Habib Ali Kwitang yang Mempersaudarakan Para Kyai

Written on March 29, 2005 – 1:32 am | by DHB Wicaksono |

Bismilahirrahmanirrahim Walhamdulillah Wassholatu Wassalamu `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Washohbihie Waman Walaah amma ba’du…

Sebelum Habib Ali bin Abdurahman Alhabsji meninggal dunia pada 1968, di majelisnya di Kwitang, ia meminta tiga orang kyai kondang dari Jakarta untuk maju ke hadapannya. Ketiga kyai itu, masing-masing KH Abdullah Syafei, KH Tohir Rohili, dan KH Fatullah Harun kemudian oleh Habib Ali dipersaudarakan dengan puteranya, Habib Muhammad. Dalam peristiwa yang disaksikan oleh ribuan jamaah, Habib Ali mengharapkan agar keempat orang yang telah dipersaudarakan itu dapat terus mengumandangkan dakwah Islam.

Apa yang diharapkan oleh habib yang meninggal dalam usia 102 tahun setelah menjalankan dakwah lebih dari 80 tahun, akhirnya menjadi kenyataan. Habib Muhammad meneruskan ayahnya memimpin majelis taklim Kwitang selama 26 tahun. KH Abdullah Syafei, sejak 1971 hingga wafatnya pada 1985 memimpin majelis taklim Assyafiiyah, dan KH Tohir Rohili hingga kini memimpin majelis taklim Attahiriyah. Sedangkan KH Fatullah Harun kemudian menjadi ulama terkenal di negeri jiran, Malaysia. Mereka, kemudian berhasil mendirikan berbagai perguruan Islam.

Tidak heran, jika di ketiga majelis taklim di Jakarta ini, kitab yang menjadi rujukannya antara lain an-Nasaih ad-Diniyyat karangan Habib Abdullah Alhadad, seorang sufi terkenal pencipta Ratib Hadad. Kitab ini yang juga dibawakan oleh almarhum Habib Ali. ”Meskipun kitab kuning ini telah berusia hampir 300 tahun, tapi masalah-masalah yang diangkat masih relevan,” kata KH Abdul Rasyid Abdullah Syafei.

Bukan hanya itu saja, persaudaraan antara putera KH Abdullah Syafei dan putera Habib Muhammad ini juga berlangsung akrab hingga saat ini.

”Pada peringatan Maulid yang lalu di Kwitang, saya diminta untuk berpidato oleh Habib Abdurhman,” kata Abdul Rasyid.

Untuk mengenang habib Ali, pada tiap pembukaan di tiga majelis taklim selalu dimulai dengan pembacaaan Fatihah buat almarhum. ”Orang-orang Betawi sendiri baru mengadakan majelis-majelis taklim setelah habib Ali meninggal. Sebelumnya tidak ada yang berani,” kenang Kyai Abdul Rasyid.

Mohammad Asad, 91, penulis lebih dari 20 buku yang terbit di Timur
Tengah yang puluhan tahun mengenal Habib Ali menilai, bahwa majelis taklimnya dapat bertahan selama lebih dari satu abad karena inti ajaran Islam yang disuguhkannya berlandaskan tauhid, kemurnian iman, solidaritas sosial, serta akhlakul karimah.

Beliau, kata pria sepuh ini, juga mengajarkan latihan kebersihan jiwa, tasauf mu’tabarah dan dialog antara makhluk dengan al-Khalik serta antara sesama mahluk. Habib Ali, tidak pernah menglajarkan ideologi kebencian, hasad, dengki, ghibah, fitnah dan namimah. Sebaliknya, Habib Ali mengembangkan tradisi kakek-kakeknya dari keluarga ahlul bait yang intinya menjunjung tinggi nilai kemanusian, menghormati hak-hak setiap manusia tanpa membedakan manusia atas latarbelakang status sosial mereka.

Asad yang selalu mengikuti pengajian-pengajian Habib Ali selama puluhan tahun menilai bahwa Habib ini tidak mempunyai musuh, kecuali kejahatan penjajah, kebodohan, kemiskinan, keterbelakangan dan kemunduran.

Sedangkan menurut putera KH Abdullah Syafei, banyaknya para kyai
khususnya di Jakarta yang menjadi murid Habib Ali karena ia mendirikan Madrasah Unwanul Falah di Kwitang.

Menurut Habib Abdurahman, kini ia berupaya untuk membuka kembali
madrasah yang telah ditutup saat revolusi fisik dahulu. ”Tanah yang dulunya jadi lahan tempat madrasah yang didirikan kakek saya sudah dibebaskan, tinggal membangunnya kembali,” kata Abdurahman.

(disadur dari tulisan Alwi Shahab di harian Republika edisi 30 Oktober 1998)

Lihat pula tulisan lain: “Majelis Taklim Habib Kwitang”

  1. 8 Responses to “Habib Ali Kwitang yang Mempersaudarakan Para Kyai”

  2. By rahmat on May 30, 2006 | Reply

    mohon keterangan kiyai lain

  3. By syarief adib on Jul 26, 2006 | Reply

    Alangkah indahnya untuk mengenang almarhum Habib Ali, memuat cerita tentang karomah beliau karena hal tersebut akan menyentuh jiwa yang sedang untuk lebih yakon akan yang di-Imani. terima kasih

    regards
    syarief

  4. By taufig on Sep 4, 2006 | Reply

    pokoknya hidup para habaib deh…bib ana minta berkahnya aja

  5. By satria on Sep 23, 2006 | Reply

    i love you
    i love Allah
    i love Rosul
    i love habib

  6. By Ahmad Baihaqi on Dec 20, 2006 | Reply

    Alhamdulillah…. sejuk terasa kala mengenang para waliyulloh… yg sudah membawa kita hingga pada Nuruddin dan tentramkan bathin ini kala rasakan rindu pada para Habibulloh… Terlebih Rindu akan sapaan damai kala kita kumandangkan Sholawat ke atas jujungan Baginda Rosululloh SAW. saran saya, tlg ditampilkan foto para Habaib.. Syukron Katsiir…

  7. By maman on May 29, 2007 | Reply

    Sudah kagak ade cerite lagi, kalu mau slamet ikutin aje ajarannye Habib Ali, Insya Allah slamet. Jangan dengerin tuh ustadz-ustadz modern yang suka ngatain ame orang yang cinta ame pringatin Maulid Nabi kite. Selame masih idup, kite mewajibkan diri kite sendiri untuk hormat ame ulame dan habib-habib yang ahlaknye mulia. Kagak bisa ditawar-tawar. Kalu bukan orang yang mulia yang kite tiru, siape lagi panutan kite untuk nyembah Gusti Allah?

  8. By Ramdhan Chairulloh on Nov 16, 2007 | Reply

    benr banget, sobat tw gak pertama kali ane kenal me yang namanya majlis taklim n habaib yakni di kwitang. subhanaLLah nikmat banget di majelis habib ali al-habsyi dengan syair-syair maulidnye yang dibacanye binkin hati ngerrasa lebih cinte ma allah n kekasih Rasululloh SAW. makanya cintailah allah dan rasulmu. al-mar’u ma’a man ahabbah ( seseorang akan berkumpul nanti di akhirat bersama orang yang dicintainya didunia sewaktu ia masih hidup )

  9. By warmorning on Sep 23, 2008 | Reply

    alhamdulillah, saya sempet ziarah kesana :)

Post a Comment

Tentang Kami

Keluarga Muslim Delft adalah wadah kegiatan kemasyarakatan ummat muslim Indonesia di Delft yang bertujuan menggairahkan kegiatan-kegiatan tersebut dalam mengharapkan ridla Allah Subhanahuu Wata’ala.

Ingin Berlangganan?

 Subscribe in a reader
Cari :