Archive for the ‘Atas Nama Cinta’ Category
Monday, October 10th, 2005 |
10/10/2005 11:17 WIB
“Aku melihat seorang laki-laki dari ummatku terengah-engah kehausan, maka datanglah kepadanya puasa Ramadhan, lalu memberinya minum sampai kenyang.” (HR At-Tirmidzi, Ad-Dailami dan Ath-Thabrani)
(more…)
Posted in Atas Nama Cinta | 1 Comment »
Wednesday, July 6th, 2005 |
eramuslim - Siang di satu universitas teknik tertua di eropa barat. Beruntung, saya berhasil menemuinya, seorang cendekiawan cemerlang berdarah Polandia. Meski waktunya kurang tepat, peneliti yang sedang menghiasi ruang kerjanya dengan poster ilmiah itu, menyambut kedatangan saya dengan antusias. Kamar kerjanya terlampau sesak, jika tidak boleh dibilang sempit. Bekal gelar doktor dari universitas prestisius di negara bagian Massachuset (Amerika Serikat) ternyata tidak membuat karirnya lempang. Saat ini, kala rekan-rekan sebayanya sudah mendapatkan posisi permanen sebagai tenure-track professor, ia harus puas dengan posisi cuma magang. Status ‘warga kelas dua’ dengan pasport imigran ternyata sangat menghambat karir akademisnya. Meski ia bekerja di negara demokrasi yang katanya paling liberal.
(more…)
Posted in Atas Nama Cinta | 5 Comments »
Friday, April 1st, 2005 |
Wahai bunda
hanya Tuhan saja yang dapat membalas jasamu kerana Tuhan saja yang tahu penderitaanmu
(Nasyid dari Nowseeheart)
eramuslim - Saat itu saya masih empat belas tahun. Untuk pertama kalinya, saya harus berpisah ‘jauh’ dengannya, perempuan terbaik yang pernah saya kenal. Tatkala tangan-tangan itu melambai, rasa bersalah berdentam-dentam di rongga dada. Ugghhh… kenapa saya tega meninggalkannya sejauh itu. Belum terbayang, kapan lagi saya akan kembali bertemu dengannya.
(more…)
Posted in Atas Nama Cinta | 18 Comments »
Thursday, January 13th, 2005 |
Musholla itu penuh sesak. Aroma tak sedap tercium dari pinggir ruangan. Karpetnya compang-camping dan kumal, entah kapan terakhir dibersihkan. Kipas angin yang usang dan sekarat, ditambah sempitnya ruangan tak berventilasi itu, membuat para musafir tidak nyaman di dalamnya. Kekhusu’an jamaah shalat semakin terganggu oleh bisingnya suara mobil dan motor. Seperti layaknya tempat sholat di mall atau plaza lainnya, musholla itu terletak di basement, berdempetan dengan lapangan parkir. Kepulan asap dan partikulat dari knalpot kendaraan yang keluar masuk parkir menjelma menjadi pengharum ruangan tersebut, menambah lengkap ‘paket hemat’ bagi ritual ibadah disana.
(more…)
Posted in Atas Nama Cinta | 2 Comments »
Thursday, January 6th, 2005 |
Negeri yang (Kembali) Terluka
eramuslim - Aceh yang dulu saya kenal adalah Aceh yang kaya. Melimpahnya sumber gas bumi di Aceh pula lah yang mendorong saya untuk memilih bidang ilmu yang saya tekuni sekarang.
“Siapa tahu nanti setelah lulus dapat bekerja di sana, tentu akan bisa berdekatan dengan kerabat di Sumatera”, demikian pikiran lugu saya -yang saat itu masih SMA- berbisik. Kendati tidak jadi berkarir di LNG Arun, saya masih terus terkagum-kagum, begitu banyaknya karunia Allah untuk negeri sejuta ulama itu. Tercatat beberapa proyek vital negera dibangun disana; Arun dan gas buminya beserta beberapa pabrik pupuk dan pabrik kertas yang merupakan industri penopang hajat hidup orang banyak. O iya, yang jarang diberitakan media, Aceh adalah salah satu penghasil minyak Nilam terbesar di dunia. Minyak Nilam merupakan minyak atsiri yang sangat diperlukan di industri fragrance dan perfumery. Kabarnya minyak ini tidak diolah dengan muatan teknologi yang memadai, melainkan langsung diekspor ‘mentah-mentah’ ke Singapura. Toh….dengan pengolahan yang sangat sederhana itu, sudah cukup untuk menghidupi banyak petani Nilam tradisional.
(more…)
Posted in Atas Nama Cinta | Comments Off
Wednesday, October 13th, 2004 |
Sahabat/Me-rindui-Delft
Sahabat-sahabatku…
Pertama-tama, Saya mohon maaf karena belum sempat berkunjung kembali ke Delft
Sahabat,
Percayalah…walaupun kini, kita jauh dimata..namun kita tetap dekat di hati…
seperti kata Pak Cik..
“Apabile aku tiade di sisimu bukan bermakne aku membencimu”
(more…)
Posted in Atas Nama Cinta | 4 Comments »
Thursday, August 26th, 2004 |
Malam itu, saya sedang dalam kesibukan yang memuncak, tenggelam dalam kertas kerja yang bertebaran.
Sibuk berat.
Ketika tiba-tiba muncul muncul pesan singkat dari seorang bapak; sahabat kami. Pesan yang menggelitik hati.
Posted in Atas Nama Cinta | 4 Comments »
Friday, June 25th, 2004 |
alhikmah.com - Masjid imigran Maroko di Koornmarkt itu masih sepi. Hari mulai merambat kelam, tapi adzan maghrib belum terdengar. Di sebuah sudut Masjid Al Ansaar tersebut, seorang lelaki khusyuk menengadahkan tangannya. Sesaat kemudian, lelaki itu tersungkur. Ia diam dalam sujudnya. Lama sekali. Agaknya, Ia sedang dijerat kesulitan hidup yang mendera. Barangkali, ia sujud untuk memohonkan seluruh harapannya kepada Sang Penguasa semesta. Beragam masalah mungkin tengah diadukannya. Entah itu cita-cita tinggi yang me-raja di singgasana hati, apakah itu kerinduan yang sudah merasuk ke tulang sumsum, atau mungkin juga tentang sepenggal kisah kasih tak sampai.
(more…)
Posted in Atas Nama Cinta | 8 Comments »
Wednesday, May 12th, 2004 |
eramuslim - Wajah-wajah dihadapan saya itu tampak bercahaya. Setiap mata menyambut kedatangan kami dengan penuh persahabatan.
�How are you brother?�,
�How is life?�,
�Bagaimana keimanan anda hari ini�,
�Bagaimana keadaan keluarga, pekerjaaan dan lingkungan anda�.
Pertanyaan-pertanyaan tulus tersebut sangat menyejukan. Berkhasiat bagai multivitamin, yang efektif meredakan kepenatan jiwa setelah satu pekan beraktivitas. Ditambah dengan percakapan yang ramah tanpa intrik. Sungguh, sebuah perkumpulan yang meneduhkan hati.
(more…)
Posted in Atas Nama Cinta | 4 Comments »
Friday, May 7th, 2004 |
eramuslim - Di Thaif, lelaki mulia itu terluka. Zaid bin Haritsah yang mendampinginya pun ikut berdarah ketika berusaha memberikan perlindungan. Penduduk negeri itu melemparinya dengan batu. Padahal, ajakannya adalah ajakan tauhid. Seruannya adalah seruan untuk mengesakan Allah. “Agar Allah diesakan dan tidak disekutukan dengan apapun.” Namun, Bani Tsaqif malah memusuhinya. Pejabat negeri itu menghasut khalayak ramai untuk menyambutnya dengan cercaan dan timpukan batu.
Meski diperlakukan sedemikian kasar, Rasulullah tetap pemaaf. Kecintaannya kepada umat mengobati derita yang dialaminya. Beliau menolak tawaran Jibril yang siap mengazab penduduk Thaif dengan himpitan gunung. Sebaliknya, ia mendoakan kebaikan bagi kaum yang mencemoohnya itu,
Posted in Atas Nama Cinta | 5 Comments »