Kinderen Kopieeren
Dalam beberapa minggu ini, sepanjang perjalanan rutin Rotterdam-Delft, saya sering kali melihat billboard kampanye anti rokok di Belanda. Ada macam-macam pamflet yg terpasang, mulai dari bahaya rokok di tempat kerja sampai ajakan menabung uang jatah rokok untuk masa depan anak. Ada satu jenis pamflet yang sangat menarik perhatian saya yang diberi judul gede-gede Kinderen Kopieeren atawa terjemahan ska (sekenanya aja) adalah “Anak Mencontoh”. Mulanya sih, saya kagum akan usaha pembuat pamflet, dari mencari model ayah-anak atau ibu-anak yang sangat mirip kemudian dengan olahan elektronik grafis, membuat audien pamflet menangkap pesan yang ingin disampaikan dengan mudah, walaupun hanya sekelebat pandangan dari dalam bus atau metro. Tapi makin sering melihat pamflet-pamflet tersebut koq, jadi kepikiran banyak hal, dari rokok, anak, keluarga, sampai dakwah.
***
Chairman Mao adalah perokok berat, tapi umurnya panjang koq ! kata seorang warga PRC kepada seorang teman saya. Tentu saja teman saya yang bukan perokok tersebut jadi nyengir kuda menahan kedongkolan hatinya. Untung ada temannya yang londo cepat menimpali: Kalo dia kagak merokok sih, umurnya lebih panjang lagi. Bicara soal rokok, adalah bicara tentang perdebatan panjang yang tidak ada habis-habisnya. Ada kelompok-kelompok di Indonesia, yang Pak Yai nya selalu mengepul mulutnya saat memberikan pengajian atau sekedar lesehan sore, ngotot bahwa rokok itu nggak haram. Wong Qur’an itu sudah kumplit, kalo haram mosok kagak dicantumin? Sementara yang lain, ngotot bahwa merokok adalah perbuat sia-sia alias mubazir. Mubazir itu adalah temannya setan, ini jelas ditulis eksplisit oleh Al-quran. Ada lagi yang menganggap bahwa ketergantungan pada rokok bisa merusak aqidah seorang muslim. Katanya, merokok adalah bentuk ketergantungan kepada selain Allah, padahal seorang muslim hanya boleh menggantungkan seluruh jiwa dan raganya hanya pada Allah. Lain lagi dokter, hampir semua dokter sepakat bahwa merokok adalah tidak sehat bahkan dipercaya sebagai sumber berbagai penyakit, mulai dari kanker paru-paru, kanker tenggorokan, sampai masalah obesitas. Tapi tidak untuk dokter kejiwaan, bahwa rokok adalah bagian dari tindakan medis selain pemberian obat-obat penenang (yang tentu saja jelas banyak efek sampingnya). Bahkan, di Belanda, sudah ada rencana untuk memasukkan ganja/mariyuana sebagai obat yg bisa dibeli bebas di apothek. Nah, anda sendiri bagaimana??? Masih adakah argumen yang ingin anda keluarkan untuk membela atau ada sisa hujatan yang belum tertuliskan? Yang pasti seorang teman saya lebih memilih mundur dari pengajian ketika dia diultimatum oleh sang murabbi untuk memilih pengajian atau rokok. Satu sikap yang tidak saya benarkan dan saya sesalkan dari keduanya.
Gara-gara berhenti merokok sekitar 13 tahun yang lalu, saya sering kelimpungan jika mencium asap rokok yg dihembuskan oleh perokok di tempat-tempat umum. Saya menjadi orang yang tidak berakhlaqul karimah dan entah sudah berapa kali saya hampir berantem karena menegur orang yang merokok di tempat umum. Juga gara-gara berhenti, paling tidak banyak uang saya yang dipakai untuk keperluan lain. Seorang ustadz pernah mangajak saya berhitung cara bodoh-bodohan. Dia bilang, jika penduduk indonesia jumlahnya 200 juta jiwa, katakanlah yang berumur 15-35 tahun ada 20 prosen (kayaknya sih lebih dari itu) berarti ada 40 juta orang. Bila diambil prosentasi kasar 50 prosen dari kelompok tersebut adalah perokok maka ada 20 juta perokok di Indonesia. Jika diambil prosentasi bahwa 90 prosen dari kelompok tersebut adalah muslim, maka ada 18 juta muslim perokok di Indonesia. Jika saja mereka merokok 1 batang per hari, maka paling tidak setiap harinya umat islam di Indonesia telah kelihilangan dana sebesar 1,8 milyar rupiah perhari (jika sebatang rokok Rp 100,-). Berapa kehilangan kita dalam seminggu? Sebulan? Setahun? Sewindu? Coba bayangkan, kalau kita pake uang tersebut untuk bikin pempek???? Becanda? Tidak juga, soalnya, pempek telok gizinya terlalu mewah buat saudara-saudara kita yang makan tiga hari sekali, itupun kalau nemu jatah di tong sampah.
“Abi, merokok itu merusak paru-paru yah?”
“Merokok itu bisa merusak otak yah?” Tanya anak saya mencecar.
Tentu saja saya menjawab dengan gampang: “Iya.” Terus, sebagai orang tua saya tidak menyi-nyiakan kesempatan untuk berlagak jadi orang yang wise.
“Nak, merokok itu bisa menjadi awal mencoba obat-obatan, minum alkohol, isap ganja. Makanya, kalo kamu ditawarin oleh teman kamu untuk mencoba merokok, jangan diterima dan bilang aja: Ik ben muslim.”
“Tapi…………., kenapa dulu abi merokok?”
Duh, kena akoe. Untung saja, anak saya cepat memberikan pertolongan:
“Dulu abi nggak tahu ya?”
“Makanya abi merokok.”
Merasa ada celah untuk berkelit, saya mengatakan: “Nak, ambillah contoh yang baik dari abi dan ummi, dan tinggalkan yang jelek dari abi dan ummi.”
Hhmmm…. memang enak jadi orang tua, nggak pernah kalah. Saya pikir saya selamat dengan statement tersebut diatas, padahal itu adalah jebakan skak mat anak saya.
“Tapi sekarang khan abi udah tahu kalo merokok itu jelek, tapi koq abi nggak kasih tahu Pak Ucu dan Bapak yang merokok???!!!.”
“Pak Ucu kan adiknya abi, Bapak tu kan kakaknya abi?” Duh…kena dua kali akoe………………….
***
Kalau tidak salah interpretasi, pamflet “Kinderen Kopieeren” itu membawa pesan, bahwa generasi perokok dibentuk oleh generasi sebelumnya. Dan kalau mau direnungkan lebih jauh, maka hampir semua tingkah laku anak sebenarnya hasil copy dari lingkungannya, termasuk-tentu saja- orang tua dan rumah sebagai lingkungan terdekat dengan mereka. Banyak hal-hal kecil (yang berpengaruh besar bagi pertumbuhan kejiwaan anak) kita turunkan tanpa kita sadari. Tanpa kita sadari, misalnya, kita mengajari anak berbohong ketika kita naik tram atau bus. Mentang-mentang ukuran badan anak orang indonesia rata-rata lebih kecil dari anak londo, kita suka curi-curi umur anak. Anak yang tahu bahwa umurnya sudah lebih dari empat tahun (dan harus bayar) jadi dapat pelajaran ber-licik ria ala orangtuanya. Kalau di Indonesia mah, lebih parah lagi. Anak umur lima tahun bisa jadi infant kalau ikut naik Merpati atau Garuda. Kalau mau kita kumpul-kumpulkan kebohongan-kebohongan yang kita ajarkan, baru kita ngeh kenapa anak kita jadi senang berbohong.
Lain lagi adalah ajaran sewenang-wenang yang kerap kita turunkan kepada anak-anak kita. Nak jangan nonton itu nak, itu banyak yang tidak baik dan tidak cocok buat orang islam ! Tapi begitu jam tayang box office, anak-anak belum tidur, kita jadi marah-marah. Tidur kamu, besok sekolah (de….) padahal kebelet banget mau nyetel televisi. Intip-intip anak udah naik tempat tidur, coba-coba tivi diidupkan pelan-pelan. Loh…abi koq nonton?, kenapa nonton? Kita khan sama-sama orang islam? Kenapa orang islam besar boleh nonton? Anak kecil islam nggak boleh? Ah….kamu banyak tanya……sana tidur kamu….besok sekolah!
Hati anak yang sensitif pun sering kali kita paksa meng-copy jiwa kita yang kasar. Kita tanamkan rasa jijik pada peminta-minta ketimbang rasa asih yang seharusnya mereka rasakan. Kita contohkan kepada mereka hardikan yang tidak berperikemanusian. Ketika ada teman dalam kesusahan dan memerlukan pertolongan, kita justru mengkebiri rasa persaudaraan yang sebenarnya gampang tumbuh dalam diri seorang anak. Kita nggak bisa bantu sianu tuh, ini uang buat belanja mainan anak. Alah…nggak ada waktu, weekend khan acara keluarga. Ketimbang menanamkan tali silaturrahim kepada anak, kita lebih senang jalan-jalan bersama keluarga atau menolak kunjungan teman dengan alasan: weekend kami off !!!
***
Hati saya sering kali tersayat-sayat jika melihat tingkah pola anak-anak saya. Pernah saya melihat muka merah anak tertua kami ketika ia dalam keadaan marah. Ya Tuhan….aku melihat diriku disikapnya,…pernah hati saya merintih. Ketika melihat adiknya solat asal-asalan, dengan marah didorongnya adiknya sekuat tenaga sambil teriak: “Kalo solat nggak boleh main-main!!!”
Makin sering saya menghitung salah copy anak-anak saya dan istri saya, makin sering hati saya berontak ketika mendapat tawaran khutbah atau ceramah. Apa….yang harus saya sampaikan? Hatiku sering membatin. Topik sabar? Menegakkan dienul haq? Kasih sayang? Koq kayaknya munak banget ah! Tapi mosok harus topik menikah terus….?
***
Tuhan, di Ramadhan yang suci ini, aku mohon ampun kepadamu. Ampunilah aku yang jadi cermin buram yang retak bagi anak-anakku. Perbaikilah akhlaq ku dan perbaikilah pula akhlaq keluargaku. Sesungguhnya Engkau telah menciptakan kami dalam sebaik-baik kejadian, maka sempurnakanlah pula akhlaq kami. Amien…..
One Response to “Kinderen Kopieeren”
By harunjo on Nov 1, 2006 | Reply
merokok memang berbahaya dan bikin polusi yah, tapi justru bahaya polusi kota yang di sebabkan asap kendaraan yang tiap hari kita nikmati itu lebih bahaya dari pada asap rokok, antisipasi polusi kendaraan ini simple, di mulai dari diri kita sendiri ajah, kita2 yang gak merokok justru penyumbang polusi terbesar lebih dari perokok yang sumbernya dari kendaraan yang kita gunakan. sudah saat nya kita bertanggung jawab
http://www.b2w-indonesia.or.id