Archive for the ‘Tasawwuf’ Category
Monday, May 30th, 2005 |
Bismilahirrahmanirrahim Walhamdulillahi Rabbil ‘aalamiin Wassholatu Wassalamu `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Washohbihie Waman Walaah amma ba’du…
oleh KH. Jalaluddin Rakhmat
Dunia tasawuf mengenal banyak cerita sufi. Sebagian dari cerita itu
termuat dalam kitab Tadzkiratul Awliya, Kenangan Para Wali, yang
ditulis oleh Fariduddin Attar. Buku ini ditulis dalam bahasa Persia,
meskipun judulnya ditulis dalam bahasa Arab. Selain berarti kenangan
atau ingatan, kata tadzkirah dalam bahasa Arab juga berarti
pelajaran. Sehingga Tadzkiratul Awliya berarti pelajaran yang
diberikan oleh para wali.
(more…)
Posted in Tasawwuf | 18 Comments »
Monday, May 16th, 2005 |
Allah SWT berfirman: ”Bertahajudlah kamu pada sebagian malam hari sebagai suatu ibadah tambahan bagimu. Mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.” (QS Al-Isra: 79).
(more…)
Posted in Tasawwuf | 9 Comments »
Thursday, March 10th, 2005 |
A’uudzu billahi minasy syaithanirrajiim
Bismillahirrahmanirrahim,
Dengan atas asma Allah Yang Pemurah dan Penyayang
Ibnu Mubarak menceritakan bahwa Khalid bin Ma’dan berkata kepada
Mu’adz, “Mohon Tuan ceritakan hadits Rasulullah sallAllahu ‘alayhi wasallam yang Tuan hafal dan yang
Tuan anggap paling berkesan. Hadits manakah menurut Tuan?
(more…)
Posted in Tasawwuf | 12 Comments »
Sunday, February 13th, 2005 |
Letak dan Peran Mistisisme dalam Penghayatan Keagamaan Islam
oleh Dr. Nurcholish Madjid
MASALAH KEABSAHAN TASAWUF
Membicarakan keabsahan Tasawuf dapat mengisyaratkan
pengambilan sikap penghakiman (judgment) dengan implikasi
yang serius, karena menyangkut masalah sampai dimana kita
bisa dan berhak menilai pengalaman keruhanian seseorang.
Telah disinggung bahwa mistisisme atau pengalaman mistis,
tidak terkecuali yang ada pada kaum Sufi, selalu mengarah
kedalam, dan dengan sendirinya bersifat pribadi. Oleh karena
itu pengalaman mistis hampir mustahil dikomunikasikan kepada
orang lain, dan selamanya akan lebih merupakan milik pribadi
si empunya sendiri. Oleh karena itu sering terjadi adanya
tingkah laku eksentrik dan “di luar garis,” dan orang lain,
lebih-lebih sesama Sufi sendiri, akan memandangnya, dengan
penuh pengertian, jika tidak malah kekaguman. Berbagai
cerita tentang “wali” yang berkelakuan aneh, seperti banyak
terdapat di berbagai negeri dan daerah Islam, adalah
kelanjutan dari persepsi mistis ini.
(more…)
Posted in Tasawwuf | 4 Comments »
Sunday, February 13th, 2005 |
Letak dan Peran Mistisisme dalam Penghayatan Keagamaan Islam
oleh Dr. Nurcholish Madjid
TARIK-MENARIK ANTARA SYARI’AH DAN THARIQAH
Perpisahan antara kedua orientasi keagamaan yang lahiri dan
batini itu kemudian mewujudkan diri dalam divergensi
sistem-sistem penalaran masing-masing pihak pendukungnya.
Maka dalam kedua-duanya kemudian tumbuh cabang ilmu
Keislaman yang berbeda satu dari yang lain, bahkan dalam
beberapa hal tidak jarang bertentangan. Seolah-olah hendak
berebut sumber legitimasi dari al-Qur’an, maka sebagaimana
orientasi keagamaan eksoteris yang bertumpu kepada
masalah-masalah kehukuman itu mengklaim sebagai paham
keagamaan (fiqh) dan jalan kebenaran (syari’ah) par
excellence, orientasi keagamaan esoteris yang bertumpu
kepada masalah pengalaman dan kesadaran ruhani pribadi itu
juga mengklaim diri sebagai pengetahuan keagamaan (ma’rifah)
dan jalan menuju kebahagiaan (thariqah) par excellence.
(more…)
Posted in Tasawwuf | 1 Comment »
Saturday, February 12th, 2005 |
Letak dan Peran Mistisisme dalam Penghayatan Keagamaan Islam
oleh Dr. Nurcholish Madjid
Dalam sebuah hadits, Rasulullah s.a.w. disebutkan sebagai bersabda bahwa masa kenabian (nubuwwah) dan rahmat akan disusul oleh masa kekhalifahan kenabian (Khilafat nubuwwah) dan rahmat, sesudah itu masa kerajaan (mulk) dan rahmat, kemudian masa kerajaan (saja).1 Ibn Taymiyyah menjelaskan bahwa masa “kenabian dan rahmat” itu ialah, tentu saja, masa Nabi sendiri. Sedangkan masa “kekhalifahan kenabian dan rahmat” berlangsung selama tiga puluh tahun sesudah wafat Nabi s.a.w., yaitu sejak permulaan kekhalifahan Abu Bakr, disusul Umar ibn al-Khathtab, kemudian Utsman ibn ‘Affan, dan akhirnya ‘Ali ibn Abi Thalib. Mereka adalah para pengganti (khalifah) Nabi yang kelak dikenal sebagai para
khalifah yang berpetunjuk (al-khulafa al-rasyidun). Sedangkan masa para khalifah yang empat itu adalah masa “kerajaan dan rahmat.”
(more…)
Posted in Tasawwuf | 1 Comment »
Thursday, February 3rd, 2005 |
Pekak sudah telinga kita mendengar pertengkaran di komunitas muslim. Pekat hati ini menyerap begitu banyak perseteruan, pergunjingan, hasut, dengki dan kedzaliman di tubuh umat.
Artikel berikut mengingatkan untuk memuliakan sesama, untuk membela kehormatan saudara kita, untuk memanusiakan manusia dan untuk mencintai cinta.
(more…)
Posted in Tasawwuf | 3 Comments »
Sunday, January 30th, 2005 |
oleh Syaikh Muhammad Hisham Kabbani
“Di masa Rasulullah sall-Allahu ‘alayhi wasallam Tasawwuf adalah sebuah realitas tanpa nama, sekarang Tasawwuf adalah sebuah nama, tetapi hanya sedikit yang mengetahui realitasnya.”
(more…)
Posted in Tasawwuf | 13 Comments »