Ketika Senyum Mereka Merekah
Mungkin diantara anda pernah mendengar cerita kisah keluarga di zaman Tabi’tabi’in. Mudah-mudahan tulisan ini bisa menyegarkan pikiran anda akan kisah ini. Alkisah, kurang lebih diceritakan bahwa anak mereka sakit keras, sementara sang suami tetap harus berda’wah. Sang istri selain menjalankan kewajiban menjalankan kewajiban melayani sang suami, ia juga dengan kasih sayang menjaga anak mereka yang tengah menunggu ajal. Ketika panggilan azan terdengar, pergilah sang suami menunaikan shalat ke masjid. Tak lama setelah kepergian, sang suami, sang anak tercinta menghembuskan nafas terakhirnya. Sang istri, pun pasrah mengucapkan: “Innalillahi wa inna ilaihi roji’un”. Ia lalu meletakan anak mereka ditempat tidur, seolah2 sang anak tidur lelap. Tak larut dalam kesedihan. Segera ia memasak buat suaminya, seolah-olah akan menjamu seorang tamu agung. Selesai masak, sang istri segera berbersih-bersih, mengganti baju yang indah, dan mempercantik diri. Sejurus ia berdiri didepan pintu, menunggu sang suami pulang dari masjid.
Sang suami yang pulang dari masjid, dengan cemas menanyakan keadaan anak mereka. Sambil tersenyum, sang istri menjawab “Alhamdulillah, ia telah lebih tenang sekarang.” “Marilah dulu bersamaku dulu,” ujarnya sembari menarik tangan suaminya menahan suaminya pergi ke tempat tidur. Lalu ia ditemaninya sang suami menyantap makanan yang telah ia persiapkan. Mereka lalu bercengkrama, bermesaraan, dan pada saat-saat sang suami hatinya bahagia sang istri bertanya: “Bang, jika ada orang yang meminjam barang kita, tetapi kemudia ketika kita minta kembali barang kita dia marah-marah, bagaimana menurut Abang orang seperti ini?” “Itu pasti orang yang tidak tahu berterima kasih !” kata sang suami. “Bang, sesungguhnya anak yang dititipkan kepada kita, telah diambil oleh Sang Pencipta kembali ke haribaan Nya.”
Kisah lainnya, adalah kisah seorang ulama pergerakan di Mesir. Hampir mirip dengan kisah diatas, diapun harus meninggalkan anaknya yang sakit keras demi memenuhi panggilan dakwah. Ketika, sang istri memintanya menemani anaknya yang sakit keras, ia pun dengan lembut menasehati istrinya agar bertawakkal pada Rabb yang ia agungkan di jalan da’wah. Pergilah ia menemui orang-orang yang haus akan siraman rohaninya. Suatu hari ketika ia diatas podium didepan massa yang mengerumuninya, seseorang mendekat dan membisikkan sesuatu padada. Sejenak, ia berhenti lalu melanjutkan da’wahnya. Selesai berpidato, ia masih memberikan kesempatan kerumunan massa yang ingin menyalaminya. Setelah massa telah berkurang, barulah sebagian mereka mengetahui bahwa salah seorang yang paling dicintai oleh sang da’i telah berpulang ke Rahmatullah.
***
Kisah-kisah diatas sepertinya cuma dongeng buat para bujangan yang sering dikomporin oleh para murabbi agar segera menikah. Jauh dari kenyataan. Kalaupun ada, mungkin tetangganya bukannya kagum, tapi malah bilang “Ah..gak normal.”
Iya, sekarang orang jadi terasing dengan ketabahan dan senyuman orang yang berduka. Seolah orang yang tersenyum saat duka melanda adalah orang-orang gak normal. Padahal orang-orang juga banyak yang tidak terpengaruh ketika melihat orang lain menerima musibah. Mereka sibuk dengan urusan-urusan mereka sendiri, bahkan ketika Aceh dilanda musibah, jangankan berduka, untuk tidak berpesta ria saja banyak orang Jakarta gak bisa terima. Bahkan, sang gubernur malah berdankdut ria. Jadi bingung nie, mana yang normal, mana yang gak normal.
Saya dapat menceritakan kejadian yang benar-benar terjadi dalam kehidupan ini. Ini kisah keluarga veteran ABRI tetangga saya di Cimahi dulu. Saya kurang mengenal dekat keluarga tersebut. Sekali-sekali saya pernah bertemu, dan mereka terlihat ceria. Suatu hari, tetangga saya lain datang mengetok rumah saya, sambil berbisik-bisik dia mengabarkan bahwa istrinya sang veteran meninggal dunia karena serangan jantung. “Tapi pak, maaf ya, jangan ketahuan kita saling memberi tahu yah, karena bapak anu (sang veteran tersebut) tidak mau diumumkan. Mereka punya keyakinan seperti itu !” Lanjut tetangga saya sambil berbisik. Ketika kami berada dirumah “duka” tak nampak sedikitpun kesedihan diwajah si Bapak dan anak-anak. Malah, anak-anak Bapak itu sibuk menghibur menantu-menantu bapak tersebut agar jangan bersedih dan berhenti menangis. Pada kesempatan itulah, tetangga saya bercerita, bahwa keluarga itu kadang makan, kadang puasa, tergantung rezeki yang mereka dapat hari itu. Uang pensiun sang veteran tersebut kabarnya sering disunat dan terlambat datangnya. Kadang-kadang, sang Bapak harus berjam-jam menemani kolega veteran lain bermain catur lengkap dengan seragam veteran mereka, untuk mendapat dua atau tiga potong kue sisa konsumsi. Memang beberapa kali, saya sempat berpapasan dengan sang Bapak pulang membawa bungkusan plastik berisi 3 potong kue (mungkin onde-onde). Tuhan, ampuni saya……..
Ketika keranda sudah mulai diusung, sempat-sempatnya mereka foto bareng; berfoto sambil memeluk keranda seolah-olah sang Ibu belum meninggal. Ketika tanah mulai diuruk, dengan tenang sang Bapak melambaikan tangannya kepada mayat istrinya yang terbungkus kafan. “Yo…Dek Wati…Selamat Jalan !” Padahal saya dan yang hadir dipenguburan tersebut tersedak menahan airmata. Salah seorang pengantar, yang tadinya terlihat usaha kerasnya menahan airmata, berbisik kepada saya “Ini mah…gak normal!”
***
Belanda…Delft….Hmmm…………..Bagi saya banyak yang indah-indah yang akan saya kenang. Tapi juga, tidak sedikit yang ingin saya lupakan. Mulai dari sistem anti-asing yang munafik, kehidupan individualis yang menyebalkan – bersilaturrahim harus buka agenda, hitungan materi jadi hal yang penting, informasi penting dianggap harta karun yang orang lain tidak boleh tahu, sampai menganggap biasa bila mendengar seseorang mangalami musibah – Yang paling banyak bicara cinta, tapi juga yang paling keras membenci golongan lain. Yang manggil seseorang dengan sebutan“akhi”, tapi tak berniat menolong, bahkan minta bayaran. Aduh…aduh…
Bercermin dari ini dan melihat reaksi balik diri saya, saya harus jujur mengatakan bahwa, sebenarnya saya juga tidak jauh dari kualitas seperti itu. Maka doa dengan mengenadahkan tangan penuh harap padaNya: “Ya Allah mudahkan kami memperbanyak zikir dan bersyukur pada Mu, dan sempurnakanlah ibadah kami” (Hadits Mu’az sesungguhnya nabi bersabda -shallallahu ‘alaihi wa sallam- : Janganlah kamu meninggalkan sama sekali di dubur setiap shalat untuk mengatakan : “Allahumma A’inni Ala Dzikrika Wa Syukrika Wa Husni ‘Ibadatik” dikeluarkan oleh Abu Daud,Tirmizi dan An Nasai dengan sanad yang shahih.) Menjadi begitu bermakna.
“Ya Allah telah kau ciptakan aku dalam kesempurnaan, maka indahkan pula akhlaqku” Menjadi doa yang tak selalu ketika harus bercermin.
“Ya Allah, berilah kami kekuatan harta, kekuatan ‘aqal, kekuatan jasad, kekuatan ruhani, dan kekuatan AKHLAQ.” Sepertinya menjadi doa yang tak kunjung disempurnakan.
Terlepas dari semua itu, ada tiga keluarga yang rasanya takkan hilang dari ingatan saya. Dimana saya sering merasa kerdil dihadapan mereka.
Keluarga pertama, yang menyebabkan saya ada di Belanda ini. Ketika keputusasaan makin menyergap saya bersamaan datangnya kebahagian sesaat setelah menerima panggilan wawancara untuk posisi PhD saya saat ini. Saya harus menerima perjanjian dimana posisi saya benar-benar dimanipulasi. Saya harus berangkat dan mengusahakan sendiri visa dan tiket pesawat terbang. Okay, thats fine. Tapi, jika saya diterima, tiket tidak diganti, kalau ditolak maka tiket akan diganti. Duh gila bener nih Belanda…Padahal pada saat itu beasiswa sudah terhenti, istri akan melahirkan, rasanya gak mungkin saya punya uang Sing$ 800. Saya coba datang kebeberapa “ikhwah”, para pengajar yang hidupnya telah establish. Tapi semua menggeleng: “afwan, lagi belum bisa.” Ada lagi “ikhwah” anak orang kaya, yang walaupun saya keberatan, tapi saya diminta berkirim imel kedia minta bantuan, ah..jangankan bantuan, imelpun tidak dibalas. Maaf saya bukannya mau menjelek-jelekan orang. Bisa jadi semua orang punya masalah, sehingga tidak mungkin membantu. Tapi dari cerita ini, saya inging mengungkapkan keagungan akhlaq orang yang saya kagumi tersebut.
Keluarga tersebut yang terpisah dari kami diseberang selat, mendengar selentingan tentang kesulitan kami. Kemudia ia mengirim email panjang yang isinya melulu mendorong saya dan harapan agar saya tidak berputus asa. Mendekati hari-hari keberangkatan, tiket tak juga berhasil dibeli. Tiga hari menjelang tanggal yang telah diputuskan, dia berkirim imel, kalau dia minta saya datang ke kantornya, dan akan menemani mencari tiket. Singkat cerita, keesokan harinya saya tiba di kantornya. Tapi saya hanya menemui catatan yang ditempel didinding kerjanya. “Maaf, gak bisa menemani, ini ada booking tiket antum. Saya ke Bandung pagi ini, istri melahirkan”
Saya begitu terperanjat, ketika disodori tiket ke Amsterdam. Lhoh…ini kan booking tiket, saya gak punya uang buat bayarnya. “It’s already paid”, kata agent tersebut. Jadilah saya berangkat ke Amsterdam. Ketika hampir 3 hari penuh, sarat dengan presentasi dan wawancara, dan harus minum kopi tiap wawancara, akhirnya saya menunggu detik-detik menegangkan. Rapat calon professor, calon daily supervisor, calon associate professor, dan personalia. “Selamat, anda diterima di group ini, seluruh group menerima tanpa seorangpun yang punya keberatan” Kebahagian dengan cepat berubah jadi kebingungan, bagaimana membayar tiket ini. Berbulan-bulan, tiket itu jadi hutang yang membuat saya cemas mengenai hari esok saya. Sayapun menulis wasiat, yang saya titipkan ke istri saya, intinya, tolong bayar hutang ini jika saya meninggal dan belum sempat melunasinya. Kemudian, datanglah saat saya harus segera memulai proses PhD ini. Masalah lama terulang lagi. Motor warisan saya cuma dihargai beberapa juta, jauh dari cukup untuk membeli tiket ke Amsterdam. Pinjam ke saudara yang lebih mampu, tak satupun memberi respon. Saya pun akhirnya memutuskan untuk tidak berangkat. Lagi-lagi keluarga ini datang, menawarkan jasa. “Akhi, credit limit kartu kredit saya masih cukup koq. Jangan takut, saya akan dapat proyek. Lumayan, saya akan digaji Sing$ 4000 per bulan” Katanya menyakinkan saya untuk berangkat.
Beberapa bulan awal di Belanda, sangat menyakitkan. Tak ada kejelasan kapan bisa dapat rumah, kapan keluarga bisa datang. Sang teman akhirnya juga diterima sebagai PhD di kota lain di Belanda. Ketika mendengar, saya kesulitan mencarikan tiket buat keluarga saya ke Belanda, dia datang dengan Gulden ditangan. “Nih, saya gesek lagi kartu kredit saya buat tambahan.” Katanya sambil tersenyum. Padahal, saya masih mencicil hutang-hutang saya padanya yang lama. Pada akhirnya, saya tahu, bahwa gaji Sing$ 4000 per bulan itu tidak pernah ada. Proyeknya batal. Yang ada dia mengajarkan kepada saya cara ber-ukhuwah, dengan senyumnya menutupi segala kesulitan mereka sendiri buat seorang saudaranya…..
***
Keluarga kedua yang ingin saya ceritakan adalah keluarga yang selalu ceria jika menerima tamu. Dalam pergaulan, tak pernah ada terdengar sekalipun keluarga ini pernah clash. Padahal, Delft yang kecil ini memungkinkan terjadi gesekan-gesekan. Hampir tiap PhD yang selesai, mencantumkan keluarga ini dalam acknowledgment thesis mereka. Selain rendah hati, keluarga ini seperti tak pernah punya masalah dengan siapapun.
Satu ketika, kami yang pada waktu itu masih tinggal di Rotterdam, akan berkunjung ke keluarga ini. Seperti biasa sebelum berangkat kami memberi tahu bahwa kami akan datang (wah ketularan Belanda nie yee….). Diseberang telefon sana dia menjawab: “Oh iya bang, silahkan datang.” Ketika sampai kami disambut seperti biasa, bercanda dan tertawa. Anak-anak bermain seperti biasa. Kemudian, saya dan sang Bapak, membawa anak-anak bermain di lapangan sepak bola. Dilapangan, anak-anak masih asyik bermain. Tiba-tiba 2 orang sobat kami yang lain datang tergopoh-gopoh dengan sepedanya. “Maaf ya Cak, kami baru tahu.” Kata mereka memeluk sang Bapak. Ah..ada apa ini?, saya terheran-heran. Ternyata, sang Bapak baru kehilangan orang tuanya yang ia cintai tadi pagi. Saya pun segera memeluknya, “Maaf Cak, sungguh saya tidak tahu” Kata saya menyesal. Tersenyum, pada saat duka menggunung. Anda bisa???
***
Keluarga ketiga ini pun saya kagumi karena alasan diatas. Ketika, kami akhirnya pindah ke Delft, dua keluarga ini seperti jadi bagian keluarga kami (walaupun anak-anak sering barantem, he..he..he.). Hampir setiap ada selentingan kami dapat masalah atau musibah, dua telfon yang berdering hampir dapat dipastikan dari mereka. Ketika istri saya divonis oleh dokter untuk dioperasi, dan pada saat bersamaan istri saya harus pulang menemui ibu mertua saya yang sakit tumor diperutnya, dua keluarga ini yang paling sibuk klarifikasi. Suami istri itu bergantian telfon ke saya, “Tolong Pak Ikhwan, kalau ada masalah, jangan disembunyikan, jangan anggap kami ini orang lain. Tolong ceritakan pada kami.”
Suatu hari, ketika istri saya baru membeli panci presto baru, kami ingin berbagi kari kambing kepada mereka. Ketika, akan berangkat, sang Ibu menelefon mengatakan bahwa dirinya agak kurang sehat, tapi dia tak menolak kalau kami mau datang. “Oke lah Bu, kami datang cuma buat mengantarkan kari, terus kami langsung pulang. Ini kita udah siap berangkat.” Kata saya. Ketika sampai, kami diminta masuk ke rumah mereka. Tidak terasa, kami malah jadi lama disana, karena tawa, canda, gurauan mereka yang sepertinya tidak habis-habisnya. Hanya sang Ibu, bolak-balik kamar mandi, kemudian ikut larut lagi dalam derai tawa. Keesokan harinya, barulah sang Bapak bercerita bahwa si Ibu, bolak-balik muntah di kamar mandi.
Sedikit, demi sedikit, sambil santai-santaian dan canda, mengalir cerita dari sang Bapak. Ternyata tidak sedikit masalah yang mereka hadapi. Dari masalah, resident permit, rumah, kelanjutan riset, dan banyak hal lainya. Semua seolah, tertutupi oleh senyum dan canda mereka. Pae, maafkan saya…
***
Hah…skala 5 BIRADS? It’s highly suspected! “Innalillahi…”. Oh…jadi ini sebabnya, ketika ada seseorang ‘organizer’ yang meminta rumahnya dipakai buat “silaturrahmi musim panas”, sang Bapak cuma mengatakan: “Maaf, hari kamis kami sekeluarga akan pergi”
Pae…Bune…maafkan kami…..Maaf, kami terlambat tahu, karena senyummu.
Delft, 29 Juni 2005
Untuk Ibu yang besok akan terbaring di meja operasi.
6 Responses to “Ketika Senyum Mereka Merekah”
By hatami.nugraha on Jun 30, 2005 | Reply
Semoga cepat sembuh.
Amiin.
By Abdullah Saleh on Jul 6, 2005 | Reply
Saya baca selitas tilusanmu sangat baik dan penuh dengan kerinduan dengan tanah air dan kampung halaman. Apakah tulisan mu ini berdasarkan kekesal an atau kejenuhan atau kebosanan sehingga rindu dengan kampung halaman.
By DHB Wicaksono on Jul 6, 2005 | Reply
Semoga Allah Ta’ala mengaruniakan segera kesembuhan bagi ‘Bune’… Aamiinn. Al-Faatihah.
By Rifqan on Jul 13, 2005 | Reply
good writing…!!!
SANGAT MENYENTUH. ANDA SANGAT BERUNTUNG TELAH MENEMUKAN MANUSIA2 KAMIL BERHATI MALAIKAT.
By nawal on Jul 15, 2005 | Reply
menyentuh, ternyata dibelanda ada juga manusia yang perduli.
apakah mereka yang perduli itu juga muslim?
By megia komari on Nov 25, 2006 | Reply
Subhanallah,cerita anda sungguh menyentuh Qolbu
semoga kita menjadi orang-orang seperti mereka…ikhlas lilla hita’ala.amin