari Nahdlatul
Ulama. Pada tahun-tahun itu di tanah air banyak berkembang
perkumpulan atau organisasi pergerakan. Baik yang bercorak keagamaan
maupun nasionalis. Setiap perkumpulan berusaha memperkuat basis
organisasinya, dengan merekrut sebanyak mungkin anggota dari tokoh-
tokoh berpengaruh. Wajar saja jika kedatangan Wahid Hasyim ke tanah
air disambut penuh antusias para pemimpin perhimpunan dan diajak
bergabung dalam perhimpunannya. Ternyata tak satu pun tawaran itu
yang diterima, termasuk tawaran dari NU.

Apa yang menjadi pergulatan pemikiran Abdul Wahid sehingga dia tidak secara cepat menentukan pilihan untuk bergabung di dalam salah satu perkumpulan? Waktu itu memang ada dua alternatif di benak Wahid
Hasyim. Kemungkinan pertama dia menerima tawaran dan masuk ke dalam
salah satu perkumpulan atau partai yang ada. Dan kemungkinan kedua,
mendirikan perhimpunan atau partai sendiri. Di mata Wahid Hasyim,
perhimpunan atau partai yang berkembang waktu itu tidak memuaskan.
Itulah yang menyebkan dia agak ragu kalau harus masuk dan aktif di
partai. Ada saja kekurangan yang melekat pada setiap perhimpunan.
Menurut penilaian Wahid Hasyim, Partai A kurang radikal, Partai B
kurang berpengaruh, Partai C kurang memiliki kaum terpelajar dan
Partai D pimpinannya dinilai tidak jujur.

“Di mata saya, ada seribu satu macam kekurangan yang ada pada setiap partai,” tegas Wahid Hasyim ketika berceramah depan pemuda yang
tergabung dalam organisasi Gerakan Pendidikan Politik Muslimin
Indonesia.

bersambung…

*Dari “KARISMA ULAMA, Kehidupan Ringkas 26 Tokoh NU”, Editor: Saifullah Ma’shum, Penerbit: Yayasan Saefuddin Zuhri dan Penerbit MIZAN

Post a Comment

Tentang Kami

Keluarga Muslim Delft adalah wadah kegiatan kemasyarakatan ummat muslim Indonesia di Delft yang bertujuan menggairahkan kegiatan-kegiatan tersebut dalam mengharapkan ridla Allah Subhanahuu Wata’ala.

Ingin Berlangganan?

 Subscribe in a reader
Cari :