Archive for the ‘Cermin’ Category
Sunday, July 31st, 2005 |
Saya seringkali mendengar dan membaca tentang rahasia hidayah. Kalimat “Barang siapa yang disesatkan Allah, maka tiada satupun yang dapat memberinya hidayah. Dan barang siapa yang mendapat hidayahNya, maka tiada satupun yang dapat menyesatkannya,” hampir selalu kita dengar dalam pembukaan khutbah jumat maupun ceramah-ceramah. Konon kabarnya, sebelum menjadi sesat, syaithon adalah makhluq Allah yang selalu bersujud dan beribadah padaNya. Belum lagi kisah-kisah islamnya tokoh-tokoh besar seperti Hamzah (Asadullah), Khalifah Umar Ibn Khattab, dan Khalid bin Walid (Saefullah), semuanya seolah menjadi pembenar kutipan kalimat diatas.
(more…)
Posted in Cermin | 10 Comments »
Wednesday, June 29th, 2005 |
Mungkin diantara anda pernah mendengar cerita kisah keluarga di zaman Tabi’tabi’in. Mudah-mudahan tulisan ini bisa menyegarkan pikiran anda akan kisah ini. Alkisah, kurang lebih diceritakan bahwa anak mereka sakit keras, sementara sang suami tetap harus berda’wah. Sang istri selain menjalankan kewajiban menjalankan kewajiban melayani sang suami, ia juga dengan kasih sayang menjaga anak mereka yang tengah menunggu ajal. Ketika panggilan azan terdengar, pergilah sang suami menunaikan shalat ke masjid. Tak lama setelah kepergian, sang suami, sang anak tercinta menghembuskan nafas terakhirnya. Sang istri, pun pasrah mengucapkan: “Innalillahi wa inna ilaihi roji’un”. Ia lalu meletakan anak mereka ditempat tidur, seolah2 sang anak tidur lelap. Tak larut dalam kesedihan. Segera ia memasak buat suaminya, seolah-olah akan menjamu seorang tamu agung. Selesai masak, sang istri segera berbersih-bersih, mengganti baju yang indah, dan mempercantik diri. Sejurus ia berdiri didepan pintu, menunggu sang suami pulang dari masjid.
(more…)
Posted in Cermin | 6 Comments »
Monday, April 25th, 2005 |
I owe verymuch to my parents. I lost my mother in the year 2002. Although she could not read in English, I still wish she could see this text from heaven
Saya tercengung lama membaca potongan preface thesis teman sekantor saya asal RRC di atas. Seolah-olah ada mixer besar datang mengaduk-aduk perasaan dan pikiran saya saat itu. Tiba-tiba, saya begitu iri melihat teman saya ini sangat berbakti kepada orang tuanya. Pernah dia pulang ke RRC, dan ketika kembali ke Delft, dengan bangganya dia memutarkan rekaman handycam orang tuanya yang tinggal di rumah kampung yang sangat sederhana (menurutnya, orang tua mereka tidak mau pindah kerumah anak-anaknya yang lebih layak) kepada kami teman-teman sekantornya. Belum lagi pendidikan orang tuanya yang boleh dikatakan ‘tanpa pendidikan’ begitu njomplang jika dibanding dirinya yang lulusan sebuah aerospace instutute yang terkenal di RRC dan sebentar lagi memegang gelar “Doctor” dari TU Delft. Semua itu tak sedikitpun membuat teman saya itu malu apalagi menghalanginya untuk bangga dan cinta pada orangtuanya.
(more…)
Posted in Cermin | 11 Comments »
Friday, September 17th, 2004 |
Kesunyian menemani saya yang entah telah berapa jam menatap barisan statements software di monitor komputer. Lelah sekali. Duh…sebentar lagi jam lima sore nih, harus siap-siap mau pergi schoonmaaken (baca: kerja bersih-bersih kantor dan wese orang).Ada kemalasan menyelimuti saya untuk melangkah kerja. Apalagi, sudah kebayang nanti pulangnya pasti anak-anak akan melakukan “protes” karena sudah terlalu lama ditinggal Abi-nya. Mulai dari buat gaduh, menangis, jahilin adiknya, atau merengek-rengek minta ditemani tidur. Padahal, saat itulah kelelahan dan ingatan kepada beberapa deadline pekerjaan benar-benar menghampiri saya.
Perlahan saya mulai beringsut, berjalan perlahan seolah ada beban yang berat. Tiba-tiba saja, ada nama yang muncul dalam ingatan saya: “Adnan Kailani !”
Mulut saya berguman dua tiga kali menyebut nama tersebut.
Apakabarmu?
Dimana kamu?
(more…)
Posted in Cermin | 2 Comments »
Friday, February 13th, 2004 |
Ketika diminta menulis untuk kolom MuslimDelft ini, saya mencari-cari topik yang sesuai buat saya. Sadar dengan kekurangan saya, maka sangatlah kurang bijaksana kalau tulisan itu nantinya ditujukan untuk mengajari orang lain, apalagi menyuruh orang lain berbuat baik. Mencari perbuatan baik apa saja yang sudah diamalkan dalam kehidupan sehari-hari saja sudah sulit, apatah lagi harus menuliskannya dalam ide-ide yang terstruktur. Untuk menulis keburukan orang lain mah gampang…, jangankan keburukan orang lain, keburukan sendiri yang kadang tidak disadari aja daftarnya bisa berhalaman-halaman. …………….
Pada akhirnya, saya memutuskan untuk menulis buat diri sendiri, yang mungkin refleksinya bisa jadi CERMIN bagi yang membacanya. Tadinya saya cukup Puas dengan batasan yang saya buat. Karena dengannya, saya bisa berdialog dengan diri sendiri mencari2 kebaikan apa yang bisa di ulang dan mengevaluasi kekurangan diri berulang-ulang. Selain itu iseng-iseng, kalau ada yang melihat kebaikan yang ada bisa ditiru, dan jikalau ada kekurang yang terlihat, mudah-mudahan jadi contoh kasus yang harus dihindari.
Malangnya…, tidak semua rencana berjalan mulus. Pengakuan yang saya buat pada diri sendiri ternyata dilihat sebagai KELUHAN. Keluh kesah yang perlu tempat pembuangan. Saya terus terang, sempat sungkan menulis karenanya. Tapi tidak untuk hari ini, karena hari ini saya tidak ingin berdialog dengan diri saya sendiri. Saya ingin BERKELUH KESAH dengan pada Tuhan akan bangsaku.
(more…)
Posted in Cermin | 6 Comments »
Monday, November 24th, 2003 |
Kenapa Nyai (nenek dalam bahasa Palembang) udah tua ada ubannya?
Kenapa Nyai punya anak, Bapak dulu baru Abi terus Pak Ucu?
Kenapa Allah ciptakin semuanya karena Allah hebat?
Kenapa nanti kalo adek ahmad sudah besar terus punya anak, terus abinya udah tua?
Kenapa nanti kalo abi sudah tua, Abi mati???
***
(more…)
Posted in Cermin | 2 Comments »
Tuesday, November 11th, 2003 |
Kalau ada yang paling saya suka dari etika orang Belanda, adalah senyum. Kenal nggak kenal, kalau ketemu di lift, kebanyakan mereka menyapa dengan Daag sambil tersenyum. Awalnya sih bingung, sebab ketemu bilang daag, pisah juga bilang daag, tapi akhirnya terbiasa. Lama-lama juga nemu padanan kata lain, yang lebih gampang di cerna, misalnya tot zien‘, tot kijk, atau tot straks yang kira-kira artinya sampai jumpa. Ketika masih tinggal di Rotterdam dan hari-hari harus bolak-balik Rotterdam-Delft, saya jadi terbiasa meng-copy kebiasaan orang belanda: mempersilahkan orang lebih dulu, menolong menahan pintu, menolong menurunkan kinderwagen (kereta bayi). Kalau sampe, dikantor, mulai tebar-tebar senyum sambil memberi salam goede morgen (selamat pagi). Sementara itu, ditempat keramaian sering kali tanpa sengaja menyenggol, menginjak kaki, menabrak orang, eh..tapi londonya malah bilang duluan: sorry hoor (maaf). Akhirnya saya jadi sering mempraktekkan kebiasaan wong jowo: mas..mas..maaf mas, kaki saya keinjek yang biasa dipraktekkan oleh orang belanda.
***
(more…)
Posted in Cermin | 1 Comment »
Tuesday, November 11th, 2003 |
Dalam beberapa minggu ini, sepanjang perjalanan rutin Rotterdam-Delft, saya sering kali melihat billboard kampanye anti rokok di Belanda. Ada macam-macam pamflet yg terpasang, mulai dari bahaya rokok di tempat kerja sampai ajakan menabung uang jatah rokok untuk masa depan anak. Ada satu jenis pamflet yang sangat menarik perhatian saya yang diberi judul gede-gede Kinderen Kopieeren atawa terjemahan ska (sekenanya aja) adalah “Anak Mencontoh”. Mulanya sih, saya kagum akan usaha pembuat pamflet, dari mencari model ayah-anak atau ibu-anak yang sangat mirip kemudian dengan olahan elektronik grafis, membuat audien pamflet menangkap pesan yang ingin disampaikan dengan mudah, walaupun hanya sekelebat pandangan dari dalam bus atau metro. Tapi makin sering melihat pamflet-pamflet tersebut koq, jadi kepikiran banyak hal, dari rokok, anak, keluarga, sampai dakwah.
***
(more…)
Posted in Cermin | 1 Comment »