Niat
Beberapa hari terakhir ini saya membaca buku yang membahas tentang niat dan sikap ikhlas. Alhamdulillah, buku tersebut saya peroleh dari seorang teman yang ikhlas untuk meminjamkan buku tersebut
Sebelum membaca buku tersebut, saya mencanangkan “niat” bahwa saya akan membaca buku tersebut hingga selesai.
Tapi setelah membaca beberapa bab, kok arti “niat” yang saya pahami selama ini beda artinya dengan arti niat yang disebutkan di buku tersebut. “Niat” menurut pengertian saya adalah “melakukan suatu pekerjaan dengan sungguh-sungguh”. “Niat” juga bisa berarti kehendak seseorang untuk mencapai suatu tujuan. Ketika ada seseorang yang mengerjakan sesuatu tidak dengan serius, ungkapan yang sering diucapkan oleh orang lain yang melihatnya adalah : “Niat nggak sih orang itu??”. Niat menurut buku yang saya baca tersebut adalah menghendaki kehidupan akhirat, menghendaki keridhaan Allah dan mencari ridha Allah. Kenapa kok beda? Padahal saya dulu mempelajari istilah “niat” dan “ikhlas” dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Mungkin KBBI hanya mencantumkan definisi yang singkat dan umum saja.
Setelah membaca dan berusaha memahami arti kata niat, saya jadi tambah bingung. Bagi saya nampaknya untuk mencanangkan “niat” itu sulit sekali. Saya bertanya-tanya, bagaimana caranya supaya semua perbuatan yang saya lakukan itu bisa menjadi sarana untuk mencari ridha Allah….menjadi ibadah sesuai dengan “petunjuk” buku yang saya baca tersebut. Misalkan, saya ber-”niat” untuk bermain bulutangkis supaya badan menjadi sehat. Salahkah “niat” saya tersebut? Saya pikir mungkin tidak ada salahnya, lha… tapi gimana caranya saya bisa mendapat ridha Allah dengan bermain bulutangkis? . Apakah saya musti bertasbih di lapangan? Ataukah saya membaca ayat Al-Qur’an sambil menggebuk raket? Sulit…sulit. Tapi nampaknya ada alternatif lain yang lebih baik, yang barangkali bisa dilakukan untuk memperoleh ridha Allah ketika main bulutangkis.
Ada banyak orang di lapangan bulutangkis tempat saya biasanya bermain. Ada orang dari Belanda, Vietnam, Cina, Padang, Palembang, Aceh, dan lain-lain. Mempererat tali silaturahmi dengan sesama manusia juga merupakan ibadah. Berdasarkan ide tersebut, sebisa mungkin saya menyelipkan percakapan-percakapan singkat sewaktu bermain bulutangkis. Misalnya, setelah saya menghujamkan pukulan kencang dan ternyata bola (shuttle cock) jatuh jauuuuh di luar lapangan, saya menyempatkan diri untuk mengajak lawan main saya tertawa bersama dan berbincang sejenak. Ketika lelah bermain, saya beristirahat di bangku yang tersedia di pinggir lapangan. Setelah meneguk sebotol air dingin, saya mencoba untuk bertukar pikiran dengan sesama pemain yang kebetulan juga sedang beristirahat.
Pada akhirnya saya berkesimpulan untuk memperbaiki “niat” saya menjadi seperti berikut : “saya bermain bulutangkis untuk menjaga kondisi badan supaya sehat (sehingga dapat melakukan aktifitas ibadah seperti sholat, dsb) dan sekaligus juga sambil bersilaturahmi dengan orang yang saya temui di lapangan bulutangkis”. Nah…satu masalah sudah terpecahkan…menurut pendapat saya.
Ketika saya tiba dirumah setelah seharian berada di kampus TU Delft, saya berbaring sebentar kemudian menyalakan komputer dan bermain game dengan “niat” untuk menyegarkan pikiran kembali. Nah kembali saya jadi bingung. Apakah bermain game tersebut bisa mendatangkan ridha Allah? Contoh kasus lain lagi yang saya hadapi adalah ketika saya memompa ban sepeda saya yang kempes. “Niat” saya adalah membuat kondisi sepeda supaya bisa bergerak dengan mulus ketika pedalnya diinjak. Nah…apakah ada teknik memompa ban sedemikian rupa sehingga saya bisa memperoleh ridha Allah?
Rupanya saya harus banyak belajar lagi untuk memperbaiki “niat” saya. Tapi kembali saya bertanya pada diri sendiri : Saya “Niat” nggak sih ??? ![]()
6 Responses to “Niat”
By hatami on Feb 14, 2004 | Reply
kata orang… setiap perbuatan itu harus :
dimulakan dengan bismillah….
disudahi dengan alhamdulillah…
begitulah sehari dalam hidup kita..
mudah mudahan dirahmati Allah…
By Singgih on Feb 14, 2004 | Reply
Kayaknya pernah dengan nasyid yang begini ini, Mee.
By ^tulip^ on Feb 16, 2004 | Reply
hmmm…
bukankah niat baik itu sudah selangkah menuju ridha Allah?
By saniah on May 15, 2004 | Reply
Saya juga pernah diberikan tugas sama Murabbi/ guru ngaji untuk membaca buku yang berjudul Niat dan Ikhlas,ini berarti masalah niat adlh sangat urgen, ketika kita berniat dalam mengerjkan sesuatu untuk mdpt ridha ALLAH, berrti smanya bernli pahala, tapi dengan catatan setiap pekerjaan yang dilakukan hrs yg mendatangkan manfaat bukan mendatangkan banyak mudharat, contoh bermain game lah dengan tema2 yang baik disamping anda berniat ingin menyegarkan pikiran kembali anda juga bisa berniat “kalau pikiran saya sudah segar dan tenang kembali saya nanti bisa shalat dengan kusyu’”, dan anda juga bisa berniat ketika memompa ban “kalau ban sepeda saya tidak kempes lagi saya bisa menggunakan sepeda saya lagi untuk pergi shalat ke Mesjid”untuk mendapat ridha ALLAH.
demikian pendapat saya, wallahua’lam bishshawab
By hidayat on Dec 14, 2004 | Reply
Bahasa arab untuk mengungkapkan sesuatu dibarengi dengan ucapan atau bisikan hati nawaitu bla..bla..bla.
Hasratku ingin melampiaskan nafsu birahi,juga niatan juga, banyak yang melanggar sehingga banyak yang kumpul dengan lawan jenis tanpa busana seperti kebo,monyet, babi dll.
By sitisarah on Mar 6, 2007 | Reply
betul tu….kite mulakan hari kite ngan bismillah dan di akhiri dengan alhamdulillah…saya nak minta sedikit pertolongan dala diri ni
susah saya mengerti erti niat tu
yg saya tahu niat sembahyang je…so harap u boleh tolon saya..makasih