Angin … oh … angin
Selama beberapa hari terakhir angin bertiup lumayan kencang. Dedaunan beterbangan, pohon nan besar dan tinggi melambai-lambai, bahkan sepeda yang diparkir di stasiun Delft centraal berjatuhan. Penulis tinggal di tempat yang cukup jauh, sekitar 15 menit, dari kampus TU Delft. Setiap hari penulis pulang pergi ke kampus dengan menaiki sepeda. Jalan yang harus ditempuh cukup berat dengan adanya tanjakan, apalagi ditambah dengan tiupan angin yang bisa dibilang tidak sepoi-sepoi.
Entah bagaimana, kemanapun penulis menaiki sepeda, angin selalu bertiup berlawanan arah dengan arah perginya penulis. Dengan kata lain, angin selalu bertiup dari arah depan, sehingga menghambat laju sepeda. Jarang sekali angin bertiup dari arah belakang dan menyebabkan laju sepeda bertambah kencang.
Gedung tertinggi di kampus TU Delft yang berwarna merah-biru adalah tempat yang paling dihindari oleh penulis. Mengapa? Karena penulis pernah benar-benar berhenti ditahan oleh angin ketika bersepeda di samping gedung itu. Orang yang berada disekitar gedung waktu itu mungkin tertawa, atau paling tidak tersenyum melihat atraksi unik tersebut. Angin bertiup demikian kencang sehingga penulis terpaksa turun dari sepeda dan menuntunnya hingga melewati gedung.
Penulis jadi teringat peribahasa : api kecil jadi kawan, api besar jadi lawan. Berdasarkan peribahasa tersebut, penulis menyimpulkan bahwa angin sepoi-sepoi adalah kawan dan angin kencang adalah lawan. Angin kencang ini bisa pula jadi kawan karena dapat menggerakkan kincir angin, yang pada akhirnya menghasilkan listrik di kamar penulis. Tulisan ini diketik dengan menggunakan komputer yang mungkin dihidupi oleh listrik dari angin kencang tersebut.
Tapi bagi penulis, angin kencang yang mungkin “kawan” ini kok lebih sering memusuhi. Terkadang timbul pikiran bahwa alam di Delft tidak menyukai dan tidak mau bersahabat dengan penulis. Ketidaksukaan ini diwujudkan dalam bentuk tiupan angin yang senantiasa menghambat kemanapun penulis bepergian. Apapun cuacanya, angin selalu berhembus.
Penulis terkadang merenung, apakah perilaku manusia bisa menentukan kondisi cuaca? Apakah penulis sedemikian nakalnya sehingga menumbuhkan kejengkelan di hati orang lain? Ataukah ada sesuatu yang menempel pada fisik penulis, yang membuat orang lain menjadi sebal? Mungkinkah kejengkelan dan kesebalan orang-orang itu dibalaskan oleh alam dalam wujud tiupan angin kencang?
Berkaitan dengan perbuatan manusia, penulis jadi teringat dengan salah satu hukum fisika yang pernah dipelajari dulu. Hukum fisika ini dinyatakan oleh Newton, yang secara sederhana dapat dikatakan bahwa suatu aksi selalu diiringi dengan reaksi. Bila seseorang berbuat baik kepada orang lain, insya Allah orang lain itu memberikan reaksi yang baik pula. Berada di sekitar orang yang baik membuat hati ini tenang, sejuk serta tidak dihantui rasa takut dan curiga. Lain halnya bila seseorang dikelilingi oleh orang lain yang membencinya. Kepalanya mungkin senut-senut (pusing, red.), hati gelisah dan tidur pun barangkali susah.
Kenapa hati ini bisa tenang dan juga bisa gelisah? Penulis mencoba mengaitkan masalah hati ini dengan angin kencang yang sering berhembus di Delft. Angin kencang di Delft tidak dapat masuk begitu saja ke dalam hati, karena terhalang oleh pakaian yang kita pakai. Jadi penulis berasumsi ada “angin” jenis lain, yang tidak dapat dirasakan secara fisik. Lha … “angin” macam apa ini? Sabar ….. berikut ini penjelasannya.
“Angin” inilah yang mungkin bersemayam mengisi hati seseorang. Barangkali juga “angin” ini ada hubungannya dengan perbuatan yang kita lakukan. Perbuatan baik nampaknya membuat “angin” bertiup sepoi-sepoi, menyejukkan hati dan insya Allah membuat hati kita jadi ketagihan untuk melakukan perbuatan baik yang lebih banyak lagi. Perbuatan yang tidak menyenangkan orang lain agaknya yang menyebabkan “angin” di dalam hati bertiup kencang. “Angin” kencang ini bisa membuat hati sangaaat sejuk, malah hati bisa beku karena terlalu sejuk. Tiupan kencang “angin” ini bisa pula memporakporandakan isi hati, akibatnya hati diliputi suasana semrawut (kacau balau, red.).
Pada akhirnya penulis berkesimpulan bahwa apapun perbuatan penulis, yang baik maupun yang buruk, angin tetap berhembus kencang di Delft. Namun perbuatan itulah yang akan menentukan laju hembusan “angin” yang mengisi hati penulis.