KAU-lah Nyata bagiku
Manakala tergugah dari mimpi,
biarkanlah kubuka mata ini lebar-lebar,
hingga terungkaplah apa yang tak pernah terungkap.
Manakala tertegun dalam buaian,
biarkanlah mata hati ini mengenali,
hingga terucaplah apa yang ada dalam hati.
Tak perlu disembunyikan lagi,
bila sederet rasa mulai meruak,
tak mungkinlah diam kujadikan alasan
untuk bertirai bijak.
Namun,
memang terkadang aku tak menyadari menghadirkan rasa senjang.
Untuk itu mohonlah aku dimaafkan.
KAU-lah nyata dihadapanku, lainnya hanya berurai kesemuan.
[di]
Awal musim semi diantara wewangi berbunga yang mulai merekah,
Delft, April 2003.