Secangkir Teh dan Senyuman
Pagi datang,
sebelum siang
mentari menang
bulan menghilang.
Secangkir teh dalam genggaman
hadirkan kenang dalam ingatan
akan indahnya sebuah senyuman
yang tersungging hapus kesedihan.
Bunda sunggingkan senyuman
kala secangkir teh Bunda seduhkan
lalu kuterima dalam kehangatan
cinta kasih Bunda sepanjang jaman
Kuhirup harumnya teh dalam genggaman
sambil kukenang banyak kejadian
hingga rindu muncul berebutan
sepenuh rasa dan segala ingatan
Rinduku akan secangkir teh dan senyuman,
yang hantarkan aku hingga kuat pijakan
yang setiap pagi aku rasakan
dari tanganmu Bunda tersayang
Kutuntaskan teh dalam genggaman
Kusunggingkan sebuah senyuman
untukmu Bunda, doaku sepanjang jaman.
Dan,
Pagi mulai memudar,
siang datang menghantar,
mentari mulai menggetar,
Asa ini terasa menggelegar.
Kini kubuka hari dengan senyuman,
atas indahnya sebuah kenangan
tentang hangatnya secangkir teh dan senyuman.
[di]
pagi di kokmeeuwstraat
April 27, 2004.
5 Responses to “Secangkir Teh dan Senyuman”
By dEnA on Apr 27, 2004 | Reply
tatkala mentari kembali ke peraduan
bulan mengintip dibalik awan
dan malam datang menghampir
kusapa mimpi
endapkan kenangan
resapi hari yg tlah ku jelang
dan kembali kutersenyum…
teringat hangatmu oh bunda
By Hilda on Apr 29, 2004 | Reply
Subhanallah, baguuuuuus banget ‘Di…
Uni.
By Agus van Tanhoft on Jun 12, 2004 | Reply
Kokmeewstraat……..
Menggugah kenangan lama….
berjuang mengejar asa….
ditemani sepi dan kopi….
hingga akhirnya promosi juga…..
Buat diah
teruslah dikau berjuang…..
Jadikan kokmewstraat kita…
Mengantar anak nusantara….
berdiri di mimbar aula……..
By Efori on Jun 22, 2004 | Reply
Subhanallah, indaah banget puisi ini
aku tak kenal siapa yg nulis
tapi aku yakin dia seorang hamba Allah
yg sangat berbakat dlm mencipta puisi
Kalau boleh,
aku akan setia menunggu puisi-puisi indah lainnya…
hamba Allah
Congo, Africa
By M. Endi S. on Jan 10, 2005 | Reply
Saya sangat mengagumi puisi “Secangkir teh dan senyuman”. Mohon buatkan lagi puisi-puisi ttg teh.