Tahun Baru a la Korve
Malam Tahun Baru di Belanda.
Apa yang terlintas di pikiran, jika anda mendengar sepotong kalimat di atas? Kembang api? Atau kue oliebollen?
Ternyata melewatkan malam Tahun Baru di Belanda tidak melulu identik dengan kedua hal di atas. Setidaknya, acara bisa berlangsung meriah dan hangat tanpa keduanya. Hal inilah yang terasa saat sebagian kecil dari komunitas muslim di kota Delft berkumpul, hari Rabu (31 Des 2003) malam lalu.
Malam itu, sebuah apartemen kecil di Korvezeestraat 405 menjadi tempat yang hangat. Atmosfer gotong royong dan keakraban begitu kental.
Lebih dari tiga puluh orang hadir di situ. Tidak hanya warga Delft sendiri, melainkan juga sejumlah rekan yang berkunjung dari Swedia dan Jerman.
Bersama-sama melewatkan sepenggal masa yang terus berlalu tanpa menunggu siapapun. Ditemani hidangan sederhana yang tersaji atas sumbangan para tetamu sendiri.
Acara yang rencananya dimulai jam 6 malam, akhirnya baru benar-benar berjalan sekitar jam 7. Kurang elok, memang, karena ini menunjukkan bahwa budaya jam karet a la Indonesia masih mendominasi.
Cemilan kacang rebus mulai beredar, ditemani keripik dan minuman ringan. Setelah menu utama siap, barulah satu persatu tamu mengambil makanan di piring. Dua pilihan sederhana pun tersebar aromanya: tongseng kambing, atau ayam panggang yang ditemani sambal dan lalab. Selepas makanan utama disantap, hidangan ringan kembali disebar. Kue donat, bakwan udang, agar-agar, dan bolu. Tidak ketinggalan, bajigur panas untuk melawan suhu dingin yang merambat ke dalam ruangan.
Lewat jam 9, sebagian tamu mulai berpamitan. Tapi itu tidak lantas berarti acara berakhir begitu saja. Obrolan ringan justru terus mengalir.
Menjelang jam 12 malam, acara menyambut Tahun Baru pun baru benar-benar dimulai. Di tengah hiruk-pikuk suara di luar, suasana di dalam justru menghening. Di luar, warga Belanda sibuk membakar kembang api untuk menerangi langit mereka. Sementara di dalam, lampu justru dimatikan, dan tuan rumah sibuk membakar lilin. Sekedar mencoba membuat suasana lebih nyaman, untuk acara puncak: dzikir bersama.
Subhanallah. Dzikir dilantunkan. Hati dicoba untuk dilembutkan.
Masing-masing mencoba menengok ke dalam hati, melakukan refleksi, dan mencoba mendekatkan diri kepada Allah.
Ketika dzikir bersama usai, lampu kembali menyala. Dan obrolan kembali mengalir, walau kali itu dengan topik yang agak berbeda.
Saat malam semakin larut dan siap diganti pagi, beberapa tamu mulai berpamitan. Sedangkan sekitar sepuluh orang lainnya memilih menginap di apartemen kecil itu, menghindari dinginnya udara malam.
Dan pagi berikutnya, tahun baru telah tiba.
Tahun 2004. Dimulai dengan salju yang cukup lebat.
Hari baru. Semangat baru. Semoga lebih baik, insya Allah..
Sorry, comments for this entry are closed at this time.