Wajah-wajah Bercahaya

Written on May 12, 2004 – 7:40 am | by O Murazza |

eramuslim - Wajah-wajah dihadapan saya itu tampak bercahaya. Setiap mata menyambut kedatangan kami dengan penuh persahabatan.

�How are you brother?�,

�How is life?�,

�Bagaimana keimanan anda hari ini�,

�Bagaimana keadaan keluarga, pekerjaaan dan lingkungan anda�.

Pertanyaan-pertanyaan tulus tersebut sangat menyejukan. Berkhasiat bagai multivitamin, yang efektif meredakan kepenatan jiwa setelah satu pekan beraktivitas. Ditambah dengan percakapan yang ramah tanpa intrik. Sungguh, sebuah perkumpulan yang meneduhkan hati.

Setidaknya kesan itu yang saya tangkap, saat memenuhi undangan seorang sahabat, untuk menghadiri pengajiannya di suatu sudut kota Rotterdam. Dalam hingar-bingar kota yang menjanjikan mimpi dan kemewahan, pengajian itu justru menawarkan ketentraman dengan cara yang lebih elegan. Rutinitas duniawi yang menjadi nyawa kota pelabuhan terbesar di Eropa itu, tidak mampu menganggu kekhusyuan mereka untuk mencari ilmu agama. Saya tergugah oleh kecerahan spiritual yang dipancarkan sahabat-sahabat baru saya tersebut. Majlis dzikir itu mampu menyegarkan ruhiyah, bak oase di padang pasir. Dalam ganasnya persaingan hidup di negara sekuler, saya terhibur oleh suasana persaudaraan yang begitu hebat. Padahal, mereka bukanlah siapa-siapa bagi saya. Mereka bukan kerabat dekat. Bahkan, bukan saudara sebangsa. Para pemilik lisan-lisan, yang selalu bertasbih itu, tampak beragam. Nuansa internasional sungguh terasa disana. Selain muslim Eropa, terlihat juga wajah-wajah Afrika, Asia Tengah dan tentu ada tampang melayu seperti saya.

Ikatan ukhuwah yang mereka tawarkan sungguh mengusik hati.

�Kok ukhuwah seperti ini, mulai sulit saya dapati di negeri sendiri�.

Berbagai pengajian yang sama-sama mengaku mengejar ridho dan cinta Rabb mereka, terlihat tidak sinergis. Ormas Islam yang memiliki massa puluhan juta, sepertinya tak pernah akur. Kiprah umat di pentas politik, lebih kisruh lagi. Dalam Pemilu 2004 lalu misalnya, partai yang ber-label Islam terlihat berjalan sendiri-sendiri dengan agenda dan kepentingan mereka masing-masing. Wajar jika partai Islam menjadi kurang diminati.
�Bagaimana mungkin kita akan mempercayai partai politik yang sudah terjerat nafsu berkuasa dan mengusung kepentingan mereka saja, tanpa pernah mau mengalah untuk kesatuan umat�, demikian komentar seorang rekan yang galau dengan kecilnya perolehan suara partai Islam dalam pemilu kemarin.

Seorang sahabat yang lain, juga kesal dengan pertikaian yang mewabah di kalangan elit organisasi islam. �Apakah ini sunah dalam perjuangan? Apakah kumpulan-kumpulan yang berserakan itu akan mengundang pertolongan-Nya�. Sepertinya, rekan saya itu benar. Allah lebih mencintai perjuangan dari hamba-Nya yang bersatu-padu. “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh” (Ash-Shaff [61:4]). Bukankah, tali ukhuwah harus lebih ditinggikan diatas kepentingan politik dan fanatisme golongan. �Seorang mu�min dengan mu�min lainnya seperti satu bangunan yang tersusun rapi, sebagiannya menguatkan sebagian yang lain� (HR Bukhari). Dalam hadist yang senada, Rasul Saw berpesan, �Perumpamaan kaum mu�minin dalam cinta-mencintai, sayang-menyayangi dan menaruh rasa simpati, seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuhnya sakit, maka seluruh anggota tubuhnya yang lain ikut sakit juga, dengan demam dan tidak bisa tidur”.

Sayangnya, �manajemen perbedaan� kita masih semrawut. Perbedaan yang semestinya menjadi rahmat, malah menjadi perangkap. Konflik dianggap sebagai harga mati dari sebuah perbedaan. Dengan alasan itu, sah-sah saja kalau dua saudara tidak berteguran karena beda partai. Dengan alasan yang sama, wajar saja, bila persahabatan merengang karena beda pengajian. Dalam konteks serupa, anak gaul akan cenderung menjauh dari anak ngaji. Sebagaimana generasi bapak mereka yang sudah terpisah oleh dikotomi �kaum abangan versus santri�.

Terlepas dari perbedaan budaya dan fikrah. Sebenarnya, pertikaian-pertikaian tersebut tidak perlu terjadi. Yang sangat disayangkan adalah fakta bahwa perselisihan umat itu justru menjadi warisan turun-temurun. Perselisihan terkesan seperti �dipelihara�. Perbedaan antar Ormas; misalnya NU-Muhammadiyah, selalu menjadi komoditas politik para elit negeri. Sementara itu, polemik antar perkumpulan yang berbeda aliran, sengaja dilestarikan agar umat ini tak pernah hidup rukun, agar bangsa ini tidak sempat duduk bermufakat.

****

Jika melihat ukhuwah yang mulai terabaikan dan pertikaian yang mewabah, saya jadi ingat persaudaraan yang ditawarkan majlis dzikir itu. Terbayang hati-hati mereka yang berhimpun dan bertaut oleh tauhid. Untuk menghibur diri, saya akan berusaha mengingat kembali wajah-wajah bercahaya tersebut. Sambil bermimpi indah akan kembalinya persatuan umat. Semoga, kelak…ini bukan cuma mimpi.

Sumber: eramuslim.com
Publikasi: 11/05/2004 07:04 WIB

  1. 4 Responses to “Wajah-wajah Bercahaya”

  2. By Abutigaahmad on May 12, 2004 | Reply

    Wah Oki tambah berkibar nie…
    Oyo ki, teruskan…
    Juga tambah dewasa…

    Memang ki, jaman sekarang, silaturrahim jadi ajang kampanye atau dagang (kalo nggak percaya, baca aja republika, gatra, tempo, dll), bahkan silaturrahim jadi ajang bedagang..

    Cerita kamu jadi mengingatkan saya dua cerita. Pernah dulu saya di malaysia menghadiri acara dari jamaah yg sering mengajak pada kebaikan dan menjauhi politik. Dengan bangganya dia bercerita bagaimana orang rusia, amerika dan beberapa lagi yg makan satu nampan tanpa ada ribut2.

    Saya juga pernah berkeluh kesah pada seorang ustads, sambil membanding2 dg jamaah yg ahli zikir tsb. Dengan lemah lembut ustad tsb berkata pada saya: “Akhi, kalau antum rencana bangun rumah, terus yg antum bangun itu tamannya tok, niscaya yg terlihat hanyalah keindahan”.

    Kekhusyukan para ahli zikir teman anda tersebut itu satu hal. Itu hal kebaikan yg tak bisa dipungkirin. Cuma tidak adil, terus membandingkan mereka dg pelaku2 da’wah lainnya dan pelaku2 politik praktis tersebut. Apakah, kalau teman-teman ahli zikir tsb ‘nyemplung’ ke medannya para praktisi politis tersebut, mereka terjamin tidak melakukan hal yg sama?

    Atau, barangkali sangat mungkin, para pelaku politik praktis tersebut berdiam diri dan hanya berada di majlis zikir tersebut, khusuknya mereka akan sama seperti yg lain di majelis zikir.

  3. By admin on May 13, 2004 | Reply

    Wah, ini kayaknya komentar yang paling panjang di website ini. Mungkin karena yg memberi komentar sudah lama tidak lagi mengisi kolomnya sendiri.
    Ayo Pa Abutigaahmad, teruslah berkarya.

  4. By Nawa Ismail on Nov 30, 2005 | Reply

    Aslm,,,
    Aku ska ama artikel beginian membacanya jadi nyenengin….
    thank buat tmen2 semua atas artikelnya, boleh dong kirim ke emailku tmen,,,
    wass,,,,

  5. By Hamba Allah on Jun 5, 2006 | Reply

    Radio Perjuangan Umat Islam dari Bekasi Indonesia :

    http://daktaradio.tripod.com/

    Selamat mendengarkan.

Sorry, comments for this entry are closed at this time.

Tentang Kami

Keluarga Muslim Delft adalah wadah kegiatan kemasyarakatan ummat muslim Indonesia di Delft yang bertujuan menggairahkan kegiatan-kegiatan tersebut dalam mengharapkan ridla Allah Subhanahuu Wata’ala.

Ingin Berlangganan?

 Subscribe in a reader
Cari :