Bangsa buat anak-anakku
Ketika diminta menulis untuk kolom MuslimDelft ini, saya mencari-cari topik yang sesuai buat saya. Sadar dengan kekurangan saya, maka sangatlah kurang bijaksana kalau tulisan itu nantinya ditujukan untuk mengajari orang lain, apalagi menyuruh orang lain berbuat baik. Mencari perbuatan baik apa saja yang sudah diamalkan dalam kehidupan sehari-hari saja sudah sulit, apatah lagi harus menuliskannya dalam ide-ide yang terstruktur. Untuk menulis keburukan orang lain mah gampang…, jangankan keburukan orang lain, keburukan sendiri yang kadang tidak disadari aja daftarnya bisa berhalaman-halaman. …………….
Pada akhirnya, saya memutuskan untuk menulis buat diri sendiri, yang mungkin refleksinya bisa jadi CERMIN bagi yang membacanya. Tadinya saya cukup Puas dengan batasan yang saya buat. Karena dengannya, saya bisa berdialog dengan diri sendiri mencari2 kebaikan apa yang bisa di ulang dan mengevaluasi kekurangan diri berulang-ulang. Selain itu iseng-iseng, kalau ada yang melihat kebaikan yang ada bisa ditiru, dan jikalau ada kekurang yang terlihat, mudah-mudahan jadi contoh kasus yang harus dihindari.
Malangnya…, tidak semua rencana berjalan mulus. Pengakuan yang saya buat pada diri sendiri ternyata dilihat sebagai KELUHAN. Keluh kesah yang perlu tempat pembuangan. Saya terus terang, sempat sungkan menulis karenanya. Tapi tidak untuk hari ini, karena hari ini saya tidak ingin berdialog dengan diri saya sendiri. Saya ingin BERKELUH KESAH dengan pada Tuhan akan bangsaku.
***
Tuhan berikan bangsa yang terbaik buat anak-anakku
Bangsa yang mau dipimpin oleh orang sekaliber Umar Abdul Aziz
Tuhan berikan negara yang terbaik buat anak-anakku….
Negara dimana amal kebaikan adalah kebaikan…
Tuhan, berikan itu sekarang…..
Biar mereka berkembang….
Berikan itu sekarang….
Biar mereka tahu siapakah mereka gerangan
Kemanakah kami harus mencari?
Kemanakah kami harus menginjakkan kaki?
Akankah kami pulang ke kampung halaman kami yang kami rindu?
Akankah kami pulang ke negara yang menginjak-injak hak-hak warganya?
Akankah kami pulang kepada bangsa yang suka diinjak-injak?
Akankah kami pulang pada bangsa yang memilih pemimpinnya karena 2 jam dankdutan plus (maaf Tuhanku..) pantat penyanyinya?
Akankah kami pulang pada bangsa yang memilih pemimpin yang menghisap darah mereka sendiri?
Akankah kami pulang kepada negara yang membebaskan pendosa dan menghukum ahlul ibadah?
Akankah kami pulang pada bangsa yang menembaki bangsanya sendiri dan menjilat2 bangsa lain?
Akankah kami pulang pada bangsa yang bangga dan tenang akan hasil hutangnya?
Tapi kemana???
Jangan berikan kami negara pommes de terre frites, nanti istri dan menantu-menantuku tidak bisa berjilbab
Jangan juga berikan negaranya Beckenbauer, nanti istriku, selain nggak bisa berjilbab bisa-bisa dilempari oleh skinhead
Juga jangan semua negara yang melarang kami taat padamu.
Jangan berikan kami bangsa serumpun kami, nanti kami dibentaki, dihina, diteriaki: huwoooiiiiiiiiiiiii Indon !!!, ape kije engkau kak sini???Dapat cap pendatang haram oleh saudara seiman kami.
Jangan berikan kami negara dimana kami jadi Abukhomsim. Nanti, istriku ditawar bak pelacur bahkan hamba.
Jangan juga di negara yang selalu mencurigai kami sebagai teroris.
Jangan juga bangsa negara yang haus kuasa, bom sana bom sini.
Jangan juga engkau berikan negara yang bangsanya mempersekutukanmu.
Jangan negara yang mendiskriminasi kami…
Ya Tuhan ku…
Kucukupkan dulu keluhan ku…dan engkau tahu keluhan yang tak terlahirkan…
Hambamu yang lemah…
***
Catatan keluhan sebelum mengeluh di Muslim Delft:
From: Jambak, M.I.
To: ‘anif@xxxxxxxxxx.xx.xx’ [EMAIL PROTECTED]
Assalamu’alaikum Wr.Wb.,
Mas anif, saya tahu anda begitu populer dengan tulisan-tulisan anda. Jadi saya tidak mengharap banyak anda membalas emel ini. Anda tentu sedang sibuk membalas emel-emel dari seluruh dunia saat ini yah ?
Tapi kalau anda ada waktu, tolong berikan saya satu alasan mengapa saya harus mempertahankan kewarganegaraan Republik Indonesia saya?
Ketika saya pertama kali menginjakkan kaki dieropa sekitar 3 tahun yang lalu dari xxxxxxxx (sensor), saya begitu yakin bahwa bangsaku adalah bangsa besar dan akan menjadi besar tidak lama lagi. Disini, mana ada orang yang kerja keras seperti orang2 miskin kita di pasar-pasar, atau di desa-desa. Melihat orang Belanda yang suka bersantai ria, rasa cinta saya pada bangsaku makin bertambah. Orang Mxxxxxxx (sensor) ???? wah jangan ditanya, saya juga heran, koq bangsa yang tidak punya kemauan dan kreativitas koq bisa maju. Saya sering bilang, Indonesia ini kayak AC Milan beberapa tahun yang lalu, punya koleksi semua pemain terbaik dunia disemua lini, tapi selalu gagal. Silih berganti pelatih juga tidak menolong walaupun itu Arrigo Sacchi dan Fabio Capello. Sampai datangnya seorang pelatih yang tidak terkenal yang memperbaiki mental semua pemain dan mereka juara liga seri A lagi.
Tapi itu dulu, sekarang saya sudah begitu muak dengan politik dan politikus indonesia yang semakin rakus memakan semua potensi bangsaku. Yang lebih memuakkan lagi, rakyat negaraku yang sudah diinjak, diintimidasi, dirampok, dipermalukan, diperkosa oleh para politisi tersebut, koq masih mau pilih mereka???????
Mas Anif, beri saya satu alasan kenapa saya masih harus berkewarganegaraan Republik Indonesia????
Wassalamu’alaikum Wr.Wb.,
—————————————–
From: Anif Punto Utomo [SMTP:xxxxx[EMAIL PROTECTED]
]
To: Jambak, M.I.
Wah..dahsyat juga pertanyaan seperti itu. Saya sendiri tidak pernah terlintas untuk bertanya seperti itu. Dan rasanya makom saya belum nyampe untuk menjawabnya.
Tapi memang menarik untuk mendiskusikan masalah itu. Kita coba lihat betapa negeri kita ini terporot habis oleh mereka-mereka yang tidak memiliki hati. Terporot oleh mereka yang rakus akan harta.
Harta telah membutakan para birokrat. Sehingga jika ada yang coba mengusiknya, kalau perlu ditendang saja si pengusik, tak peduli bahwa sebetulnya si pengusik itu adalah seorang jenius yang sanggup bekerja keras.
Akhirnya memang kita jadi bangsa yang kalah. Kalah oleh nafsu para pemegang kekuasaan. Pilar-pilar hukum seperti polisi, hakim, ataupun jaksa sudah berada di pihak yang ikut terbawa nafsu akan kekayaan dan kekuasaan.
Celakanya yang menangung adalah rakyat kecil yang jumlahnya ratusan juta (jumlah penduduk 220 juta, yang bisa menikmati paling 20-an juta, sehingga 200 juta sudah layak disebut ratusan juta). Mereka hidup miskin dan sebagian lagi pas-pasan. Belum lagi pengangguran yang 40 juta.
Maka harus ada orang yang bersedia menemani, membela, dan mengangkat kehidupan rakyat yang ratusan juta tersebut. Entah dengan cara apa.
Kita bisa membuka lapangan kerja sekalipun hanya satu orang di Indonesia, itu sudah sangat berarti. Kita bisa menulis dengan mengkritik perilaku pejabat/anggota DPR yang rakus, sehingga ada satu di antara mereka sadar, itu sudah cukup berarti. Dll.
Bangsa kita membutuhkan orang yang memiliki dedikasi, integritas, dan kapabilitas untuk membangun. Barangkali dari kita-kita ini hal itu bisa dimulai. Ada gerakan-gerakan kecil tapi massal dan tanpa komando di antara orang-orang seperti kita.
Jadi barangkali menjadi WNI merupakan karunia yang indah dari Atas, karena kita bisa menyumbang pikiran dan tenaga untuk rakyat. Mungkin hasilnya tidak dalam waktu singkat. Tapi setidaknya kita sudah mencoba menanam bibit yang baik. Entah di mana tempatnya, entah apa pula bibitnya.
Ada juga parati politik yang memiliki kader-kader bersih, setidaknya itulah yang perlu kita pilih. Ada juga capres yang relatif bersih, itu pula yang perlu kita pilih. Memilih partai yang baik dan capres yang amanah hanya bisa kita lakukan kalo kita jadi WNI.
Barangkali gitu ya.
Oke salam dari jauh.
Keep in touch.
Anif Punto Utomo
————————
From: M.I. Jambak
To: anif@xxxxxxxxxx.xx.xx [EMAIL PROTECTED]
Assalamu’alaikum Wr.Wb.,
Pak Anif (atau Mas Anif - enaknya yang mana?)
Terima kasih atas reply-nya. Saya menghargai jawaban Pak Anif
ditengah-tengah kesibukan kerja anda. Saya baca beberapa kali jawaban
Pak Anif, tapi tetap tidak bisa membuat saya tertidur dari kesadaran
menghadapi realitas yang ada kepada satu impian yang penuh optimisme.
Kalaupun saya misalnya menggunakan hak suara saya dan memilih partai
yang “relatif” bersih, tapi apalah artinya satu suara saya, ketimbang
ribuan suara orang kampung yang gampang dibeli oleh partai-partai besar
dengan cuma satu goyang (maaf) pantat inul. Atau ribuan suara akan lari
ke partai lainya dari satu desa yang jadi kuning oleh baju kaos kuning
bergambar beringin atau merah, atau apalah….
Kembali ke Indonesia? Siapa yang mau menerima saya? apalah artinya
sekolah saya, krn siapa saja sekarang kalau punya uang bisa dapat titel
apapun, mau Dr, MSc, MM, Prof, dll.
Pak Anif, saya sekarang menyesal mendorong-dorong keluarga saya untuk
mengejar ilmu. Harta kakak saya, tanah di BSD, 2 mobil suzuki panther,
saham, dan tabungannya habis untuk membiayai sekolah saya dan adik saya
serta sekolahnya sendiri. Hati saya teriris-iris, mendengar kakak saya
harus naik motor ke kantor dan pinjam mobil buat mengantar anak-anak nya
sekolah. Sekarang dia harus meninggalkan istrinya dan anaknya, buat
menyelesaikan thesis masternya di Malaysia. Adik saya, meninggalkan
pekerjaannya untuk mengambil S3 di Malaysia dan akhirnya mendapat
beasiswa dari pemerintah Malaysia. Kami bertiga, tidak ada satu sen pun
memakai uang negara. Sayangnya sudah sedemikian pengorbanan kami,
mengurus passport di imigrasi, di KBRI susah, keluar Indonesia di todong
oleh beacukai, dll. Bulan lalu, adik saya coba test jadi dosen salah
satu PTN untuk yang ketiga kalinya. Yang pertama dan kedua, dia jadi
pelengkap penderita bagi calon lain yang punya koneksi, rupanya panitia
perlu seseorang yang dikalahkan. Yang ketiga inipun, kalaulah tidak
dipaksa oleh rektor PTN tsb yang beberapa sebelumnya cari-cari peluang
kerjasama (lebih tepat, bisa dibilang cari bantuan) ke universitas
dimana adik saya menempuh S3 tsb. Ketika melamar, ijazah masternya
ditolak karena belum diakreditasi (sok hebat, padahal universitasnya
cari2 bantuan ke universitas yg mengeluarkan ijazah). Akhirnya, adik
saya melamar dg ijazah S1 nya dan kalah (ditolak) krn di tes kedua
(psikotes). Padahal, apalah artinya tes pengetahuan bahasa, tes
psikotes, tes ana, inu, ita, itu….kalau pada akhirnya bukti pengakuan
dari internasional tidak dihargai. Padahal adiknya, sudah punya beberapa
paper di international conference dan sedang mempersiapkan penulisan di
jurnal ilmiah. Saya benar2 bingung melihat bangsa saya ini.
Pak Anif, sekarang saya tidak mau lagi menangis buat bangsa ku lagi,
saya ingin menangis buat keluarga saya saja..
Kalau Pak Anif masih bersedia mereply keluhan saya ini, tolong yakinkan
saya: DARIMANA BANGSA INDONESIA ini bisa DIPERBAIKI ?????
Wassalamu’alaikum Wr.Wb.
———————————-
From: Anif Punto Utomo [SMTP:xxxxx [EMAIL PROTECTED]
]
To: M.I. Jambak
Kalau ada pertanyaan dari mana kita harus memulai, kita mesti merujuk pada ajakan yang selalu didengungkan dan disosialisasikan AA Gym.
Mulai dari diri kita sendiri
Mulai dari yang kecil
Mulai saat ini juga
(3M)
Sangat sederhana untaian kalimat itu, tetapi memiliki nuansa yang dahsyat. Di tengah kondisi bangsa yang carut marut ini, setidaknya kita mulai menata sesuatu dari diri kita sendiri. Jika semua orang membaca ajakan AA Gym itu dan kemudian mengetrapkannya, segalanya akan berjalan sesuai dengan yang diinginkan. Kalau pun tidak semua orang mengetrapkannya, setidaknya beberapa di antara kita melakukannya.
Anif Punto Utomo
6 Responses to “Bangsa buat anak-anakku”
By hatami on Feb 14, 2004 | Reply
kok banyak sensor nya Oom ? ini kan jaman repormasi ….
By nurman on Feb 15, 2004 | Reply
jadi inget dulu kata seorang aktifis di masyarakat Majalaya…”Lamun lain urang, saha deui? Lamun lain ayeuna, iraha deui?”
(”Kalo bukan kita, siapa lagi? Kalo bukan sekarang, kapan lagi?”)
By Elan on Jul 1, 2005 | Reply
Nah inilah yang saya cari….
By dc on Jul 18, 2005 | Reply
apa yang kamu akan rasa jika negara kamu dicerobohi pekerja asing.. dan mereka bermaharajalela di negara kamu. Ngak menghormati negara kamu, lakukan jenayah di negara kamu,mencuri merompak merogol.. apa yang kamu rasa? Apa yang kamu rasa kalau ahli keluargamu sendiri terkena tindakan-tindakan buruk warga asing ini? hah ? Perkerjaan yang patut boleh diisi oleh rakyat tempatan disambar perkerja asing..
dan bila ingin dihantar pulang, negara asal pendatang ini berisik, ngatakan ia inhumane.. sedangkan apa yang dilakukan di negara tersebut lebih inhumane dari pemulangan itu. Fikirkanlah.. serumpun.. serupa tapi tak sama.. Seagama tapi lain mentaliti..
By fahmi agussalam on Apr 29, 2007 | Reply
assalamu’alaikum
akh iwan, ini fahmi dari palembang. apa kabar?
sudah lama sekali kita tidak kontak
ada no. hp?
adik ana firman mau kuliah di delf
kira2 september berangkatnya
By al-islam on Nov 9, 2007 | Reply
http://pondok-al-islam.blogspot.com/