Kisah Cintanya, Kisah Cintaku, Kisah Cintamu? [Edisi Revisi]

Written on July 20, 2006 – 1:07 am | by DHB Wicaksono |

A’uudzu billahi minasy syaithanir rajiim
Bismillahir Rahmanir Rahiim

Kira-kira dua setengah tahun lebih yang lalu, puisi di bawah, saya hadiahkan pada seorang teman yang ketika itu hendak melangsungkan pernikahannya. Kebetulan karena pernikahan teman tersebut berlangsung ribuan kilometer dari tempat saya berada sekarang, hanya beberapa bait ini sajalah yang bisa saya persembahkan untuk melukiskan keagungan cinta yang hendak mereka ukir lewat pintu gerbang kehidupan yang bernama ‘nikah’. Dan kini, saya persembahkan kembali puisi tersebut untuk dua sahabat saya yang dalam liburan musim panas 2006 ini, telah dan akan melangsungkan pernikahan mereka dengan kekasih idaman mereka masing-masing.

Tentu saja pernikahan yang melembagakan cinta suci di antara dua makhluk, laki-laki dan perempuan, bukan satu-satunya manifestasi dari kata indah ‘cinta’ itu. Semasa bayi dan anak-anak, kita belajar arti cinta itu lewat kasih sayang tak terbatas ibunda dan ayahanda kita. Dan karenanya, kita belajar membalas kasih sayang mereka dengan cinta dan hormat kita yang sama sekali tak berbanding dengan cinta mereka. “Kasih anak sepanjang galah, kasih ibu sepanjang jalan; Kasih anak sepanjang jalan, kasih ibu sepanjang masa”, begitu kata peribahasa kita.

Mereka yang telah mengarungi bahtera pernikahan dan dikaruniai oleh-Nya keturunan, pun mesti memanifestasikan cinta sejati mereka pada anak-anak mereka, apa pun balasan yang akan mereka terima dari anak mereka.

Demikian pula, antara seorang kakak dengan adiknya, saudara seiman dengan saudara seiman lainnya, antara dua orang sahabat kental, antara laki-laki dan perempuan, antara seorang pencari dengan Guru Spiritual pembimbingnya, antara ummat dengan Rasul, antara hamba dengan Tuhannya. Semua membutuhkan cinta untuk merekatkan hubungan-hubungan itu, untuk membuat hubungan itu menjadi sesuatu yang indah. Bagaikan tanah liat yang tidak dapat dibentuk tanpa air yang cukup, manusia yang dibuat dari tanah membutuhkan cinta sebagai air kehidupannya.

Kedudukan cinta yang demikian tinggi dalam kehidupan kita sebagai manusia itu pula, yang kemudian menjadikan salah satu gelar kehormatan tertinggi yang dimiliki Nabi kita Muhammad sall-Allahu ‘alaihi wasallam yang tidak dimiliki Nabi-nabi lainnya adalah Habibullah, Sang Kekasih Allah. Karena cinta Allah pada Muhammad sall-allahu ‘alaihi wasallam-lah, seluruh makhluq yang wujud di alam ini, Allah Ta’ala ciptakan. Dan seluruh makhluq berenang dalam samudera Cinta Allah pada kekasih-Nya ini.

Manifestasi cinta bisa berbeda-beda, sekalipun semuanya akan kembali kepada Sang Sumber Cinta dan Kasih Sayang, Ar-Rahman Ar-Rahiim. Sekalipun demikian, satu hal yang sama pada berbagai manifestasi cinta tersebut, adalah pengorbanan. Cinta membutuhkan pengorbanan, dan pengorbanan pun tak bisa dilakukan tanpa cinta yang tulus dan suci. Pada contoh ekstrim, kita dengar Ibrahim yang mengorbankan penyejuk mata-nya Isma’il, demi cintanya pada Allah; dan Isma’il yang mengorbankan dirinya, juga karena kecintaannya pada Allah.

Pada kehidupan manusia awam macam kita, seringkali manisnya cinta tidak kita rasakan ketika sang kekasih melayani kita dengan kesetiaannya, melainkan justru ketika hati kita ‘patah’ oleh kekurangan yang ada pada dirinya. Atau pada kondisi ekstrim, ketika karena satu dan lain hal kita harus berpisah dengan ia yang kita cintai, baik karena jarak, maupun karena ia tak ditakdirkan bersanding dengan kita. “Cinta tak harus memiliki”, demikian kata sang penyanyi Ebiet G. Ade atau Novia Kolopaking.

Dan ketika ‘cangkir’ nafsu kita kosong akan harapan cinta semu dan duniawi, anggur cinta sejati dari samudera cinta-Nya yang tak berbatas, akan mengisi ‘cangkir’ kalbu kita yang seluas langit dan bumi “wa jannatin ‘ardhuhas samawatu wal ardhu” [QS 3:133].

Ya…
Jannah itu tidak harus kita tunggu setelah kita mati untuk mendapatkannya. Jannah itu telah disiapkan oleh-Nya bagi kita masing-masing bahkan ketika kita masih hidup di alam fana ini.

Hanya…
siap, mampu, dan maukah kita mematahkan ‘cangkir’ nafsu itu?

Aah. Cinta memang gila!

MENIT PERTAMA KUDENGAR KISAH CINTAKU

Menit Pertama Kudengar Kisah Cinta Pertamaku,
Kumulai cari dirimu,
tanpa tahu betapa buta diriku,
Pecinta dan yang dicinta tidaklah akhirnya bertemu di sesuatu,
Mereka saling wujud dalam satu sama lain sejak dulu.

**

Di luar konsep amal buruk dan amal mulia,
ada suatu padang - ‘Kan kujumpai dirimu di sana -
ketika jiwa terbaring di atas rerumputan itu,
ide, bahasa, bahkan kata-kata “masing-masing” tak lagi
masuk akal

**

“Tak seorang pun cukup menderita,” ia berkata.
“Jadilah seseorang yang menderita segala sesuatunya
dan datanglah padaku tanpa apa-apa kecuali mangkuk ini
yang ke dalamnya ‘kan kutuangkan air-ku.”

**

Aku berdiri di bibir kegilaan,
Aku datang ke suatu pintu, kuketuk, dan pintu itu
terbuka…
Aku berdiri di dalamnya.

**

Percayalah padaku
Dulu aku tidak selalu seperti ini
kehilangan akal sehatku
atau nampak gila

seperti dirimu
aku dulu juga pandai
di hari-hariku…

ketika aku belum diburu
oleh hal ini
cinta yang selalu bertambah

- Mawlana Rumi

  1. 2 Responses to “Kisah Cintanya, Kisah Cintaku, Kisah Cintamu? [Edisi Revisi]”

  2. By Riva Atul Mahmudah on Jul 24, 2006 | Reply

    Assallamualaikum,
    Cinta yang hadir sebelum menikah dan terwujud hanya dapat merusak segala asa dalam melangsungkan segala tanggung jawab yang telah diemban, walau cinta itu tulus kalau setiap insan tdk mampu mengendalikan atau bahkan mengurangi sedikit saja cinta itu dapat berubah ….
    Menjadi Cinta yg merugikan saja???
    Sebenarnya Cinta yang tulus hanya akan muncul setelah pernikahan saja…

    Pacaran apalagi, hanya merusak hubungan saja, karena dlm pacaran kemunafikkan yang bnyak dilakukan, semua akan menutupi keurukkan semuanya tidak ada yang terbuka!!!!

    Terima kasih…
    saya berharap diberi kejelasan tentang Cinta tulus itu apa? dan kejelasan Pacaran?
    Wassallamualaikum

  3. By Taufan on May 2, 2007 | Reply

    dalam matsnawi, Maula Rummi, dengan cerdas memahami Cinta sebagai cahaya rahman-Nya yang mampu menghidupi alamnya, dengan daya evolusi yang menurut Prof Kertanegara melebihi evolusi Darwin, sebab lantunan cinta Rumi melampaui kaidah alam yang serba materialistis, Rumi, menjelaskannya dengan dasyat dan penuh energik: bahwa, kehidupan dengan cinta dimulai dari benda mati. bukan tanpa sebab, teori Abiogenesis, kepunyaan Ural membenarkan pernyataan evolusi Rumi, bahwa apabila unsur-unsur yang terbilang benda mati akan bereaksi satu sama lain membentuk As amino (cikal bakal kehidupan), yang kemudian akan berevolusi menjadi protoflasma, sebagai dasar dari lahirnya struktur DNA pada mahluk hidup.
    Dus, Cinta tak bisa dipahami melulu dalam skala romantisme semu, cinta adalah cahaya rahman Tuhan yang membimbing manusia kepada kreativitas mencipta… di dunia, “mencipta generasi inovatif” sebagai insan kamil,
    hu Allah hu alam bisowab

    Taufan
    Forum Sufisme Kontemporer
    08886204346
    kerandazaman@yahoo.com

Post a Comment

Tentang Kami

Keluarga Muslim Delft adalah wadah kegiatan kemasyarakatan ummat muslim Indonesia di Delft yang bertujuan menggairahkan kegiatan-kegiatan tersebut dalam mengharapkan ridla Allah Subhanahuu Wata’ala.

Ingin Berlangganan?

 Subscribe in a reader
Cari :