Renungan Delft-Bandung
Kursi rotan yang di ekspor ke belanda adalah kursi rotan yang sudah dipilih kualitasnya. Kalaupun ada, hanya ada sedikit cacat yang mungkin kita temui. Ketika kita berniat membeli kursi rotan, kita tak perlu memilah kursi rotan kita karena takut mendapat rotan kualitas rendah………… Kalimat-kalimat tadi adalah analogi saya yang menggambarkan teman-teman yang dikirim ke Belanda (baca Delft). Rasanya ketika dulu di Delft saya tak harus memilih dan memilah teman (muslim) Indonesia. Semua “Inlander” yang ada adalah teman saya.
Tetapi……………….
sulit rasanya menerapkan prinsip berteman di NL dengan di Bandung sini. Setidaknya dari pengalaman beberapa bulan terakhir, saya mendapat kesan bahwa saya harus hati-hati dalam berteman. Seperti kursi rotan tadi, semua bisa tampak seperti rotan padahal ada rotan muda atau bahkan ada bagian yang terbuat dari bambu.
Kalau di Delft kebanyakan orang ber-husnudzon (punten bilih lepat nyerat) di Bandung sini masih banyak orang ber-suudzon. Kalo di Delft kebanyakan orang saling menghargai, di Bandung sini rasanya sulit bagi banyak orang untuk bertoleransi, saling menolongpun jadi kejadian yang langka. Kalo sudah begini, suasana Delft kerap saya rindukan…………………….. Bener kata bang Reza yang namanya rezeki tak harus fulus……………
Tetapi ada juga enaknya berada di keragaman…………. Misalnya di masa kampanye ini ada 24 pilihan; mulai hijau, merah, putih, kuning, hitam dan variasinya. Walau kampanye tak banyak merubah warna favorit, warna-warna itu jelas penampakanya. Mungkin kawanku di delft sana tak banyak dapat melihat pilihan-pilihan itu………….Tetapi, walau tak banyak warna-warna kampanye, di Delft sana bunga-bunga mulai mekar.
Untuk seorang kawan yang berada dalam suasana kampanye…………