Meneladani Sikap Para Sahabat Nabi

Written on June 24, 2004 – 8:50 pm | by S Cahyono |

Oleh : KH Didin Hafidhuddin

Ketika terjadi sekelumit ketegangan antara para sahabat Muhajirin dan
sahabat Anshor untuk menentukan siapa yang menjadi khalifah pertama,
sepeninggal Rasulullah SAWW, tampillah ke depan Basyir bin Saad,
pemuka Anshor dari Banu Aus sambil menyatakan bahwa kaum Anshor
membela Islam semata-mata berdasarkan mencari ridha Allah SWT serta
ketaatan kepada Nabi SAWW.

Karena itu tidak layak bila mereka berebut jabatan pemimpin dengan
kaum Muhajirin. Rasulullah SAW berasal dari suku Quraisy, maka kaumnya
lebih berhak untuk menggantikannya (Ensiklopedi Tematis Dunia Islam,
hlm 37). Ucapan Basyir ini memberikan pengaruh yang mendalam terhadap
kaum Anshor. Mereka dapat memahami penjelasan yang dikemukakannya.
Kesadaran terhadap motivasi perjuangan dan ukhuwah Islamiyah selama
ini, muncul kembali begitu kuat mengalahkan ambisi pribadi dan
golongan yang tidak tampak sebelumnya. Emosi yang bergejolak untuk
menggapai jabatan pimpinan menjadi luruh (Ibid; hlm 38).

Pada saat itu Abu Bakar juga tampil dengan usulan untuk mencalonkan
Umar bin Khattab dan Abu Ubaidah bin Jarroh sebagai khalifah pengganti
Rasulullah SAW. Dengan serentak keduanyamenolak usulan tersebut,
bahkan Umar bin Khattab langsung memegang tangan Abu Bakar seraya
membaiatnya. Lalu diikuti oleh Abu Ubaidah dan Basyr bin Saad serta
sahabat lainnya.

Mereka berkeyakinan bahwa Abu Bakar lebih berhak, karena ia selalu
bersama Nabi termasuk orang-orang pertama yang masuk Islam, yang
sangat gigih menyebarkan dan mendakwahkan Islam walaupun banyak
mendapat tantangan. Beliaulah sahabat Rasul yang secara eksplisit
diabadikan dalam Alquran ketika beliau berdua berada di Gua Tsur dalam
perjalanan hijrah dari Makkah ke Madinah, sebagaimana dikemukakan
dalam QS At-Taubah:40. Terdapat beberapa pelajaran penting yang
menarik yang bisa kita ambil dari peristiwa pergantian kepemimpinan
tersebut.

Pertama, adalah wajar bila terjadi ketegangan-ketegangan dan emosi
sesaat yang mengiringi proses tersebut. Tetapi hal ini dapat
diminimalisir atau diredam, manakala dilandasi dengan motivasi yang
kuat untuk brpihak pada kepentingan dan kemaslahatan bersama yang
lebih besar dan lebih abadi. Fanatisme kesukuan dan kelompok menjadi
luntur ketika berhadapan dengan keikhlasan dan kesungguhan untuk
mempersembahkan yang terbaik kepada masyarakat.

Siapa saja yang mengedepankan kepentingan bersama, pasti akan mampu
mengatasi dan mengalahkan kepentingan pribadi dan kelompok. Akan
tetapi jika yang terjadi sebaliknya, maka letupan emosi dan ketegangan
sekecil apa pun akan berubah menjadi pertentangan dan perpecahan yang
sangat dahsyat. Hasut, dengki, dan penilaian yang sifatnya subjektif
akan mengemuka, mengalahkan objektivitas dan rasionalitas. Karena itu,
di dalam memilih dan mengangkat pemimpin, masyarakat hendaknya
memiliki objektivitas dan rasionalitas agar pilihannya menghasilkan
kemaslahatan bagi kepentingan bangsa.

Kedua, orang yang layak diangkat sebagai pemimpin adalah orang yang
memiliki track record yang bisa dipertanggungjawabkan. Dipilihnya Abu
Bakar sebagai khalifah pertama, bukanlah semata-mata karena ia sahabat
Muhajirin dan keturunan Quraisy, tetapi karena perilaku dan
kepribadiannya yang layak dijadikan contoh. Kompetensi ini sangat
penting, karena pemimpin dan kepemimpinan itu harus berbanding lurus
dengan keteladanan. Pemimpin yang mampu menjadikan diri dan
keluarganya sebagai contoh bagi masyarakatnya, adalah pemimpin yang
akan berhasil dalam memimpin masyarakat dan bangsanya tersebut.

Mereka tidaklah sekadar mendengar ucapan pemimpin, tetapi melihat
langsung praktik hidup kesehariannya. Perbauatan KKN yang begitu
merajalela di negara kita sekarang ini, tidak mungkin bisa diberantas,
kecuali yang menjadi pemimpin bangsa kita saat sekarang dan masa depan
adalah orang-orang yang bersih dari perilaku KKN tersebut. Para
pemimpin yang track record-nya buruk dan tidak bisa menjadi suri
teladan,
serta jelas-jelas tidak mampu memimpin, selayaknya tidak
diangkat dan tidak dipilih, karena hanya akan menjerumuskan bangsa dan
negara pada kehancuran.

Ketiga, setiap pemimpin, di samping memiliki keberanian dan ketegasan
sikap untuk berpihak kepada kepentingan masyarakat, terutama
masyarakat kecil yang sering terdzalimi dan tertindas, juga harus
memiliki krendahan hati, tidak sombong dan tidak takabur dalam
mnjalankan roda kepemimpinannya. Walaupun Abu Bakar terpilih sebagai
khalifah pertama secara aklamasi, tapi sikap beliau tetap rendah hati.

Hal ini tampak jelas pada pidato pertamanya yang disampaikan di
hadapan seluruh masyarakat Madinah, setelah baiat yang kedua, antara
lain: “Wahai sekalian manusia, sekarang aku telah memangku jabatan
yang kalian percayakan kepadaku, padahal aku bukanlah orang yang
terbaik di antara kalian. Maka bila aku menjalankan tugasku dengan
baik, ikutilah aku. Tetapi bila aku berbuat salah, luruskanlah. Orang
yang kalian nilai kuat, sebenarnya kuanggap lemah. Adapaun yang kalian
pandang lemah adalah orang yang kuat dalam pendapatku. Karena itu aku
akan mengambilkan haknya dari yang kuat, Isnya Allah. Hendaknya kalian
taat kepadaku, selama aku taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Tetapi bila
aku mengingkari Allah dan Rasul-Nya, maka janganlah kalian taat
kepadaku. Marilah kita menunaikan shalat dan semoga Allah selalu
memberikan rahmat-Nya kepadamu” (Ibid; hlm 38).

Pemimpin yang tetap rendah hati dalam ketegasan dan keberaniannya,
Insaya Allah akan selalu dicintai masyarakatnya. Sebaliknya, pemimpin
yang sombong dan arogan hanyalah akan mengundang kebencian dan
kedengkian. Kini rakyat dan bangsa Indonesia yang telah selesai
melaksanakan Pemilu Legislatif tanggal 5 April 2004 yang lalu, sedang
bersiap-siap kembali untuk memilih calon presiden dan wakil presiden
yang akan memimpin bangsa dan negara ini lima tahun ke depan secara
langsung. Di dalam melakukan pilihannya, sudah selayaknya masyarakat
pemilih mengedepankan objektivitas dan rasionalitas berdasarkan kepada
track record dan kemampuan para capres dan cawapresnya.

Sebab bangsa dan negara kita saat ini sedang dihadapkan pada persoalan
yang sangat berat dan kompleks dalam berbagai bidang kehidupan. Hanya
presiden dan wapres yang memiliki akidah dan keyakinan agama yang
kuat, yang memiliki milmu pengetahuan dan wawasan yang luas, yang
memiliki kesehatan jasmani dan rohani yang prima, yang perilaku
kesehariannya bisa dijadikan suri teladan, dan yang tetap rendah hati,
dapat menerima kritikan dan nasihat dari masyarakat, itulah pemimpin
yang diharapkan akan mampu mengatasi masalah bangsa, dan itu pula yang
patut dijadikan pilihan utama, sebagaimana telah dicontohkan oleh para
sahabat Nabi.

Memilih presiden dan wapres tanpa pertimbangan-pertimbangan tersebut
dan hanya berdasarkan pada emosi pribadi dan kelompok, hanyalah akan
menjerumuskan bangsa dan negara ini pada kehancuran yang lebih parah
dan lebih dahsyat. Kita berdoa mudah-mudahan negeri ini akan dipimpin
oleh pasangan presiden dan wapres yang dicintai dan mencintai
masyarakat, serta memiliki kemampuan dan tanggung jawab untuk
memperbaiki nasib bangsa ini. Wallahu A’lam bi ash-Shawab.

  1. 6 Responses to “Meneladani Sikap Para Sahabat Nabi”

  2. By andreas on Sep 8, 2004 | Reply

    itu dulu, skr kan beda. enggak dikehendakipun ngeyel untuk ikut siapa tahu ada keledai yang bisa ditunggangi

  3. By Dev on Sep 15, 2004 | Reply

    Bagaimana seandainya jika calon pemimpin2 yg sekarang tidak ada yg memenuhi standar pemimpin islam? Jangan cuma dilihat ktp nya dia seorang muslim lalu lantas di pilih, bagaimana pertanggung jawaban kita dengan Allah?
    Mari kita bersama2 menegakkan syariah Islam! selama pemikiran masyarakat islami InsyaAllah pemimpin pun akan islami. Tapi jika pemikiran Rakyat masih sekuler maka pemimpin pun akan sekuler.

    Bagi saya lebih penting adalah mengganti sistem yg sekuler ini daripada hanya muter2 memilih pemimpin tapi yg sekuler!

    Tidak bakalan ada pemimpin islami yg bisa hidup di dalam sistem sekuler, begitu pun sebaliknya.

    Syukron

  4. By dian on Oct 2, 2004 | Reply

    Aku cinta Abu Bakar

  5. By anak adam on Dec 14, 2004 | Reply

    boleh tak senaraikan nama2 sahabat nabi yang tak berapa biasa didengari..selalu yang saya dengar adalah Umar,Ali,Hamzah dll…setahu saya nabi mempunyai 125,000 orangsahabat…jadi, boleh tuan senaraikan nama sahabat2 tersebut bersama sirah hidup mereka?
    saya mohon jasa baik kerana saya inin mengetahuinya dengan leebih mendalam.
    sekian,assalamualaikum.

  6. By anak adam on Dec 14, 2004 | Reply

    boleh tak senaraikan nama2 sahabat nabi yang tak berapa biasa didengari..selalu yang saya dengar adalah Umar,Ali,Hamzah dll…setahu saya nabi mempunyai 125,000 orangsahabat…jadi, boleh tuan senaraikan nama sahabat2 tersebut bersama sirah hidup mereka?
    saya mohon jasa baik kerana saya inin mengetahuinya dengan leebih mendalam.
    sekian,assalamualaikum.

  7. By hamba Allah on Aug 26, 2005 | Reply

    lumayan bagus

Post a Comment

Tentang Kami

Keluarga Muslim Delft adalah wadah kegiatan kemasyarakatan ummat muslim Indonesia di Delft yang bertujuan menggairahkan kegiatan-kegiatan tersebut dalam mengharapkan ridla Allah Subhanahuu Wata’ala.

Ingin Berlangganan?

 Subscribe in a reader
Cari :