Mencari Guru
Saya mengagumi Salman Al Farisi. Tentu kita tahu bagaimana saran beliau kepada Rasulullah SAW untuk menggali parit dalam perang Khandaq. Beliau mengimplementasikan bagaimana sains dan teknologi itu bisa digunakan dalam kehidupan, lebih khusus dalam berperang. Akan tetapi, sebetulnya bukan karena itu saja saya mengagumi beliau. Saya amat sangat kagum kepada beliau akan kegigihan beliau dalam mencari guru. Seorang guru yang dapat menunjukan kebenaran yang hakiki.
—
Dari yang saya dengar, Salman (Ra) dilahirkan di Isfahan, Persia. Negeri yang sebagian besar penduduknya menganut paham Majusi, atau menyembah api. Beliau sama sekali tidak tahu apa itu Islam pada waktu itu. Beliau merasa apa yang beliau geluti bukanlah realitas yang sebenarnya. Dengan arti lain beliau ingin mencari kebenaran yang sebenar-benarnya.
Datanglah beliau kepada seorang pemuka Nasrani untuk mencari kebenaran. Beliau mengutarakan maksudnya untuk mencari kebenaran dan bermaksud untuk menjadi muridnya. Nasrani tersebut memperbolehkannya tapi beliau harus bekerja untuknya dan menjadi pembantu Nasrani tersebut dalam segala hal.
Salman adalah seorang murid yang baik. Ia sama sekali tidak menentang kehendak sang guru, walaupun gurunya itu adalah seorang yang tidak jujur. Beberapa kali didapatinya ia berbohong. Sering kali ia melakukan tindakan yang tidak disukai Salman. Tapi, Salman sudah mendedikasikan dirinya kepada guru tersebut. Tahun berganti tahun, sampai akhirnya guru tersebut mendekati ajal. Bertanyalah Salman kepadanya gurunya, “Dimana aku harus mencari guru tempatku mencari kebenaran itu?” Sang guru berkata, “Tidak ada orang lain di daerah ini yang mengetahui apa kebenaran itu, tapi engkau bisa pergi ke Mosul untuk menemui seorang yang bisa kau jadikan guru.”
Pergilah Salman ke Mosul (sekarang Iraq). Sama halnya dengan gurunya yang pertama. Ia menjadikan dirinya sebagai seorang pelayan bagi gurunya. Segala tindak tanduk dan tingkah laku sang guru ditirunya. Guru yang kedua ini adalah orang yang jujur. Salman pun merasa ia telah menemukan orang yang tepat. Tahun berganti tahun, sang guru pun mendekati ajalnya. Kembali Salman berkata, “Dimana aku harus mencari guru tempatku mencari kebenaran itu?” Salman tidak mengangkat dirinya sebagai guru, walaupun ia sudah sedikit merasakan kebenaran itu. Begitu merendahnya Salman, ia ingin terus menjadi murid sampai benar-benar menemukan kebenaran itu. Berkatalah sang guru, “Ajaran yang kuajarkan kepadamu ini berasal dari Shams. Pergilah engkau ke sana untuk menemui orang yang bisa engkau jadikan guru.”
Pergilah Salman ke Shams. Hal yang sama pun terjadi, sampai akhirnya Salman harus merantau ke Ammuriyah (daerah jajahan Romawi) atas rekomendasi sang guru yang terakhir. Di sinilah beliau pun harus rela menjadi budak karena dikhianati seseorang yang berjanji untuk mebawanya ke Mekah. Namun justru dengan menjadi budak ini, beliau bisa pergi ke Madinah untuk bertemu Rasulullah (SAW).
Karena beban kerja yang padat, Salman tidak mengetahui bahwa Rasulullah telah berhijrah dari Mekah ke Madinah. Sampai ketika tuannya yang Yahudi berkata, ada orang jujur yang baru pindah dari Mekah ke Madinah. Mendengar itu, Salman pun menemui Rasulullah tanpa menghiraukan bahwa beliau masih seorang budak yang harus mengerjakan ini itu. Kejujuran Rasulullah menjadi kunci kepercayaan Salman, bahwa Rasulullah-lah, ‘guru’ terakhir yang dapat menunjukkannya kepada kebenaran itu.
—
Sering kali kita merasa sudah cukup untuk menjadi guru. Sering kali kita merasa sudah cukup ilmu untuk memutuskan suatu perkara. Betapa angkuhnya diri kita ini. Bahkan seorang Salman yang sangat berilmu pun dan sudah malang melintang berguru kepada berbagai guru, tetap terus mencari guru. Ia pun rela melintasi belahan bumi ini dari Persia ke Mosul, Shams, Ammuriyah sampai akhirnya ke Madinah, untuk terus berguru.
Ya, Allah… pertemukanlah kami dengan guru itu, guru seperti seorang Salman Al Farisi (Ra). Guru yang ingin terus berguru sampai menemui kebenaran yang hakiki. Amin… amin ya rabbal alamin.
One Response to “Mencari Guru”
By satria yg mencari on Feb 12, 2008 | Reply
iyah.. setuju..
saya sedih saat melihat kenyataan dr guru-guru yg saya teladani, dr kebanyakan org yg berilmu dan dari diri saya sendiri, saat kita berfikir kita adalah guru dan bukan murid lg.. disitulah saat kita mudah tergelincir..
saat-saat kita tanpa sadar menjadi pencuri..
pencuri jubah Sang Maha Besar..
Dari sana pasti ada aja tingkah kita yg memalukan, yg salah, yg menghinakan diri kita sendiri..
Adalah hal yg paling menakutkan ketika kita mati-matian berfikir kita benar pdhl yg kita lakukan salah..
disanalah kehebatan seorang salman al-farisi yg memiliki hati yg begitu rendaaah untuk selalu memandang dirinya jauh dari sempurna yg menjadikan beliau selalu awas akan kesalahan, hingga dia selalu dilindungi Allah dr kekeliruan konyol dan fatal seperti ini..
semoga Allah menganugrahi kita dgn hati seperti salman.. assalamualaika ya salman al-farisi.. semoga Allah memuliakan kami sehingga kami dapat pantas untuk dibangkitkan dengan org-org hebat sepertimu di hr kebangkitan nanti.. juga bersama Rosullullah imam sejati kita yg hebat itu.