Father and Son *
Saya seringkali mendengar dan membaca tentang rahasia hidayah. Kalimat “Barang siapa yang disesatkan Allah, maka tiada satupun yang dapat memberinya hidayah. Dan barang siapa yang mendapat hidayahNya, maka tiada satupun yang dapat menyesatkannya,” hampir selalu kita dengar dalam pembukaan khutbah jumat maupun ceramah-ceramah. Konon kabarnya, sebelum menjadi sesat, syaithon adalah makhluq Allah yang selalu bersujud dan beribadah padaNya. Belum lagi kisah-kisah islamnya tokoh-tokoh besar seperti Hamzah (Asadullah), Khalifah Umar Ibn Khattab, dan Khalid bin Walid (Saefullah), semuanya seolah menjadi pembenar kutipan kalimat diatas.
Sebenarnya cukup kalimat diatas membuat kita behati-hati, takut dan berharap agar nasib kita jangan seperti syaithon la’natullah. Saya ingin berbagi do’a yang diajarkan guru saya disela-sela pengajian kitab Ihya ‘Ulumuddin Imam Ghazali. Do’a ini konon katanya diajarkan rasulullah kepada Siti Fatimah R.A, yaitu:
“Ya Allah, jangan lah Engkau biarkan diri kami membuat keputusan sendiri walau sekejap mata, dan
Ya Allah, janganlah Engkau cabut hidayah Mu, walau sekejap mata”
Sewaktu masih aktif terlibat dengan tarbiyah dulu, ketika keindahan bersama para mad’u dulu; saya sering mengingatkan mereka dan diri saya agar jangan jadi dai seperti calo bus. Lihatlah calo-calo bus di terminal-terminal bus antar kota. Berteriak-teriak mengajak penumpang naik bus sambil mepromosikan segala fasilitas bus mulai dari ac, tv, dll. Baginya adalah kebahagian bila penumpang akhirnya memutuskan ikut bus mereka. Tapi begitu bus penuh dan berangkat, tinggallah calo itu diterminal untuk memenuhkan bus selanjutnya dan tak pernah sampai pada tujuan. Betapa banyak da’i yang awalnya semangat mengajar orang pada kebaikan, karena tercabut hidayahnya, menjadi penjual-penjual ayat-ayat Allah dengan harga murah. Da’wahnya tidak pernah memperbaiki dirinya dan keluarganya. karenanya seringkali pula saya meminta kepada mad’u saya, minta di do’akan agar saya dan keluarga saya selamat dunia dan Akherat, walau cuma sekali seumur hidup mereka mendoakan saya. Mungkin do’a diatas jadi tips buat anda agar terjaga hidayahnya?
Tips lainnya yang pernah diberikan oleh murabbi saya dulu (dan sayangnya tidak mudah untuk dilaksanakan oleh saya sendiri). Katanya: “Hidayah itu tidak pernah kita tahu kapan diberikan oleh Nya, maka selalulah dalam kondisi berharap dan bersiap-siap menunggunya, yaitu selalu bersih dalam keadaan berwudhu.” Duh, rasanya tidak mudah, apalagi berada di negara non muslim yang punya empat musim ini. Lahaulawalah quwwata illa billah….
***
Sayangnya, tidak semua orang bisa menerima kalimat diatas dengan mudah, terutama mereka yang lebih banyak memikirkan daripada merasakan. Bahasa kerennya “intelektual”. Bagi mereka, kalimat diatas, lebih sebagai ketidakadilan Allah, yang dapat memilih siapapun untuk dimasukkan ke jannah maupun neraka. Tidak mungkin Allah memberikan hidayah tanpa sebab, alasannya cukup fundamental! Potongan ayat quran QS. Ar-Ra’du (13):11 “Tidaklah Allah merubah nasib suatu kaum, melainkan kaum tersebut merubahnya”. Hhmmm…., masuk aqal juga walupun kadang tidak menggambarkan sikap mereka sendiri. Misalnya, saya sering tidak habis mengerti melihat para “intelek” ini berani-beraninya mengatakan tidak perlu belajar ilmu qur’an, tidak perlu belajar bahasa arab untuk menafsirkan qur’an, mempertanyakan hal-hal yang telah dibakukan oleh para ulama; padahal mereka bahkan tidak pernah memperbaiki atau berusaha untuk bisa baca qur’an sesuai tajwid. Bagaimana berkah huruf-huruf qur’an itu akan didapatkan? Bagaimana hidayah bisa tercurahkan kalau memperlakukan qur’an layaknya buku-buku biasa?
Tapi, anyway, saya tidak menyalahkan pendapat bahwa hidayah Allah datang karena sebab-sebab usaha manusia. Ambillah contoh Maryam Jamillah, yang menghabiskan masa remajanya mencari agama, sampai ia akhirnya bertemu Allahummayarham Abul ‘Ala al Maududi. Atau bagaimana dr. Maurice Buchaille yang bertahun-tahun bergelut dengan ayat-ayat qur’an dan injil, sampai buku “La Bible, le Coran et la Science” (Injil, Qur’an Sains) yang fenomenal itu terpublikasi. Bertahun-tahun setelah itu, barulah (kononnya) ia menjadi muslim setelah bukunya menjadi fenomenal serta rujukan di timur dan dibarat.
Kalau mau berbantah-bantahan sih bisa saja. Ambilah contoh John Lennon, yang setelah keluar masuk agama, akhirnya memutuskan jadi atheis. Atau yang paling gres adalah kisah “ustadz” Roy yang mengajarkan solat dwibahasa. Atawa lagi, adalah islamoloq Karen Amstrong yang berjibaku menulis berbuku-buku tentang islam dalam keadaan atheisnya - Dan kalau mau jujur, bukunya mungkin banyak menyebarkan hidayah Allah, ketimbang buku-buku intelektual “muslim” yang berfikir secara liberal yang banyak menyebar keragu-raguan akan islam. - Cuma, apa perlu? Saya sendiri lebih concern agar hidayah yang pernah didapatkan tidak pernah dicabut. Titik.
***
Pernah dengar nama Yusuf Islam?
Mantan rocker yang akhirnya memeluk Islam dan menjadi da’i. Semenjak kembalinya ia kepada islam, dia benar-benar meninggalkan dugem (DUnia GEMerlap)-nya. Hebatnya lagi, dia dianggap mewakilli wajah muslim kaffah di Inggris bahkan di dunia. Ketika di-persona non grata-kan oleh pemerintah Amerika karena tuduhan “teroris”, tidak kurang kabinet pemerintahan PM Tony Blair dan menlunya Jack Straw mengeluarkan pernyataan resmi mempertanyakan keputusan pemerintahan Bush. Sebelum terkenal seperti sekarang, saya pernah membaca biografinya. Kononnya, dia pernah tiga kali hampir menemui ajalnya, dan dalam keadaan sekaratnya dia minta waktu pada Tuhan agar diberi waktu bertobat. Sampai akhirnya dia benar-benar bertobat ketika membaca qur’an yang dibawa saudaranya. Wallahu’alam.
Tapi…, kalau dilihat lirik-lirik lagunya, tanda-tanda hidayah turun padanya sangat kasat mata. Walaupun rocker, lagu-lagunya mengajak pada kedamaian dan cinta. Salah satunya adalah lagu “Morning Has Broken”, yang bertahan lintas zaman sampai sekarang, dinyanyikan oleh orang dengan berbagai keyakinan, mengajak merasakan keindahan ciptaan Nya.
Morning has broken, like the first morning
Blackbird has spoken, like the first bird
Praise for the singing, praise for the morning
Praise for the springing fresh from the wordSweet the rain’s new fall, sunlit from heaven
Like the first dewfall, on the first grass
Praise for the sweetness of the wet garden
Sprung in completeness where his feet passMine is the sunlight, mine is the morning
Born of the one light, Eden saw play
Praise with elation, praise every morning
God’s recreation of the new day
***
Minggu, 24 Juli 2005.
Ulang tahun perkawinan ke-11. Biasanya, selalu ada ungkapan cinta saya pada istri saya dan berkumpul. Tapi kali ini menurut perhitungan distance calculator, kami terpisah 11403.690871650535 Km antar Delft dan Depok, dan lagi rasanya susah mencurahkan perasaan cinta kalau dikejar-kejar deadline thesis chapter dan paperwork saya. kesuntukan makin bertambah karena ruang nonton teve kami disini bersatu dengan ruang kerja. Daripada hati jadi tidak mood, saya lebih baik mendengarkan lagu Cat Steven.
Father and Son
Father:
It’s not time to make a change
Just relax take it easy
You’re still young that’s your fault
There’s so much you have to know.
Find a girl settle down,
If you want you can marry, look at me,
I am old but I’m happy.
I was once like you are now,
And I know that it’s not easy
To be calm when you’ve found
Something going on,
But take your time, think a lot
Why think of everything you’ve got,
For you will still be here tomorrow
But your dreams may not.Son:
How can I try to explain,
‘Cause when I do he turns away again,
It’s always been the same same old story
From the moment I could talk I was ordered to listen,
Now there’s a way and I know that I have to go away,
I know, I have to goFather:
It’s not timeSon:
(Away away away)Father:
To make a changeSon:
(I know I have to)Father:
Just sit down takeSon:
(Make this decision)Father:
It slowly, you’reSon:
(Alone)Father:
Still young that’s your fault,
There’s so much you have to go through
Find a girl settle down
If you want you can marry,
Look at me I am old but I’m happySon:
(All the times)Father:
Stay stay stay,Son:
(That I’ve cried)Father:
Why must you go andSon:
(Keeping all the)Father:
Make this decisionSon:
(Things I knew inside)Father:
Alone?Son:
(It’s hard, but it’s harder to ignore it
If they were right I’d agree
But it’s them they know not me
Now there’s a way,
And I know that I have to go.)
Seandainya Cat Steven pada saat menciptakan lagu itu adalah orang yang belum mendapat “hidayah”, lalu siapakah para bapak yang membiarkan anak-anak mereka terjerumus dalam dalam lumpur dosa? Tahun 1994, bergidik saya membaca koran lokal di Bandung yang menyebutkan bahwa 10 % siswa sekolah menengah di Bandung sudah tidak perawan lagi. Lalu adalagi yang bisa kita sebut logika-terbalik kebanyakan orangtua di Indonesia, yang memperlambat anaknya kawin, tapi menyegerakan anaknya kawin kalau “kecelakaan” telah terjadi. Bahkan tanpa malu para MBA (Married By Accident) ini dirayakan secara besar-besaran.
Teman saya:
“Pak saya mau kawin….”Bapak teman saya:
“Hah…?!”….(terkejut !!!)Teman saya:
“Calon saya sudah siap, dia menerima keadaan saya.”Bapak teman saya:
“Apa memang harus buru-buru?”
“Apa tidak bisa ditunda sampai tamat kuliah dulu?”
“Apa tidak bisa sampai dapat kerja yang mantap dulu?”
“Tapi….apa kamu sudah terlanjur?????”
“Kalau sudah terlanjur, jangankan orang tua dia, biar jin pun akan bapak hadapi!”
“Gimana? Emang kamu terlanjur?”Teman saya:
..@##????!!! @-) :-/ #-o
Menurut buku kisah hidup Iman Syafi’ie Rahimahullah, suatu pagi imam Syafii’e membangunkan anak laki-laki yang beranjak dewasa. Dia mendapati (maaf) alat kelamin anaknya dalam keadaan (sekali lagi maaf) ereksi. Keesokan harinya, Ia mengawinkan anak laki-laki tersebut. Pesan yang saya tangkap dari cerita ini adalah, bahwa salah satu peran penting seorang Bapak adalah mengajarkan sex education pada anak laki-lakinya. Peran itu semakin penting, karena sekarang ruang seseorang menjadi anak-anak semakin sempit. Kalau zamannya saya kecil dulu, masih banyak kartun-kartun dan cerita-cerita yang isinya melulu menghibur anak-anak. Tapi sekarang, cobalah lihat acara-acara teve atau movie yang ber-rating ‘PG’. Rating itu tidak lagi berarti ‘Parental Guidence is needed’ tapi lebih kepada ‘the Parent must be busy to cencor it” atau “Watch when your Parents are Going”. Tidak sedikit film-film yang ber-rating ‘A’ atau ‘for All’ mengenalkan adengan-adengan berciuman pada balita anda.
Kami cukup terbuka tentang sex kepada anak-anak kami. Sedikit, demi sedikit sex kami kenalkan dengan membelikan buku-buku tentang organ tubuh. Sering kali kami bicara soal sperma yang bertanding memperebutkan sebuah ovum. Kami juga ketimbang memakai bahasa samaran seperti ‘burung’ atau lainnya, kami memamakai istilah-istilah biologi. Tapi tak ayal kami juga tersentak ketika anak tertua kami bicara fungsi-fungsi (maaf) kemaluan, salah satunya katanya “untuk bikin anak.” Jadilah kami, harus memperketat konsep malu, mengetok pintu pada jam-jam tertentu.
Salah satu alasan kami memutuskan untuk berpisah, saya di Delft sedangkan istri dan anak-anak pulang ke Indonesia adalah karena kami manganggap anak kami telah memasuki masa-masa orientasi seksual yang kritis. Di sini di barat, ataupun di negara-negara berkultur barat seperti Australia, menjelang akhir sekolah dasar, anak-anak dikenalkan dengan sex education. Kami sih tidak keberatan, malah kami rasa berdasarkan kisah imam syafiie tersebut diatas, kami memandang perlu. Cuma masalahnya landasan berfikir berbeda. Kalau disini, issu pokoknya adalah mencegah kehamilan sehingga kasus-kasus anak usia remaja (12-14 th) jadi ibu atau ayah dapat ditekan. Bukannya menjauhkan anak-anak dari zina. Itulah sebabnya kami jadi biasa mendengar keluhan-keluhan dari orang tua muslim yang anak-anak mereka disekolahkan di sekolah-sekalah milik pemerintah. Mereka mengeluh, karena anak-anak mereka diajarkan cara memakai alat kontrasepsi sambil ada peragaan di depan kelas. Juga anak-anak yang akan menghadirin pesta perpisahan (tamat esde) diingatkan untuk membawa kondom atau meneguk pil kabe terlebih dahulu. Jadi, walaupun cukup mencengangkan, tapi rasanya tidak terlalu bombastis hasil survey sebuah koran di
Belanda terhadap remaja-remaja usia belasan tahun di Belanda tentang pengetahuan seks mereka. Survey menunjukkan bahwa mereka tahu segala macam posisi seks, termasuk cara-cara yang biasa dipraktekan oleh kaum yang tidak diakui oleh islam seperti kaum homo dan lesbian. Bahkan sangat mungkin mereka mempraktekkan!
Memprotes negeri orang yang punya keyakinan beda tidak mudah. Bahkan cenderung kontraproduktif. Walaupun diam-diam, mereka sendiri bingung dengan banyak keputusan-keputusan mereka yang berlindung dibawah bendera hak azazi mereka. Meraka bukannya tidak bingung dengan merebaknya virus pedophelia seiring dengan merebaknya perdagangan anak. Tentunya ada yang salah dari sistem pendidikan seks mereka. Ikatan-ikatan sosial telah begitu lemah untuk didefinisikan. Misalnya, ketika ditanya apa bedanya samen leven (hidup bersama) dengan kawin? Jawabnya: “yah…… samen leven itu ikatan yang lebih kendor dari perkawinan.” Lainnya sama. Ketika sang vriendien (pacar) melahirkan, maka dia juga anaknya. Ketika bercerai, pembagian hartanya juga njelimet seperti pembagian harta waris mereka yang kawin. Suatu ketika ditanya apakah karena mereka belum kawin, terus salah satunya berhubungan badan dengan orang lain jadi bisa diterima? Mendadak kelas jadi ribut.
“Enak aja…emang gampang gitu?”
“Emang kita ini apa? Yah gak bisa seenaknya donk kayak gitu!!” cetus para perempuan eropa di kelas bahasa Belanda saya.
Dalam hati saya, nah terus kenapa gak menikah? Jika memang hubungan seks bisa dipisahkan dengan lembaga perkawinan, sampai kapan budaya atau norma akan bertahan? Bukan tidak mungkin suatu saat, hubungan badan satu keluarga (yang sekarang masih dianggap suatu tindak kejahatan) akan menjadi sesuatu yang biasa. Peribahasa orang belanda: “Tiap zaman ada tabunya.”
***
Pernah nonton film Kinsey? Film yang dibintangi oleh Liam Neeson ini bercerita tentang kehidupan Dr. Alfred C. Kinsey, seorang penulis buku tentang seks pertama berjudul Sexual Behavior in the Human Male yang dipublikasikan pada tahun 1948 dan pendiri The Kinsey Institute. Institut yang didirikan pada tahun 1947 di Indiana University ini adalah sebuat intstitut interdisplin yang meneliti kehidupan seksual manusia. Awalnya Dr. Kinsey adalah seorang biologist yang meneliti serangga dan sejenis bahkan sempat menerbitkan buku. Mempersunting teman sesama penelitinya akhir membawa Dr. Kinsey membuat berganti topik penelitiannya. Gara-gara mereka selalu gagal dan tidak dapat menikmati apa yang menjadi hak kedua belah pihak sebagai suami istri. Awalnya mereka memeriksakan diri mereka ke dokter, dan ternyata semuanya normal menurut dokter. Akhirnya mereka yakin bahwa ada sesuatu diluar masalah organ tubuh yang mempengaruhi. Jelas adalah masalah pengetahuan tentang seks itu sendiri, selain mitos-mitos yang tersebar di masyarakat. Keinginan dari keluarga Kinsey ini untuk mendirikan institusi yang mendedikasikan diri untuk meneliti masalah hubungan seks dan mengajarkannya di universitas mendapat tentangan, terutama dari profesor-profesor yang telah menelorkan buku-buku tentang norma-norma. Setelah terjadi perdebatan panjang, Dr. Kinsey boleh mengajarkan mata kuliah pendidikan seks dengan syarat-syarat yg sangat ketat, misalnya mahasiswanya haruslah berada ditingkat akhir atau yang bisa memberikan bukti bahwa akan segera menikah. Kuliah, pertama Dr. Kinsey telah membuat syok banyak orang ketika Dr. Kinsey menunjukkan gambar-gambar organ genital dalam kuliahnya. Keadaan ini diperparah ketika Dr. Kinsey dengan lugas melontarkan petanyaan-pertanyaan tentang masalah-masalah yang sangat pribadi di depan kelas. Seorang mahasiswi kemudian membuat protes keras terhadap pertanyaan-pertanyaan Dr. Kinsey didalam sebuah mixed class, yang terjadi ikhtilat antara lelaki dan wanita. Selebihnya, film ini menunjukkan naik turunnya pamor Kinsey Institute yang mendapat dukungan dana besar dari Rockefeller Foundation’s Funding. Film ini akhirnya ditutup dengan fakta pusat-pusat penelitian serupa Kinsey Institute menjamur dihampir seluruh universitas di Amerika, yang menyisakan sebuah pertanyaan besar bagi penonton: “Apakah ilmu pengetahuan membuat hidup kita lebih baik?”
Saya sendiri berat untuk mengatakan bahwa Dr. Kinsey telah memberikan sumbangsih besar ilmu pengetahuan untuk membuat komunitas manusuia lebih baik. Kenyataan, usaha besar dan niat baik beliau tanpa kontrol iman (ah…jangankan iman, tanpa mengindahkan norma setempat saja) maka langsung atau tidak langsung telah membawa banyak masalah baru. Bagaikan bola salju yang makin membesar dan cepat, norma-norma dan ikatan sosial Amerika di dobrak. Tahun 1972 tahun dimana pertama kali film porno di produksi, di era 80-an, seks bebas telah menjadi hal biasa. ” Jangan lupa pil kabe nya yah….!” Begitu lah gambaran seorang ibu Amerika ketika melepas remaja putrinya keluar malam saat itu. Diera 90-an, hanya seorang calon presiden dan seorang presiden Amerika saja yang urusan seks nya menjadi urusan bangsa yang bisa menjatuhkan hasil jajak pendapat atau hampir berujung pada terjadinya impeachment atau pemecatan pertama kali dalam sejarah kepresidenan Amerika. Jika anda bisa meletakan sejarah sebagai garis lurus, kemudian anda letakkan 1947 dimana Dr. Kinsey memdirikan institusinya, anda letakan th 1972, era 80, dan era 90-an dari fakta diatas, anda pasti akan terkejut oleh dekatan jarak angka-angka tersebut, dan yang lebih menyeramkan lagi adalah keadaan yang kontras antara sebelum dan sesudah tahun 1947. Innalillahi wa inna ilaihi roji’uun.
Kita umat islam, kalau saya gambarkan dalam sebuah skeptisme adalah umat yang terlalu sering dan terlalu lama dalam jepitan antara kebodohan umat dan kelemahan ulama. Juga termasuk dalam hal pendidikan seks ini. Meminjam setting film Kinsey diatas, keadaan kita seperti gambaran keadaan Amerika sebelum ada dobrakan Dr. Kinsey dan keadaan dimana benteng moral Amerika di ambang kehancuran. Disatu sisi, pendidikan seks dijadikan prioritas terakhir pendidikan moral anak; kalau tidak memang dianggap tidak perlu. Disisi lain, gencarnya usaha-usaha para intelek kita di Indonesia meng-copy pola-pola pendidikan seks dari Barat. Di satu kutub, ada pihak-pihak yang mengatasnamakan ‘moral’ dan ‘agama’ untuk melarikan diri dari ketidaktahuan dan ketidakmampuan untuk berbicara yang benar tentang seks. Di kutub lainnya, mereka-mereka membuang jauh-jauh ‘moral’ dan ‘agama’ dalam kamus pendidikan seks mereka.
Dalam satu berita nasional di Indonesia, saya sangat terkejut akan rencana yang akan segera diberlakukan oleh para pejabat kesehatan dalam rangka mencegah makin menyebarnya HIV. Dikota-kota besar, akan segera ditemukan dipojok-pojok ’strategis’ mesin-mesin penjual (maaf) kondom. Alasan mereka klasis dan klise:
“Ya…kita bukannya mau menganjurkan orang untuk seks bebas. Tapi….kalau terpaksa, pakailah kondom supaya tidak terkena HIV.”
Lebih meyedihkan lagi, tak ada usaha untuk mensortir, siapa yg berhak untuk membeli dari mesin otomatis itu. Yah, namanya juga mesin, tentunya tidak mengenal apa itu “oom senang”, “tante girang” atau anak esempe atau esema. Sementara itu di kolom kesehatan sebuah koran nasional yang bisa di akses secara online, sering saya menemukan masalah-masalah (atau yang dijadikan masalah) yang pemecahannya memakai pendekatan liberal bebas moral dan agama. Contohnya, ada yang menganjurkan mencoba seks sebelum nikah untuk mengatasi ‘kegagalan’ malam pertama. Ada lagi yang menganjurkan acara nonton ‘Bilem Ferzuangan’ bareng untuk acara belajar bersama pasangan suami istri yang baru menikah. Ekstrim yang lainnya, adalah jawaban dari pengasuh masalah keluarga di majalah wanita islam yang populer dikalangan aktivis dakwah, yang mengatakan bahwa seks seharusnya adalah masalah kecil yang tidak merusak kebahagian rumah tangga. Sebuah logika terbalik !
Tanpa sebuah pengetahuan yang benar, pasangan-pasangan ini mudah sekali termakan mitos-mitos tentang jamu, telor setengah matang, tumbuhan anu, tongkat itu, dan lain sampai mitos yang bisa membawa ke syak wasangka yang bisa berujung ke perceraian ataupun merusak kesehatan misalnya mitos berdarah di malam pertama. Seorang istri yang punya (maaf) selaput dara yang elastis bisa-bisa dituduh tidak perawan. Tanpa pengetahuan yang benar, apalagi tanpa keterbukaan dari pasangan suami istri, hal yang harusnya jadi bagian dari mawaddah warahmah jadi harus masalah yang harus dikonsultasikan ke dokter (untung masih mau konsultasi, kalau malu atau gengsi atau malah tidak menganggap perlu gimana?).
Sementara itu banyak buku-buku seks “Islam” yang tanpa pengetahuan justu menambah kesesatan. Ada buku Islam yang misalnya memberikan petunjuk 40 hari pertama setelah perkawinan. Buku ini “menuntun” pengantin laki-laki untuk tidak langsung melakukan hubungan suami istri, tetapi merangsang bagian tertentu tubuh istrinya sambil mengucapan doa-doa dan shalawat, hingga malam ke 40. Padahal, dalam hadits yang shahih, jangankan berdoa dan bershalawat, menjaharkan basmalah saja pada saat puncak dilarang. Juga banyaknya dikutip hadits-hadits israiliyat yang membatasi dan mengkungkung hubungan suami istri sebatas mendapatkan keturunan. Dalam buku silsilah hadits-hadits dhoif dan maudhu’ yang ditulis oleh Allahuyarham Syeikh Nasrudin Al-Albani, banyak hadist-hadits dhoif dan palsu yang saya temukan dikutip oleh penulis-penulis buku ’seks menurut islam”.
Ketika tulisan ini tengah dibuat, saya berkirim email ke seorang sahabat yang akan segera menikah. Sehari sebelum keberangkatannya, saya menulis email yang menggambarkan kemungkinan apa yang akan terjadi dimalam pertama.
“Mulanya saya tertawa dengan email bapak”
“Ternyata benar apa yang bapak katakan…!” Ujar sahabat saya itu berbinar-binar (mudah-mudahan itu pancaran kebahagian karena sebuah pengetahuan)
Ada lagi, seorang sahabat lain yang akan segera menikah. Tinggal menuggu hari. Sambil bercanda, saya bertanya tentang persiapan malam pertamanya.
“Emang itu yang saya pikirin?”
“Kawin koq, yang begituan dipikirin dulu” Sengit sahabat satu ini, sambil tersipu malu.
Candaan saya, lebih dilihat sebagai candaan orang berpikiran ngeres ketimbang candaan seorang bapak kepada anaknya yang akan segera menikah. Padahal, layaknya sebuah harapan yang tinggi pada keluarga mawaddah warahmah, segala sesuatunya haruslah dipersiapkan untuk membumikan harapan yang melangit itu. Persiapan aqidah tentunya mutlak, tapi tidak juga menyampingkan persiapan-persiapan lain.
Alhamdulillah, bapak dan mertua saya menjadikan pendidikan seks ini sebagai urusan Father and Son. Bapak saya memulai pendidikan seks dengan bertanya apakah sudah tahu cara mandi wajib ketika melihat anaknya menunjukkan tanda-tanda perubahan fisik dari seorang kanak-kanak menjadi orang dewasa.
Ketika malam merayap larut, saya dikagetkan ketika istri saya bilang:
“Kak, kakak dipanggil Bapak”
“Bapak mau bicara berdua dengan Kak Iwan”
“Ada apa” Selidik saya, dan saya mulai mencari-cari dan mengingat-ingat kalau-kalau saya ada berbuat salah.
“Duh, baru malam pertama udah berbuat salah” bisik saya dalam hati ketakutan.
“Ini bapak mau kasih kamu pelajaran….bla..bla…”
Pendikan seks kilat ternyata !
Semoga Allah melapangkan dan menerangkan kuburan mereka. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa mereka. Allahumma firlahum warhamhum. Amien.
***
Begitulah, bagi saya sudah selayaknya pendidikan seks dikembalikan kepada proporsinya dan kepada seorang bapak ke anak lelakinya dan seorang ibu kepada anak perempuannya. Tentunya, pendidikan seks ini harus mengacu pada moral-moral islam sebagaimana dicontohkan oleh Rasul dalam hadits-haditsnya serta contoh-contoh dari Sahabat-sahabat rasul, salafiyun, dan para ulama. Puncaknya, sebaimana Rasul mencarikan suami untuk Fatimah, Umar ibnu Khathab dan Imam Syafe’i mencarikan istri buat anak mereka, sudah menjadi tugas seorang bapak kepada anaknya. Kalaupun pendidikan sex harus dilakukan oleh guru kepada murid-muridnya, hendaknya mencontoh sunnah rasul. Hendaknya tidak ada ikhtilat antara lelaki dan perempuan, juga tidak ada kata malu dalam belajar. Mungkin perlu mengambil hikmah, bagaimana rasul mengajarkan tentang haid, mengajarkan tentang mandi junub, dll. Tidak hanya sebagai pertimbangan fikihnya saja, tetapi juga situasi dan psikologi pengajarannya.
Hampir disetiap urusan, bapak saya minta saya mempertimbangkan kemampuan ekonomi kami. Pengen nonton Indonesian Airshow, harus ngitung dari ongkos, makan dll. Sebelum tamat es-em-a, kami sudah harus menghitung berapa biaya sampai tamat kuliah jika PTN dan jika PTS. Tapi soal nikah, bapak saya cuma minta saya punya penghasilan.
“Wan,…carilah penhasilan, biar sedikit, yang penting ada. Berapapun kamu dapat, bapak tambihin.”
“Carilah rumah, dan jangan menumpang”
Selebihnya, bapak saya yang pasang badan. Mulai dari menghadapi cemoohan keluarga (belum kerja koq nekad), perayaan yang sederhana yang banyak mengikis habis budaya daerah yang memberatkan, urusan isi kamar penganten, sampai mas kawinpun saya gak ingat karena telah disiapkan oleh bapak saya. Bapak saya menyediakan mas kawin tersebut sebagai bagian dari perjanjian saya dan ibu saya. Dad, I owe you…Semoga Allah melapangkan kuburmu, Semoga Allah menyinari kuburmu, Semoga Allah mengampunimu, Semoga amal baikmu menjadi temanmu. Insya Allah kita berjumpa lagi di akherat dalam Jannatul Firdaus. Amien.
Ibu saya cuma menangis ketika di tingkat satu kuliah, saya minta menikah.
“Sama siapa?”
“Siapa aja, asal perempuan beriman?”
“Kamu mau kawin, tapi gak punya calon?”
“Iya…, yang penting ada izin dari ibu, bapak, nanti saya cari calonnya”
“Kalau bisa kamu tamatkan dulu kuliahmu…” Pinta ibu saya.
Tahun berganti tahun, saya berhasil menamatkan S1 saya lebih cepat 3 bulan dari ukuran normal untuk pendidikan dengan 160 sks.
“Wan, ini mas kawin dari bapakmu, kalau kamu memang sudah punya calon” Kata ibu saya, seolah-olah membalas untuk memenuhi janji kami beberapa tahun silam. Terima kasih, hanya karena engkau berdua, aku merasakan keagungan perkawinan sebelum aku menikah. Semoga engkau berdua mendapatkan kasih sayang Allah sebagai engkau menyayangiku, dan semoga engkau berdua dimudahkan Allah untuk masuk Jannah sebagaimana engkau berdua memudahkanku dan kedua saudaraku untuk menikah, menjauhkan diri dari zina. Amien.
Kembali kepada Yusuf Islam atau Cat Steven, saya tidak tahu ada apa dibenak Cat Steven ketika menciptakan lagu “Father and Son” tersebut. Tapi dari sudut pandang pengagungan lembaga perkawinan, saya jadi ragu kalau saat itu dia belum mendapat hidayah.
Find a girl settle down,
If you want you can marry, look at me,
I am old but I’m happy.
Anda punya pendapat lain?
***
Bisa jadi saya salah. Tapi jikalaupun saya salah, bagi saya lagu tersebut tetap mempunyai nuansa yang hebat. Paling tidak, lagu ini mengangkat dan menyentil arogansi orang tua (saya sebagai bapak, terutama) yang sering menganggap “ketidakdewasaan”, “ketidaktahuan”, dan umur anak-anak yang masih kanak-kanak tersebut sebagai satu kesalahan. Suka tidak suka, seringkali orangtua merasa lebih tahu dan mengatur maunya anak-anak.
You’re still young that’s your fault
There’s so much you have to know.
Saking kelewatan kita merasa lebih pintar, kita jadikan anak-anak sebagai proyek memuaskan rasa bangga kita. Anak harus jadi ini, jadi itu. Jangan jadi ini, dan jangan jadi itu. Anak harus kursus ini dan kurus itu, padahal anak tidak tahu apa manfaat bagi mereka. Cobalah lihat Indonesia kita, apakah tidak tragis jika bangsa yang jumlahnya ratusan juta jiwa itu, anak-anaknya cuma punya tiga cita-cita: Jadi doktel, jadi insyinyul dan jadi abri. Atau paling banter, orangtua di Indonesia selalu mengingatkan anak-anak mereka untuk jadi “orang” yang sayangnya jadi “orang” itu bermakna orang yang hidupnya mapan, punya harta dan kedudukan.
How can I try to explain,
‘Cause when I do he turns away again,
It’s always been the same same old story
From the moment I could talk I was ordered to listen
Bukan satu dua kasus, anak yang berbeda keinginan dengan orangtuanya sering dianggap melawan. Ketika anak-anak bosan dan rindu menunggu orangtuanya pulang kantor, orangtua yang kecapekan dan ingin istirahat tak menghiraukan mereka. Ketika sang bayi kecapekan dalam perjalanan jauh dipesawat terbang, sang orangtua juga gemas ingin anak diam karena semua mata penumpang lain tertuju ke mereka. Saking seringnya diperlakukan seperti itu, anak-anak jadi berontak, jadi senang melakukan apa yang ditidak disenangi oleh orangtua mereka. Kalau dia kecil, dia akan menangis, kalau dia sudah menjangkau dia kan membanting-banting barang-barang kesayangan orangtuanya atau barang-barang pemilik rumah yang mereka kunjungi.
If they were right I’d agree
But it’s them they know not me
Now there’s a way,
And I know that I have to go.
Repotnya lagi, para orangtua ini (masyarakat) sudah terbiasa mengambil jalan pintas. Mengatasi anak-anak yang banyak bertanya, dijawab seenak udelnya sebelum dibentak agar berhenti bertanya. “Kenapa gak boleh duduk di depan pintu?” “Nanti kesambet gondorewo !” Anak yang kelebihan gerak dicap yang nakal, padahal ruang main makin sempit. Zaman saya anak-anak dulu, lapangan bola banyak, sekarang mau cari lahan pemakamanpun susah. Mau main ke sawah, sawah sudah jadi pabrik. Mau berenang ke sungai, wah jangankan sungai, got aja kering. Mau maen sepeda, ati-ati ojek seliweran. Alhasil, saya suka iba melihat anak kedua saya yang punya motorik istimewa. Berjalan diusia 9 bulan, berlari diusia 11 Bulan. “Itu pak, anak kedua bapak, yang paling nakal !” Adalah pilihan sulit bagi kami untuk menghindar dari acara-acara kumpul-kumpul dan pengajian ketika masih bersama di Belanda cuma demi untuk mengurangi sebutan “nakal” bagi anak-anak kami. Padahal disatu sisi lain, kami jadi kurang bersosialisasi dan memberikan anak test-case untuk memecahkan masalah-masalah mereka dengan anak-anak lainnya.
***
Saya bukanlah peminat musik dan lagu-lagu. Apalagi lagu-lagu barat. Jadi sebenarnya saya bukan kolektor lagu-lagu, dan penghapal nama-nama penyanyi. Selagi nadanya enak didengar dan artinya mengajak kebaikan seperti lagu-lagunya Cat Steven diatas, saya tidak punya keberatan. Lalu musik boleh atau haram? Wah, saya tidak punya kompentensi untuk membuat suatu kesimpulan hukum. Setahu saya, dimasalah fikih, memang terjadi khilafiyah tentang hadits-hadits yang membahas soal musik. Tips saya: jangan jadi orang naif!
Pernah saya satu mobil dengan seorang ‘ustadz’ yang beranggapan musik itu halal, lalu mulailah ia menghidupkan tapenya. Yang mengagetkan, anak-anaknya yang berumur kurang dari 5 th, berteriak-teriak melafalkan semua bait-bait lagu rock yang memuja-muja salah satu negara superpower. Naif! Ada lagi teman yang suka mengeluh masalah ekonomi, tapi begitu ada konser rock, ongkos kereta yang mahal, tiket yang mahal, waktu solat yang terlewat, sepertinya hal yang biasa. Naif!! Dan si fulan, masyaAllah, bacaan qur’annya hantem kromo, terantuk-antuk, tapi kalau sudah menyanyi dan bermain gitar, subhanAllah, fasih bahkan mungkin bertajwid! Lagi-lagi naif! Andai saja waktu dan semangatnya dipakai buat memperbaiki bacaan qur’annya? Pernah juga saya dauroh/training di satu pesantren. Ketika ada panggilan azan, atau ketika kami tengah mendengarkan kajian-kajian agama, beberapa ustadz yang lain asyik mendengarkan lagu-lagu dankdut dari radio sambil mengepulkan asap rokok. Naif ! Kalau beranggapan umat akan bangkit dengan model pengajar-pengajar agama seperti itu.
Sementara itu, ada lagi yang mengharamkan musik tanpa memberikan alternatif atau solusi. Menafikan keindahan. Seolah-olah semua musik dan lagu membawa kelemahan hati. Sangat naif, bila menyamakan semua musik dan lagu sebagai satu golongan. alasan mengatakan mendengarkan musik menyia-nyiakan waktu, bisa jadi benar kalau berlebihan (seperti contoh teman diatas). Tapi bukankan segala sesuatu bila berlebihan akan menimbulkan kejelekan? Makan saja yang jelas-jelas halal tapi kalau berlebihan akan membawa kemudharatan? Bagi saya, musik sama seperti karya-karya sastra, seperti puisi dan novel. Bisa membawa kejelekan jika berlebihan dan dipakai menurut bisikan syaithon, akan tetapi punya juga kekuatan yang luar biasa untuk menggerakan kebaikan. Tidak sedikit negara didunia ini terbebas dari penjajahan dan tirani, bukan oleh kekuatan bersenjata, tapi oleh sastra. Tidak sedikit perlawan menentang penjajahan digerakan dan digelorakan oleh nyanyian. Jadi kenapa menunggu? Kenapa harus menjadi hamba-hamba lagu-lagu yang membawa kesesatan, memecahkan gendang telinga, mendekatkan diri ke dunia gemerlap, melemahkan diri dengan bait-bait cengeng? Tidakkah anda tertarik pada keindahan dan kebaikan?
Beberapa waktu yang lalu dalam sebuah dauroh qur’an di Amsterdam, sang ustadz yang hafidz qur’an mengatakan bahwa apabila alqur’an dibaca dengan tajwid yang benar, maka yang terdengar adalah keindahan. Waktu menjelaskan artikulasi dan tempat-tempat keluar huruf-huruf qur’an, dia mengatakan bahwa setiap huruf-huruf tersebut mewakili setiap komponen yang ada di sound-system, bass, trebel, dll. Tidak heran, jika mendengarkan
Masih harus diupdate bro!
* Based on Cat Steven’s “Father and Son” song lyric
10 Responses to “Father and Son *”
By iffah on Aug 1, 2005 | Reply
Abi,walaupun kali ini abi tidak menulis surat cinta untuk ummi tapi ummi sudah bisa merasakan bagaimana cintanya abi pada kami,Abi adalah suami dan ayah yang terbaik untuk ummi dan anak2,selamat berjuang yah sayang ,kami senantiasa mendoakanmu,Rindu kami selalu untukmu
By pakne tita on Aug 3, 2005 | Reply
Ulang tahun pernikahan ke 11,…ehmmm..ehmmm Selamat untuk penulis.
Dari yogya with Gudeg
By Gea on Aug 6, 2005 | Reply
Bang Iwan,
Waktu artikel ini pertama kali di-publish (masih 1/3 dari versi yang saya baca malam ini — 6 Agt), saya bingung: kenapa judulnya kok Father and Son? Di artikelnya nggak disebut sama sekali ttg itu tuh?
Waktu artikel ini dipublish dg edisi ke-2 (menjadi 2/3 dari versi malam ini), barulah judul tsb nyambung dg isi artikelnya
Tapi pertanyaan lain muncul saat itu: lantas, apa hubungannya dg hidayah, yg ditulis di alinea 1?
Nah, malam ini, saya baru semakin ‘ngeh’ hubungan antara Judul tsb, kata hidayah, dan isi artikel secara keseluruhan
Dan pertanyaan lain pun kembali muncul: “Wah, kapan nih update berikutnya akan muncul?”
Karena alhamdulillah, semakin diupdate, hikmahnya makin banyak dan message-nya makin jelas, hehehe.
Wassalaamualaikum,
Gea
By Zulfikar Dharmawan on Aug 7, 2005 | Reply
Kalau dari website ini: http://www.majicat.com/articles2/musicnow.htm , Yusuf Islam (was Cat Stevens) bilang: “It’s just the story of a conversation between a father and his son. It was actually written for a musical I was doing (Revolussia). It will probably never be shown — I never really got it together. It was written about Russia just before the revolution. The son feels he has to join the revolution. The father wants him to stay still and relax. It ends in stalemate.”
BTW, versi remake lagu ini Yusuf Islam bareng Ronan Keating, cool abis bo’…
By S on Aug 20, 2005 | Reply
Semoga Kakak, Anga dan Abduh menjadi anak yang soleh, cinta kepada Alloh, meneladani Rasul, menghormati orang tua, menjaga kesucian, sayang kepada sesama, jujur, tidak sombong, tidak kikir dan berhasil dunia akhirat.
By fatima zahra on Aug 23, 2005 | Reply
we love cat steven very hard he is the best man for the musulman because he choose the best religion and he has a very goog personality !
we encourage his son to continue !
go go go go go go father and son
By nina on Oct 29, 2005 | Reply
aww.
aku ngga nyangka, ada juga ustadz yg suka isi artikel bebas di internet (aku biasanya cuma baca eramuslim atau myquran). tapi kalau dilihat2 lagi, ini lebih mirip unek2 deh (curhat). boleh kok curhat, apalagi curhatnya berguna juga untuk orang lain (termasuk saya). ada beberapa kalimat yang saya anggap saya masih kecil untuk tahu (iya ngga sih???) terima kasih atas kesediaan bapak menulis di tengah2 kesibukan dan deadline yang harus diselesaikan. semoga jalan dakwah selalu terbuka dan berguna tidak hanya untuk orang lain (seperti calo mobil)tapi juga bagi diri sendiri, sahabat, dan keluarga.
selamat menjalankan ibadah ramadhan, mohon maaf lahir batin (belum kenal dah minta maaf, ngga pa2 kan?) salam untuk keluarga
http://www.
By nina on Oct 29, 2005 | Reply
(nyambung yg tadi)
aku kuliah sastra jerman di ui depok. di dalam artikel bapak terdapat bahasa belanda yang tidak jauh berbeda dengan bahasa jerman.kalau bapak sudah selesai kuliah di sana (balik ke indonesia) apakah bapak masih mengisi website ini? apakah website ini khusus untuk muslim/ah di delf?
By andi on Dec 12, 2005 | Reply
ana mo tanya contoh2 hadist dhoif?
By hery on Sep 27, 2006 | Reply
saya tahu website ini dengan tidak disengaja saya browsing di google untuk mencari artikel tentang nabi Muhammad SAW, dan saya temukan muslimdelf, setelah saya buka dan baca banyak sekali artikel yang sangat bermanfaat untuk kita ketahui terutama oleh saya yang masih dangkal ilmu agamanya, sukses terus, dan selamat menuanikan ibadah puasa di negeri orang