Konsep Rejeki; Antara Bandung dan Delft
Minggu lalu saya harus berkunjung ke sebuah instansi di sebuah kota untuk bertemu beberapa kawan. Disana kami harus berembuk merencanakan sebuah proposal penelitian baru. Saatnya saya harus kembali ke Bandung tiba tiba salah seorang kawan saya berkata, “P. Agus tolong ke kantor TU dulu”������.. (TU = Tata Usaha lho bukan Technische Universiteit). Dan dapatlah saya bekal untuk pulang ke Bandung.
Bagi para peneliti di negri ini, menyusun proposal bak seorang investor menanam modal. Jadi dalam fasa ini belum ada honor atau imbalan lainnya. Tetapi memang Allah Maha Adil, kedatangan dan waktu saya, Alhamdulillah dihargai juga secara materi.
Itu adalah untuk kesekian kalinya saya mendapatkan sesuatu yang tidak saya duga sebelumnya. Bukan kuantitas yang mau saya ungkap, tetapi “konsep rezeki”, begitulah istilah saya, yang ingin saya angkat. Konsep rezeki kerap jarang kita rasakan di kota Delft. Yang saya maksud adalah: euro demi euro yang kita peroleh kerap bisa kita duga kedatangannya sebulan atau bahkan setahun sebelumnya.
Tentu saja saya tidak mengatakan tak ada konsep rezeki di Delft. Di musim menjelang musim panas bertebaran lah rezeki bagi para bujanger dan kaum penggemar kambing. Undangan makan dan BBQ dimana-mana��..Tetapi lagi-lagi �������..hal ini sudah bisa kita duga kedatangannya setahun sebelumnya.
Dalam konteks konsep rezeki, kuantitas juga jadi faktor pembeda antara Delft dan Bandung . Uang euro satu sen yang biasa menjadi beban sehingga sering kita tumpuk di gelas, adalah rezeki berharga bagi para pengemis, pengamen dan polisi cepek di perempatan jalan di kota Bandung�����
Untuk seorang kawan yang kerinduan pada bangsanya sudah pada batas titik nadir�����.
Selamat berjuang kawan��
5 Responses to “Konsep Rejeki; Antara Bandung dan Delft”
By Oki Muraza on Mar 9, 2004 | Reply
Nimbrung soal rejeki…, Pak Dr. Agus Setiabudi baru saja memenangkan RUTI (Riset Unggulan Terpadu Internasional). Selamat Pak Agus :D, Atas Nama para bujanger…warga korve dan sekitarnya, kami menunggu undangan makan bubur ayam lagi…:”>
By M I Jambak on Mar 9, 2004 | Reply
Wah baru tahu kalo RUTI yang diteriakkan di YM itu riset unggulan bla..bla..Saya masih kebawa obrolan P. Helman ttg Roti prata…:D jadi nggak nyambung euy..
Tengkyu konsep rezekinya. Hanya saja yang sudah mencapai titik nadir bukan cuma kerinduan, juga kemarahan pada bangsaku.
By Singggih on Mar 9, 2004 | Reply
Kang Agus, moment-moment seperti ini adalah kesempatan untuk memanjatkan puji Alhamdulillah ke hadirat ilahi.
Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.
(Ibrahim 14:7)
By hatami on Mar 9, 2004 | Reply
makan makan euy !
By Reza on Mar 12, 2004 | Reply
Bos!
Rejeki pan bukan dalam bentuk fulus wungkul.
Bisa kesehatan, supervisor yang cees, teman-teman yang menyenangkan, jalanan teu macet, deelel betul ora bos?
Pok heula atuh!