Negeri yang (Kembali) Terluka

Written on January 6, 2005 – 7:05 pm | by O Murazza |

Negeri yang (Kembali) Terluka

eramuslim - Aceh yang dulu saya kenal adalah Aceh yang kaya. Melimpahnya sumber gas bumi di Aceh pula lah yang mendorong saya untuk memilih bidang ilmu yang saya tekuni sekarang.
“Siapa tahu nanti setelah lulus dapat bekerja di sana, tentu akan bisa berdekatan dengan kerabat di Sumatera”, demikian pikiran lugu saya -yang saat itu masih SMA- berbisik. Kendati tidak jadi berkarir di LNG Arun, saya masih terus terkagum-kagum, begitu banyaknya karunia Allah untuk negeri sejuta ulama itu. Tercatat beberapa proyek vital negera dibangun disana; Arun dan gas buminya beserta beberapa pabrik pupuk dan pabrik kertas yang merupakan industri penopang hajat hidup orang banyak. O iya, yang jarang diberitakan media, Aceh adalah salah satu penghasil minyak Nilam terbesar di dunia. Minyak Nilam merupakan minyak atsiri yang sangat diperlukan di industri fragrance dan perfumery. Kabarnya minyak ini tidak diolah dengan muatan teknologi yang memadai, melainkan langsung diekspor ‘mentah-mentah’ ke Singapura. Toh….dengan pengolahan yang sangat sederhana itu, sudah cukup untuk menghidupi banyak petani Nilam tradisional.

Aceh yang saya kenal adalah negeri para pemberani, itu pasti diakui setiap anak negeri ini, jika mereka sempat belajar sejarah nasional Indonesia. Aceh adalah sedikit dari bangsa di dunia, yang tidak pernah dijajah, kebanggaan yang mungkin cuma dimiliki Thailand. Daftar nama pahlawan kita yang mulia, didominasi oleh para mujahid dari negeri rencong. Sebutlah nama-nama jalan utama di kota anda, sederetan nama pejuang Aceh tercantum harum disana. Kesetiaan Aceh untuk Republik ini tak berbanding, sehebat ikatan cinta diatas cinta. Kita tentu masih ingat sejarah, cikal bakal armada pesawat AURI Seulawah RI-001 adalah sumbangan rakyat Aceh. Kontribusi itu tentu belum seberapa dibandingkan simbahan peluh, darah serta airmata putra-putri terbaik Aceh yang disumbangkan untuk mengusung kibaran merah putih di bumi pertiwi ini. Entah harus bagaimana semestinya negara memperlakukan Aceh. Jelas, Aceh memiliki tempat terhormat di tanah air kita.

Orang-orang Aceh yang saya kenal pun jauh dari kesan biasa-biasa saja. Ada Novri dan Rusdha yang menjadi bintang di kampusnya. Pak Gun, akademisi yang lurus, jujur dan murah senyum. Juga ada Pak Ery, kandidat doktor Teknik Fisika yang juga guru ngaji.
Shalih, lurus dan cerdas; mungkin tipikal karakter dari putra-putri Serambi Makkah itu. Didikan agama yang kental, tertanam sejak belia, membuat mereka mampu mewarnai kehidupan sekitar, dimanapun mereka merantau. Belum lagi anugerah keindahan fisik yang juga milik mereka.

Terlepas dari kekayaan dan potensinya, miris rasanya membaca pemberitaan media massa tentang Aceh, -sejak Indonesia merdeka sampai sebelum periode otonomi daerah- kekayaan alamnya tersedot ke pusat. Itu belum cukup. Tiada henti-hentinya berita duka dari provinsi ini menjadi tajuk utama. Mulai dari gerakan separatis yang memakan korban tiada henti sampai dengan berita tentang pejabat daerahnya yang didakwa menyulap dana helikopter. Mulai dari issue pelanggaran HAM -saat menyandang stempel Daerah Operasi Militer (DOM)- dari hingga kabar pelaksanaan syariat Islam yang setengah hati.

Ahad, 26 Desember lalu, satu lagi musibah menambah derita rakyat Aceh. Gempa terbesar dalam 50 tahun terakhir, disusul Tsunami, membuat hujan airmata di negeri Darussalam itu semakin menjadi-jadi.. Ribuan tubuh ringkih hilang ditelan sapuan ombak yang datang tiba-tiba. Rasulullah mengabarkan, meninggal tenggelam tergolong syahid [HR Muslim], semoga para korban yang wafat, dibariskan dalam kelompok syuhada. Jeritan anak yang kehilangan orang tua maupun kerabat yang lenyap tanpa berita, membingkai liputan demi liputan. Ancaman penyakit menular di depan mata. Drama pengungsian kembali meluruhkan nurani kita. Pengungsi akibat konflik territorial belum tertangani, kini muncul gelombang dhuafa yang lebih massal. Saya tidak ingin ikut-ikutan menyalahkan lemahnya ‘early warning system’ dari instansi yang terkait. Pun, saya belum mampu berbuat apa-apa, ketika membaca berita maraknya penjualan anak kecil ditengah musibah nasional ini. Pun, menarik nafas mungkin usaha terkeras saya, ketika bantuan yang tiba terancam ditelikung.

Untungnya sebagian bangsa ini masih punya hati. Ternyata perlu tangisan pengungsi untuk meruntuhkan petak-petak sosial di kepala kaum muslimin. Butuh Tsunami untuk merekatkan ukhuwah. Saat ini adalah saatnya bagi budayawan dan seniman untuk menggelar malam dana. Ini masanya insinyur untuk menyediakan air bersih. Ini giliran pakar geologi dan geofisika untuk mensosialisasikan pengetahuan mereka, setidaknya untuk masyarakat pantai. Ini kewajiban para dermawan untuk menyediakan ransum. Salam takzim untuk para relawan yang sudah memobilisasi dana atau bahkan menjadi sukarelawan, terjun langsung ke lokasi bencana. Beliau-beliau adalah mukmin tepilih, sungguh keputusan yang tidak gegabah untuk menjadi relawan, salah-salah hanya akan menambah keruwetan disana.

****

Ya Arhamar Rahimin,
Semoga ini cobaan yang akan mengangkat derajat kami
Bukan adzab yang akan menambah luka

Yaa Mualiffal Qulub
Satukan hati-hati kami

Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uuna.
Allaahumma ajirnii fii mushiibatii wakhluf lii khairan minhaa.

***
Mu. Abdur Razzaq

Sorry, comments for this entry are closed at this time.

Tentang Kami

Keluarga Muslim Delft adalah wadah kegiatan kemasyarakatan ummat muslim Indonesia di Delft yang bertujuan menggairahkan kegiatan-kegiatan tersebut dalam mengharapkan ridla Allah Subhanahuu Wata’ala.

Ingin Berlangganan?

 Subscribe in a reader
Cari :