Waktu itu…
Waktu adalah uang, kata sebagian orang.
Sementara yang lainnya berandai, waktu itu bagaikan pedang.
Sejatinya, waktu itu adalah amanah.
Yang harus diatur, dipergunakan, dan pada akhirnya juga dipertanggungjawabkan.
***
Jika memang demikian, mengapa saya sering merasa waktu adalah hal sepele yang tak perlu dipertanggungjawabkan?
Dan yang lebih menyedihkan, mungkin bukan saya saja yang merasa begitu.
Coba tengok pelaksanaan ibadah Sholat Idul Fitri lalu, misalnya.
Khotib datang terlambat, seakan itu adalah tradisi yang harus tetap dijaga.
Atau, coba lirik, Sholat Jumat yang biasa diadakan di TU SportCentrum.
Jarang terlepas dari ciri khas-nya: dimulai terlambat, dan diakhiri juga dengan lebih lambat.
[Tentu.., ada sebagian khotib Jumat-an yang sengaja melambatkan mulainya Khutbah. Alasannya adalah agar seluruh jamaah hadir terlebih dahulu sebelum Khotib naik mimbar, sehingga para jemaah mendapat barokah dari ibadah Jumatan tersebut. Subhanallah, semoga Allah membalas niat baik beliau-beliau.]
Atau, seperti bisa dilihat di salah satu Kajian Islamiyah yang diadakan di salah satu kota besar Belanda, beberapa hari lalu.
Di salah satu hari, Panitia mengumumkan bahwa Kajian akan dimulai jam 9:30, sementara kenyataannya acara baru bergulir pukul 13:30.
***
Sungguh kontras.
Islam adalah agama yang begitu mulia, dan seharusnya seorang muslim terbiasa untuk mengelola waktunya dengan sebaik-baiknya.
Sungguh kontras.
Kita hidup di negeri Belanda yang begitu terkenal akan kedisiplinan dan ketepatan waktunya, sementara saya dan yang lainnya masih terbuai dengan budaya jam karet a la Indonesia.
***
Di saat kegiatan-kegiatan dimulai terlambat, pertemuan dimulai terlambat, atau macam-macam keterlambatan lainnya begitu mengusik saya, biasanya akan ada saja kawan yang berujar, “Sudahlah… kita ambil hikmahnya saja..”
“Ya, tentu! Hikmahnya: ya jangan sampai terlambat lagi, lain kali..!”, begitu biasanya tukas saya, terkadang dalam hati.
One Response to “Waktu itu…”
By nia on Jul 19, 2004 | Reply
bismillaahirrahmaanirrahiim.
assalaamu’alaykum wr wb.
nia sepakat sekali dg Anda. but alhamdulillaah, kami aktivis dakwah kampus ITS sby banyak yg udah ga ngaret.allahu a’lam. mungkin dulu juga ngaret (smoga enggak). karena nia baru terjun beberapa tahun terakhir maka nia hanya bisa melihat yg kulihat selama waktu itu. dan penglihatanku, ya itu tadi. ga ngaret. mulailah dari diri sendiri, hal yg kecil, dan sekarang juga !!
salam dari sby.
wassalaam.