Paradox of life
I owe verymuch to my parents. I lost my mother in the year 2002. Although she could not read in English, I still wish she could see this text from heaven
Saya tercengung lama membaca potongan preface thesis teman sekantor saya asal RRC di atas. Seolah-olah ada mixer besar datang mengaduk-aduk perasaan dan pikiran saya saat itu. Tiba-tiba, saya begitu iri melihat teman saya ini sangat berbakti kepada orang tuanya. Pernah dia pulang ke RRC, dan ketika kembali ke Delft, dengan bangganya dia memutarkan rekaman handycam orang tuanya yang tinggal di rumah kampung yang sangat sederhana (menurutnya, orang tua mereka tidak mau pindah kerumah anak-anaknya yang lebih layak) kepada kami teman-teman sekantornya. Belum lagi pendidikan orang tuanya yang boleh dikatakan ‘tanpa pendidikan’ begitu njomplang jika dibanding dirinya yang lulusan sebuah aerospace instutute yang terkenal di RRC dan sebentar lagi memegang gelar “Doctor” dari TU Delft. Semua itu tak sedikitpun membuat teman saya itu malu apalagi menghalanginya untuk bangga dan cinta pada orangtuanya.
Saya mencoba untuk berempati dengan teman yang suka memanggil saya dengan sapaan ‘brother’ ini dengan mengenang saat-saat yang tak pernah terlupakan dalam hidup saya. Saat-saat saya dengan berlinangan airmata menulis surat kepada bapak saya sebagai pengantar copy paper saya yang diterima pada sebuah konferensi lokal. Sebagai seorang mahasiswa pascasarjana miskin dengan dua orang anak di negeri rantau, saya ingin sekali bapak saya bangga membaca namanya tertera disitu: “M.I. JAMBAK”. “Maaf pak, dek Iwan belum bisa membahagiakan bapak dengan harta, hanya ini yang bisa dek Iwan berikan kepada bapak….” Kalimat yang tak hanya tertulis di surat yang dikirimkan kepada bapak saya, tapi terukir di dalam lubuk sanubari saya yang paling dalam. Pada akhirnya, bapak saya tak pernah sempat membaca thesis master saya. Dan saya pun harus menulis di lembar dedikasi thesis master saya: “ this thesis is dedicated to the memory of my late father Ahmad Jambak….”. Saya begitu merasakan perihnya hati seseorang yang biasa menyapa saya dengan sapaan ‘brother’ setiap kami bertemu di koridor ini. Sama seperti saya yang sering membayangkan bapak saya tersenyum dengan senyum terindah yang dia pernah berikan pada saya; dipintu syurga; berbaju putih bersih seperti orang yang berihram menyambut saya; dan kalimat pertama yang akan saya ucapkan: “Pak, ini thesis master Iwan yang bapak belum sempat baca”; teman saya berharap ibunya ikut membaca thesisnya. Wallahu’alam bisshoab.
***
Maaf, sebenarnya saya bukannya ingin bercerita tentang kepedihan hati saya atau teman saya itu. Kembali kepada kutipan kalimat teman saya diatas, penggalan terakhir kalimat teman saya diatas telah menggambarkan banyak paradoks dalam kehidupan ini. Beberapa bulan sebelum saya tiba di negeri kincir angin ini (kira-kira pertengahan tahun 2000), seorang teman mengirimkan email panjang yang berisi paradoks kehidupan kita; manusia. Membaca apa yg ditulis oleh teman RRC saya itu, saya mencari-cari lagi email tersebut. Ah, gak ketemu…lirih saya. Bahkan account saya telah dihapuskan dan dinon-aktifkan lantaran bertahun-tahun tidak pernah dibuka. Syukurlah saya ketemu yang sedikit mirip, mungkin anda pernah mengakses ini:
The paradox of our time in history is that we have taller buildings but
shorter tempers, wider freeways, but narrower viewpoints. We spend more, but
have less, we buy more, but enjoy less. We have bigger houses and smaller
families, more conveniences, but less time. We have more degrees but less
sense, more knowledge, but less judgment, more experts, yet more problems, more medicine, but less wellness.
We drink too much, smoke too much, spend too recklessly, laugh too little,
drive too fast, get too angry, stay up too late, get up too tired, read too
little, watch TV too much, and pray too seldom.
We have multiplied our possessions, but reduced our values. We talk too
much, love too seldom, and hate too often. We’ve learned how to make a
living, but not a life. We’ve added years to life not life to years. We’ve
been all the way to the moon and back, but have trouble crossing the street
to meet a new neighbor. We conquered outer space but not inner space. We’ve
done larger things, but not better things. We’ve cleaned up the air, but
polluted the soul. We’ve conquered the atom, but not our prejudice. We write
more, but learn less. We plan more, but accomplish less. We’ve learned to
rush, but not to wait. We build more computers to hold more information, to
produce more copies than ever, but we communicate less and less.
These are the times of fast foods, and slow digestion, big men and small
character, steep profits and shallow relationships. These are the days of
two incomes but more divorce, fancier houses, but broken homes. These are
days of quick trips, disposable diapers, throwaway morality, one night
stands, overweight bodies, and pills that do everything from cheer, to
quiet, to kill. It is a time when there is much in the showroom window and
nothing in the stockroom. A time when technology can bring this letter to
you, and a time when you can choose either to share this insight, or to just
hit delete.
Anda tersinggung???
***
Mengenal dekat teman saya yang atheis ini, sepertinya keindahan puisi diatas jadi berkurang karena ada paradoks lain yang belum digambarkan. Suatu hari kami sempat berbincang-bincang tentang urusan visa, yang berujung masalah mengisi kolom” religion”. Sang teman dengan mantap mengatakan: “Ya, saya coret aja!, wong saya tidak punya agama koq!” Saya tidak ingat apakah dia pernah mengatakan tidak percaya tuhan atau tidak. Tapi, praktisnya dia berjalan tanpa tuntunan. Bagi saya, sulit mengerti seseorang yang tidak percaya kepada Tuhan, tapi bisa meyakini adanya Syurga. Bagaimana mungkin Jannah bisa wujud tanpa adanya Sang Pecipta. Apalah artinya sang teman mempercayai kehidupan setelah mati padahal tidak mempercayai Sang Pencipta hidup dan mati? Ah paradoksial abis dah….
Pernah dia pulang dari mainland nya, membawa semacam jimat pembawa keberuntungan dan tolak balak buat saya. Lalu dia bercerita banyak tentang aturan-aturan fengshui yang dinegaraku sekarang sangat digemari. Air mukanya yang tadinya bersemangat bercerita tiba-tiba berubah ketika aku berbalik dan menatap dalam ke matanya. “Kamu percaya ini? Bagaimana mungkin engkau menertawakanku mempunyai Tuhan, padahal kamu percaya pada barang-barang beginian. Kalo gue nie, simply I don’t believe it !” Saya tidak pernah melupakan wajahnya yang gelagapan menanggapi ucapanku.
Saya hampir-hampir bisa mengerti paradoks ini – sebelum menemukan paradoks yang lebih besar lagi – ketika mendengar penjelasan kolega saya yang sedang mengerjakan postdoc nya, juga dari RRC dan seorang loyalis partai komunis cina yang berkuasa. Ia menjelaskan kenapa Islam diprediksi sulit berkembang di Cina sekarang. Kalau agama lain, apapun yang dipeluk, dapat digantikan dengan yang lain. Dia lalu memberi salah satu contoh agama didunia ini, atau si teman saya yang atheis tadi. Padahal dalam keseharian mereka, mempraktekkan Konfusuisme, Taoisme, dan hal-hal seperti fengsui tadi. Jadi agama hanyalah jadi wadah untuk meng-encapsulate-kan keinginan-keinginan manusia. Tapi kamu, muslim (sambil menunjuk saya), kalau kamu percaya dengan Allah (tentu dengan lidah cedalnya) kamu tidak meminta kepada siapapun lagi. Kamu cuma mau menyembah Allah, kamu berharap pada Allah. Nah ini susah, dan membahayakan negara.
Tiba-tiba saya seperti dijepit oleh balon besar yang bernama paradoks, sehingga saya nyaris susah bernafas. Bagaimana mungkin, seorang loyalis partai komunis yang notabene adalah seorang atheis, dapat menjabarkan Islam dengan gamblang, simple, sebagaimana semangat surat Al-Ikhlas. Sementara kita ummat islam, seringkali memakai jalan berbelit untuk memohon pada Yang Maha Kuasa, bahkan disaat-saat genting, saat-saat tiada pertolongan selain dariNya, saat-saat bahaya mengancam, bahkan saat-saat Ia menampakkan kuasanya. Cobalah simak berita beberapa hari ini, masyarakat suatu daerah, yang ketakutan dengan tsunami, diperintah memasak sayur lodeh untuk menghindari balak. Melabuhkan binatang-binatang korban ke laut-laut, berebut kue untuk dapat berkah dan syafaat. Bahkan, seorang relawan di Atjeh -dimana Allah menunjukkan kuasaNya, menghancurkan segalanya dan menyelamatkan rumah-rumah ibadahNya – dengan sedih bercerita bahwa mesjid-mesjid yang berdiri kokoh sebagai bukti adanya Sang Kholik, malah sekarang jadi sarang syirik (karena dianggap keramat bisa selamat dari gelombang tsunami). Belum lagi, banyak yang bergelar ulama, tanpa segan-segan mengangkat dirinya sendiri, sebagai jalur bebas hambatan bagi siapa saja yang berharap padaNya. Ada lagi, yang menganjurkan berdoa di dekat makam-makam, agar suaranya lebih didengar oleh Nya, disebabkan karomah seseorang yang telah mati yang padahal tidak bisa membawa manfaat maupun mudharat sedikitpun.
dan Dia memperkenankan (doa) orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal yang saleh dan menambah (pahala) kepada mereka dari karunia-Nya. Dan orang-orang yang kafir bagi mereka azab yang sangat keras.Alquran 42:26
Hanya bagi Allah-lah (hak mengabulkan) doa yang benar. Dan berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memperkenankan sesuatu pun bagi mereka, melainkan seperti orang yang membukakan kedua telapak tangannya ke dalam air supaya sampai air ke mulutnya, padahal air itu tidak dapat sampai ke mulutnya. Dan doa (ibadah) orang-orang kafir itu, hanyalah sia-sia belaka
Alquran 13:14
Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati (Nya).
Alquran 27:62
***
“Coba lihat, Indonesia bilangnya negara muslim terbesar didunia. Tapi korupsinya nomor tiga di dunia (kalau tidak semestinya nomor satu). Padahal pejabat-pejabatnya diangkat dengan bersumpah membawa qur’an. Soal akses pornonya, Indonesia adalah nomor dua, cuma satu kelas dibawah Ukraina.” Kata seorang teman menggerutu.
Saya mulai me-list paradoks-paradoks bangsaku ini:
Disini di Belanda, walaupun malu-malu, sebenarnya jumlah pemeluk atheis telah melebihi penduduk yang mengaku beragama. Lucunya, disini gak pernah terdengar ada orang kesurupan, orang pake jimat jika ingin naik gaji atau lancar urusan dagang. Tayangan mistik kalaupun ada, jadi cuman bahan tertawaan atau bagi yang pengen rileks dengan cara lain (tegang-tegang asyik seperti rollercoaster). Kontras sekali dengan tayangan mistik-mistik yang jadi andalan hampir setiap tv Indonesia. Tayangan orang kesurupan, dll. Mempercayai hal-hal gaib, lebih kuat dari dorongan untuk berbuat baik. Alhasil untuk urusan gaji, hasil dagang, bahkan jabatan politik, ketimbang kita memperbaiki diri sendiri, kebanyakan kita mengandalkan kyai, jampi, kuburan, dll. Bahkan mau bisa bahasa, di Indonesia orang tidak lagi pergi ke kursus bahasa, tapi ke kyai.
Bagaimana kita bisa menyebut diri kita beriman? Padahal qur’an mengatakan:
Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah setan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman
Alquran 3:175
Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan setan itu, karena sesungguhnya tipu daya setan itu adalah lemah.
Alquran 4:76
Yang susah, kalau anak-anak ingusan, anak-anak saya, anak-anak anda, anak-anak kita mulai bertanya tentang paradoks-paradoks ini:
“Kenapa Indonesia negara muslim tapi banyak yang korupsi?”
“Kenapa Indonesia negara muslim tapi banyak setannya?”
“Kenapa Indonesia negara muslim tapi orangnya banyak merokok?”
“Kenapa Indonesia negara muslim tapi banyak penjahatnya?”
Anda punya jawabannya????
***
Delft, akhir april, menjelang defense Cheng-Shen Wang
Teruntuk ‘adikku’ Gea Parikesit yang selalu mengajarkanku untuk tidak berparadoks dalam hidup ini. Juga untuk ‘anakku’ Oki Murazza dan Cak Supri yang selalu menertawakan paradoks hidupku.
11 Responses to “Paradox of life”
By Gea on Apr 25, 2005 | Reply
Hmm… mengajarkan untuk tidak berparadoks?
Jadi malu euy. Soalnya saya tidak pernah merasa mengajar/menggurui, apalagi soal paradoks yang terdengar rumit.
Ini benar-benar paradoksial..
Gea.
By Kms Muhammad Saleh on Apr 26, 2005 | Reply
Assalamualaikum,
Terima kasih atas artikel nya … so nice … dalam, penuh makna … Insya Allah saya akan sebarluaskan kepada teman-teman.
Wassalamualaikum.
Kms Muhammad Saleh
By supri on Apr 26, 2005 | Reply
Kalau orang Surabaya bilang Paradox hidup = “Ndak Tamtu”
Tertawa saya, karena saya juga makin berumur
makin “Ndak Tamtu” yang saya pahami dalam hidup.
Dus, indah sekali memang tulisan “Ndak Tamtu”-nya hidup yang Abang Tuliskan.
Akhirnya ingat pepatah surabayan :
Bejo-bejone sing Eling Cak (Yang Beruntung yang ingat saja)
Tapi Untung yang mana …. “Ndak Tamtu”….
Cak Super
By Oki on Apr 26, 2005 | Reply
Muakasih Pak, sudah menulis tentang paradoks untuk mengingatkan kami
Saya jadi ingat kisah the alchemist.., kita suka “sadar” kalau ‘mimpi’ bisa membuat kita tergelincir, tapi ko suka menikmati ‘mimpi’…dan memilih ndak “sadar”
Omz
By farida ali on Apr 29, 2005 | Reply
Saya suka ini, saya sedang menikmatinya dan akan mencernakan, mudah2an akan menyebarkan, merci mon ami et aurevoir.
By helman on Apr 29, 2005 | Reply
Paradox of the author. Keras tampangnya. Lembut hatinya. hehee…peace…
By wik on Jun 6, 2005 | Reply
ada jawaban ….
itu semua karena negara ini adalah negara indonesia. negara yang mendapat peringkat terbawah dalam semua hal.
tenanglah sobat negara kita masih tahap belajar marah dengan keadaan ini dak apa apa, asal jangan putus asa…
By rudal91 on Jun 28, 2005 | Reply
ah.
bung yang bener aja
emang indonesia negara islam ?
By rudal91 on Jun 28, 2005 | Reply
Master dari paradaox yang pernah lahir dan tercatat dalam “sejarah” is Nabi Khiddir as.
dan beliau selalu mempunyai jawabannya dan logis , soalnya Musa pun mengakui akan hal itu.
Aku yakin , MI JAMBAK punya jawabannya :))
By liana_ann2000 on Jun 3, 2006 | Reply
tulisan yang bagus. Memang banyak hal dilamatik menyangkut masalah agama khususnya islam. Apalagi dari sudut pandang orang yang tidak tahu sama sekali masalah agama. Dalam hal ini terutama orang atheis. Mereka beranggapan islam adalah agama yang keras, suka dengan kekerasan. Semoga kita sebagai muslim sejati dapat membuktikan bahwa islam itu membawa kedamaian
By fahmi agussalam on Apr 29, 2007 | Reply
wan, tlg balas emailku ya….