Islam 1..2..3!
Beberapa waktu yang lalu saya terkesan dengan seorang ustadz yang datang ke Delft. Beliau menerangkan Islam melalui surat Al-Fatihah. Waktu itu beliau menekankan pada ayat ke-lima tentang ibadah “iyaka na’budu”. Beliau mengajarkan bahwa beribadah harus benar dengan mengikuti contoh yang benar. Beliau juga menekankan bahwa masuk Islam itu harus kaffah atau sekaligus. Kali ini saya mencoba dengan surat yang sama tapi melalui pendekatan progresif atau bertahap.
Tidak ada surat lain yang lebih cocok untuk dipakai mengenalkan Islam. Hanya surat Al-Fatihah yang cukup pendek, komplit dan menggunakan bahasa sehari-hari yang bisa dimengerti orang awam sekalipun.
Pertama, luruskan niat. Ada seribu satu tujuan seorang manusia memeluk Islam dan melaksanakannya. Jika ia ditanya, umumnya akan menjawab mencari ridha Alloh SWT (QS Al-Ahqaaf 46:15). Namun dalam surat Al-Fatihah ada dua hingga lima pilihan tujuan yang mungkin yaitu bersyukur kepada Sang Pencipta, mencari perlindungan Alloh, sekedar ingin lurus, mendapat kenikmatan dari Alloh, dan menghindari kemurkaan Alloh di ayat kedua, kelima, keenam dan ketujuh.
Apakah Alloh mampu dan mau memberikan perlindungan dan kenikmatan? Jawabnya tentu saja, karena Alloh adalah pemelihara alam semesta Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang serta menguasai Hari Pembalasan (ayat pertama hingga keempat)
Bagaimana caranya? Jawabnya yaitu dengan memohon petunjuknya dan mengabdi kepada-Nya dalam jalan yang lurus (ayat kelima dan keenam)
Kedua, ikuti jalan yang lurus. Jika dua puluh tahun yang lalu penulis ditanya apa itu “shirothol mustaqim”, mungkin penulis akan menjawab yaitu titian serambut di belah tujuh yang setiap manusia harus melaluinya di hari kiamat. Ajaran itu begitu merasuk sampai-sampai setiap membasuh kaki saat berwudhu, penulis selalu berdoa agar kaki ini melangkah dengan selamat dan cepat melalui titian serambut dibelah tujuh itu nanti.
Butuh waktu bertahun-tahun untuk akhirnya menyadari bahwa yang dimaksud dengan jalan yang lurus adalah yang disebutkan dalam surat Al-An’aam 6:151-152. Jangan menyekutukan Alloh, berbuat baik pada ibu bapak, tidak kikir, berlaku adil, dan menghindari perbuatan keji adalah yang pertama-tama kali harus dilakukan oleh setiap orang yang masuk islam.
Terutama mereka yang imannya masih lemah. Misalnya masih ragu-ragu terhadap ajaran ini dan itu dalam Islam. Atau mereka yang sholatnya belum teratur, ngajinya belum lancar atau puasanya masih beduk. Namun di sisi lain sholat jika dilakukan dengan benar selain untuk mengingat Alloh (QS 20:14) juga dapat mencegah perbuatan keji dan munkar (QS 29:45) dan menjaga diri dari api neraka (QS 74:43).
Ketiga, berjuang di jalan Alloh. Sebenarnya istilah Rukun Islam dan Rukun Iman agak membingungkan, karena mengesankan bahwa mereka yang memenuhi seluruh Rukun tersebut sudah beriman, padahal…
Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Alloh dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Alloh, mereka itulah orang-orang yang benar.
(QS Al-Hujuraat 49:15)
Jalur progresif mungkin terasa lambat namun bagi beberapa orang itu adalah satu-satunya pilihan karena imannya masih terus ditingkatkan. Di sisi lain orang yang mengambil jalur cepat kadang lupa meluruskan niat, misalnya bingung mana tujuan berjihad yang benar? Untuk meraih Firdaus surga tertinggi atau untuk mengislamkan seluruh manusia? Juga kadang keluar dari jalan yang lurus semacam melakukan perbuatan keji atau membunuh tanpa hak yang dibenarkan.
Namun muslim yang paling berbahagia mungkin adalah mereka-mereka yang menempuh jalur cepat masuk Islam secara kaffah menyeluruh namun dengan niat yang benar dan berusaha untuk tetap mengikuti jalan yang lurus. Mereka tidak menunggu hari tua. Mereka berjuang di jalan Alloh, meninggalkan kesenangan dunia, menempuh medan yang berat tanpa mengeluh sedikit pun semenjak usia yang belia.
Wallohu’alam.