Moskee Kecil Kami
Saya masih ingat ketika hendak berangkat ke Delft, saya tulis pada catatan saya sebuah nomor. Nomor 209, demikian masih ada di agenda saya sampai sekarang. Apakah itu nomor penerbangan? Apakah itu nomor rumah yang akan saya tempati nanti? Bukan. Nomor itu saya dapat dari website ini (muslimdelft.nl). Nomor tersebut adalah nomor ruangan yang digunakan sebagai musholla di gedung EWI –Elektrotechniek, Wiskunde en Informatica.
Benar saja, ketika pertama kali saya memasuki gedung EWI, selain mencari nomor ruangan koordinator program kuliah, saya sempatkan berburu ruangan 209 itu. Dasar memang saya yang agak kagetan melihat gedung kampus yang besar ini. Walaupun besar, sebetulnya ruangan relatif mudah dicari, karena hampir semua ruangan mempunyai papan pengenal di depan pintu. Pada kesempatan pertama saya tidak berhasil menemukan ruangan itu. Padahal saya sudah berhasil mencapai tanda ruangan 208. Ketika saya sampai pada pintu dengan nomor 208, sempat timbul keheranan di hati saya, ruang 208 kok berupa tangga? Saya hanya melihat dari kejauhan sepertinya ruang 208 adalah ruang tempat pengelola gedung untuk menyimpan peralatan gedung. Namun saya tidak menemukan ruang 209, dimanakah gerangan?
“Musholla EWI itu di ruangan 209 deket tangga sebelahnya lift juga dan memang posisinya di pojok,” demikian jawaban teman ketika saya tanya mengenai keberadaan ruang 209 ini. Kali kedua saya mengeksplorasi gedung EWI untuk mencari ruang 209, akhirnya saya berhasil menemukannya. Ruang 209 memang terletak di sudut gedung, bahkan posisinya lebih tersembunyi dari toilet. Tapi toh, letak musholla di gedung-gedung perkantoran atau pusat perbelanjaan di Jakarta sekalipun memang sedikit dilupakan. Biasanya musholla dibangun setelah gedung sudah beroperasi, jadi ruangan yang ada diubah fungsi menjadi musholla. Bahkan saya sempat menemukan musholla di salah satu instansi bank terkemuka di Jakarta bertempat di tangga darurat.
Syukurnya, jika Anda sudah berhasil menemukan ruangan 209, Anda akan segera mengetahui bahwa itu adalah musholla dari papan ruangan yang terletak di sebelah pintu. Moskee, demikianlah tulisan yang terletak di sebelah pintu ruang 209 itu. Kalaupun Anda tidak bisa berbahasa Belanda, tentu akan segera mengambil analogi, bahwa moskee berarti mosque.
Kesan pertama yang saya lihat dari moskee ini adalah kecil. Tunggu, tunggu, ini saya membandingkan dengan ruang kelas yang ada atau bisa dibilang sama luasnya dengan ruang kerja beberapa mahasiswa PhD di gedung itu. Namun bagi ukuran musholla, bisa dibilang cukup. Yang membuat saya kagum, di ruang itu terdapat tempat berwudhu, lengkap dengan handsoap dan kain pengering yang otomatis. Ini adalah fasilitas yang mewah bagi musholla, saya pernah mendapati musholla di Indonesia yang mana, kita harus menimba air dulu di sekitar daerah penduduk untuk mendapatkan air wudhu. Terdapat pula karpet lengkap dengan beberap sajadah yang sudah diposisian mengarah kiblat. Juga terdapat rak dan gantungan jaket. Di rak pun terdapat berbagai buku yang waktu itu saya dapati dalam beberapa bahasa, misalnya berbahasa Inggris dan –sama sekali tidak mengherankan– juga bahasa Indonesia. Ini hampir sama bahakn lebih baik deibandingkan dengan musholla kami dulu ketika saya masih berkuliah di UI –Universitas Indonesia.
Di moskee kecil itu, saya berinteraksi dengan berbagai muslim dari seluruh dunia. Iran, Irak, Pakistan, Maroko, Turki, Mesir, tentu saja Indonesia, dan masih banyak lagi. Saya belajar bagaimana perbedaan terdapat di antara kita. Perbedaan dalam melakukan ritual shalat. Perbedaan dalam berbahasa, dan lain sebagainya. Akan tetapi saya juga belajar bagaimana terdapat persamaan di antara sesama muslim. Kita sama-sama menyebar salam. Kita sama-sama muslim. Dan yang terpenting kita sama-sama berusaha untuk mengikhlaskan perbuatan kami di moskee itu hanya kepada Allah.
Perbedaan adalah hal yang biasa, kita tidak perlu mempermasalahkan hal itu. Karena sesungguhnya manusia itu diciptakan dengan berbagai perbedaan untuk saling mengenal satu sama lain. Justru dengan perbedaan itu, mungkin justru kita bisa menggali lebih banyak lagi ilmu-ilmu Allah. Di moskee ini saya berusaha untuk menghargai dan menghormati perbedaan. Di moskee ini saya menemukan ketenangan di tengah hiruk-pikuknya dunia science dan technology, yang mana moskee ini berada.
Moskee kecil kami di Delft sudah kutemukan. Kini saatnya ku mencari dan menemukan pancaran hidayat sang Khalik dari ruang kecil di sudut gedung besar di Delft ini. Insya Allah.
Wallahuálam bi shshawab
Zulfikar S Dharmawan - PTN 111