Senyum

Written on November 11, 2003 – 4:17 pm | by MI Jambak |

Kalau ada yang paling saya suka dari etika orang Belanda, adalah senyum. Kenal nggak kenal, kalau ketemu di lift, kebanyakan mereka menyapa dengan Daag sambil tersenyum. Awalnya sih bingung, sebab ketemu bilang daag, pisah juga bilang daag, tapi akhirnya terbiasa. Lama-lama juga nemu padanan kata lain, yang lebih gampang di cerna, misalnya tot zien‘, tot kijk, atau tot straks yang kira-kira artinya sampai jumpa. Ketika masih tinggal di Rotterdam dan hari-hari harus bolak-balik Rotterdam-Delft, saya jadi terbiasa meng-copy kebiasaan orang belanda: mempersilahkan orang lebih dulu, menolong menahan pintu, menolong menurunkan kinderwagen (kereta bayi). Kalau sampe, dikantor, mulai tebar-tebar senyum sambil memberi salam goede morgen (selamat pagi). Sementara itu, ditempat keramaian sering kali tanpa sengaja menyenggol, menginjak kaki, menabrak orang, eh..tapi londonya malah bilang duluan: sorry hoor (maaf). Akhirnya saya jadi sering mempraktekkan kebiasaan wong jowo: mas..mas..maaf mas, kaki saya keinjek yang biasa dipraktekkan oleh orang belanda.

***

Loh emang ada yang salah gitu? Tanyaku pada diri sendiri setiap setelah menikmati menjadi orang sopan. Nggak sih, cuman kenapa kamu berbuat seperti hanya kepada wong londo? Tanya bagian lain dalam diriku setengah berteriak. Kalau sudah begitu, biasanya saya jadi terdiam mengawang-awang sambil melihat tayangan ulang kejadian-kejadian dirumah. Istri salah sedikit cemberut, anak salah sedikit dibentak. Wah…pokoknya beda banget sama kejadian-kejadian di kereta api atau kantor. Hati saya makin teriris-iris rasaya kalau bagian lain jiwa saya mulai main tunjuk-tunjuk. Itu khan istrimu, perempuan yang melahirkan anak-anakmu, yang mengurus rumahmu, yang kamu nikahi dengan nama Allah!!!???? Mana senyummu, mahal amat ! Nah, itu anak yang kamu bentak itu kan anakmu, wong anak orang aja nggak layak kamu bentak, ini koq malah anak sendiri. Biasanya, sering saya melirih sendiri…: kasihan istriku atau kasihan kakak asad atau kasihan adek ahmad atau kasihan adek abduh. Penyesalan yang tidak perlu terjadi.

Dalam sebuah hadits yang pernah saya baca (mudah-mudahan ini hadits shahih dan pernah diucapkan oleh Rasulullah), hendaknya seorang muslim mengungkapkan rasa cintanya pada orang-orang yang mereka cintai. Rasanya ada yang salah, kalau bilang cinta pada Allah tapi jarang memuji-mujiNya. Rasanya ganjil, kalau tidak ada manusia yang lebih layak dicintai selain Rasulullah, koq jarang bershalawat padanya. Sama istripun begitu, udah dinikahin dan (maaf) digauli lebih dari 9 tahun, koq bilang: Yang…I love you atawa Ik hou van je aja koq berat banget? Yang lucu lagi, ketika istri mulai maen (maaf lagi) pelak-peluk sambil bilang: yang…, abi sayang, ummi sayang deh sama abi.. koq ada perasaan geli. Ada perasaan apa gitu…geli…seolah-olah dia mau bilang: yang…peyangkayak di adengan srimulat. Paling-paling reply saya: Ah…apa sih??…kolokan kamu.

***

Lalu, apakah aku makhluk aneh sendiri??? Cobalah kita lihat, tidak jarang umat islam saling gontok-gontokan sementara berasyik mashyuk dengan umat-umat yang lain. Salah dikit jadi banyak. Salah kecil jadi besar. Pokoknya aku nggak suka deh sama dia!!!! Dia itu……bla..bla..bla…sampai kering air liur dan melonjak pulsa telefon pun kita masih merasa kurang memaparkan list kekurangan saudara muslim/muslimah kita. Tapi coba, kalau kita tanya diri kita sendiri, salah si anu tu apa??? Koq kamu sebel banget sama dia??? Paling-paling hati kita cuma bisa bilang:…omdatomdatomdat (karena…nge.. karena..nge karena….)

Itulah kita, atau setidaknya saya. Berat mengatakan yang seharusnya, tapi ringan mengumbar amarah dan nafsu permusuhan. Berat sekedar mengungkapkan kecintaan pada yang berhak menerimanya. Berat memaafkan kesalahan orang lain, bahkan orang yang terdekat dengan kita pun. Alangkah indahnya Ramadhan ini kalau curahan rahmah Nya mengalir di kalbu-kalbu kita.

***

Ya Allah, Ya Rahman, Ya Rahiem. Engkau janjikan akan mengabulkan doa-doa di bulan Ramadhan, maka kabulkan doa kami ini. Ya Allah, cintailah kami dan karuniakanlah kami cinta Mu agar kami dapat mencintaiMu, agar kami dapat mencintai rasulMu, agar kami dapat mencintain dienMu. Cintailah kami agar kami dicintai dan mencintai orang-orang yang mencintaiMu. Cintailah kami agar kami dapat mencintai orang-orang yang harus kami cintai. Limpahkanlah Mawaddah wa Rohmah Mu bagi keluargaku dan semua keluarga umat nabi Muhammad. Amien….

  1. One Response to “Senyum”

  2. By veri on Aug 6, 2005 | Reply

    Saya rasa apa yang saudara bilang ada benarnya juga,tapi di Indonesia ini hal itu belum terbiasa semoga aja yach,,, AMIN
    Semoga kita selalu dalam lindungan ALLAH SWT

Post a Comment

Tentang Kami

Keluarga Muslim Delft adalah wadah kegiatan kemasyarakatan ummat muslim Indonesia di Delft yang bertujuan menggairahkan kegiatan-kegiatan tersebut dalam mengharapkan ridla Allah Subhanahuu Wata’ala.

Ingin Berlangganan?

 Subscribe in a reader
Cari :