Jauh dekat Rp. 700
Pada suatu pagi yang mendung di bulan Desember, saya menyalakan komputer. Setelah beberapa saat, muncullah daftar hal-hal yang perlu saya tindak lanjuti, misalnya membalas e-mail, mengumpulkan tugas, mengirim surat di kantor pos dan menyelesaikan artikel untuk MUSLIMdelft.
Rasanya ingin sekali menghubungi keluarga dan teman-teman yang berada di Indonesia, namun seringkali itu hanya sebatas keinginan yang tak terlaksanakan. Banyak hal yang mungkin bisa diceritakan, tapi rasanya sulit untuk dituangkan dalam bentuk surat, e-mail ataupun percakapan melalui telepon.
Saya jadi teringat kembali masa kuliah di Bandung. Semasa kuliah, hampir setiap hari bertemu, belajar dan bermain dengan teman-teman. Pada akhir minggu, terkadang saya bersama dengan teman-teman pergi ke sebuah tempat yang bernama Lembang. Tempat ini terletak di dataran tinggi, beberapa kilometer dari kota Bandung. Di Lembang inilah saya dan teman-teman menikmati sepiring ketan bakar yang lekker dan segelas susu hangat. Kami semua yang berada disitu tidak mempedulikan bahwa suatu saat kami akan berpisah.
Hal yang juga saya ingat di Bandung yaitu banyak sekali ditemui di kendaraan angkutan umum stiker yang bertuliskan : jauh/dekat bayar Rp. 700. Artinya, bila kita bepergian seberapapun jauhnya, selama masih di dalam ruang lingkup trayek angkutan umum tersebut, kita harus membayar 700 rupiah. Kalau dihitung menurut ilmu ekonomi, orang yang menempuh jarak dekat mengalami rugi bila dibandingkan dengan orang yang menempuh jarak yang lebih jauh.
Setelah lulus kuliah, saya dan teman-teman mencari pekerjaan. Beberapa teman ada yang mencari beasiswa untuk melanjutkan studi di luar negeri, termasuk saya juga. Setelah beberapa bulan, teman-teman sudah ada yang bekerja di sebuah instansi atau perusahaan, sudah pergi melanjutkan sekolah di luar negeri dan bahkan sudah ada yang berkeluarga dan mengasuh anak. Masing-masing disibukkan oleh kegiatannya. Yang bekerja di perusahaan sibuk dengan urusan kantornya, yang sudah menikah sibuk mengasuh keluarganya, yang melanjutkan studi sibuk dengan kuliahnya, dan lain sebagainya.
Yah…memang kita tidak bisa selamanya bersama-sama. Cepat atau lambat perpisahan tak bisa dihindari. Tapi apakah kita harus benar-benar “berpisah”? Ada baiknya kebersamaan yang pernah terjalin tetap dipelihara. Mungkin bisa melalui sms (short message service, red.), e-mail, chatting ataupun telepon. Saya mencoba menghayati stiker yang menempel di angkutan umum di Bandung. Jauh/dekat Rp. 700. Mungkinkah untuk menjaga supaya hubungan dengan teman-teman tidak terputus, kita juga harus memberikan sesuatu sebanyak 700 ? Entah 700 rupiah, 700 sms, 700 kali menelepon, atau 700 yang lainnya.
700 hal yang kita berikan ketika kita berada dekat dengan teman-teman insya Allah memberi manfaat yang baik. Demikian pula bila kita memberikan 700 hal ketika kita berada jauh dari teman-teman kita tersebut, insya Allah akan semakin memperkuat persahabatan yang sebelumnya pernah dan masih terjalin. 700 hal yang dikeluarkan mudah-mudahan dapat menempel dan meresap ke dalam hati, sehingga pada waktu berpisah, resapan 700 hal tersebut membuat kita dan teman-teman kita tetap dekat.
Hal mungkin patut direnungkan adalah bagaimana kita memberikan sesuatu sebanyak 700 kepada rekan-rekan di Delft saat ini, sehingga ketika kita pulang ke Indonesia, kita tetap nempel terus kayak perangko.
Sorry, comments for this entry are closed at this time.