Archive for March, 2005

Abah Anom, Sufi Yang Tak Menyendiri

Tuesday, March 29th, 2005

Bismilahirrahmanirrahim Walhamdulillah Wassholatu Wassalamu `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Washohbihie Waman Walaah amma ba’du…

abahanom_2.JPG

Suryalaya, 26 tahun lalu. Sekelompok pemuda yang amat lemah daya nalarnya, sulit mengerti pembicaraan orang atau ‘telat mikir’. Mereka juga tak punya ingatan yang baik, hanya mampu mengingat selama lima menit kemudian lupa begitu saja, setelah sebelumnya diajarkan huruf-huruf hijaiyah secara intensif.

(more…)

Majelis Taklim Habib Kwitang

Tuesday, March 29th, 2005

Bismilahirrahmanirrahim Walhamdulillah Wassholatu Wassalamu `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Washohbihie Waman Walaah amma ba’du…

Jika Anda berkunjung ke Kelurahan Kwitang, Jakarta Pusat, setiap Ahad pukul 06.00 hingga 10.00 pagi, niscaya akan menemukan kerumunan orang. Jumlahnya bertambah lebih dari dua kali biasanya. Kwitang, salah satu kampung tua di Jakarta, dalam waktu-waktu itu biasa didatangi para jamaah dari Jabotabek. Mereka umumnya berasal dari Mampang, Buncit, Kemang, Ragunan, Pedurenan, Kebayoran Lama, Depok, Bojonggede, dan sekitarnya.
(more…)

Habib Ali Kwitang yang Mempersaudarakan Para Kyai

Tuesday, March 29th, 2005

Bismilahirrahmanirrahim Walhamdulillah Wassholatu Wassalamu `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Washohbihie Waman Walaah amma ba’du…

Sebelum Habib Ali bin Abdurahman Alhabsji meninggal dunia pada 1968, di majelisnya di Kwitang, ia meminta tiga orang kyai kondang dari Jakarta untuk maju ke hadapannya. Ketiga kyai itu, masing-masing KH Abdullah Syafei, KH Tohir Rohili, dan KH Fatullah Harun kemudian oleh Habib Ali dipersaudarakan dengan puteranya, Habib Muhammad. Dalam peristiwa yang disaksikan oleh ribuan jamaah, Habib Ali mengharapkan agar keempat orang yang telah dipersaudarakan itu dapat terus mengumandangkan dakwah Islam.
(more…)

Moskee Kecil Kami

Friday, March 25th, 2005

Saya masih ingat ketika hendak berangkat ke Delft, saya tulis pada catatan saya sebuah nomor. Nomor 209, demikian masih ada di agenda saya sampai sekarang. Apakah itu nomor penerbangan? Apakah itu nomor rumah yang akan saya tempati nanti? Bukan. Nomor itu saya dapat dari website ini (muslimdelft.nl). Nomor tersebut adalah nomor ruangan yang digunakan sebagai musholla di gedung EWI –Elektrotechniek, Wiskunde en Informatica.
(more…)

KH. Abdul Wahid Hasyim, Berprestasi Besar pada Usia Muda (8-Tamat)

Saturday, March 19th, 2005

Bismilahirrahmanirrahim Walhamdulillah Wassholatu Wassalamu `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Washohbihie Waman Walaah amma ba’du…

Musibah di Cimindi

Tanggal 19 April 1953 merupakan hari berkabung. Waktu itu hari Sabtu tanggal 18 April, KH. Abdul Wahid Hasyim bermaksud pergi ke Sumedang untuk menghadiri rapat NU. Berkendaraan mobil Chevrolet miliknya, Abdul Wahid Hasyim ditemani seorang sopir dari harian Pemandangan, Argo Sutjipto, tata usaha majalah Gema Muslimin dan putera sulungnya, Abdurrahman Ad-Dakhil. Abdul Wahid Hasyim duduk di jok belakang bersama Argo Sutjipto.
(more…)

KH. Abdul Wahid Hasyim, Berprestasi Besar pada Usia Muda (7)

Saturday, March 19th, 2005

Bismilahirrahmanirrahim Walhamdulillah Wassholatu Wassalamu `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Washohbihie Waman Walaah amma ba’du…

Tokoh Termuda

Karier Wahid Hasyim dalam pentas politik nasional terus melejit.
Dalam usianya yang masih muda, beberapa jabatan penting dia sandang,
baik di kepengurusan NU maupun Masyumi. Bahkan ketika Jepang
membentuk badan yang bertugas menyelidiki usaha-usaha persiapan
kemerdekaan atau dikenal BPUKI, Wahid Hasyim merupakan salah satu
anggota termuda setelah BPH. Bitoro, dari 62 orang yang ada. Waktu
itu Wahid Hasyim berusia 33 tahun, sementara Bintoro 27 tahun.
Sebagai tokoh muda, dia juga diangkat menjadi penasihat Panglima
Besar Jenderal Soedirman. Dia juga merupakan tokoh termuda dari
sembilan tokoh nasional yang menandatangani Piagam Djakarta, sebuah piagam yang melahirkan proklamasi dan konstitusi negara.

(more…)

KH. Abdul Wahid Hasyim, Berprestasi Besar pada Usia Muda (6)

Saturday, March 19th, 2005

Bismilahirrahmanirrahim Walhamdulillah Wassholatu Wassalamu `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Washohbihie Waman Walaah amma ba’du…

Wa mal hayatud dunya illa mata’ul ghurur

Sewaktu terjadi perombakan kabinet dan nama Wahid Hasyim tidak
tercantum lagi dalam daftar nama anggota kabinet baru, beberapa orang
tampak kecewa. Padahal yang bersangkutan cuek saja. Ketika mereka
bertemu dengan KH. Abdul Wahid Hasyim, kekecewaan itu langsung
ditumpahkan kepadanya.
(more…)

KH. Abdul Wahid Hasyim, Berprestasi Besar pada Usia Muda (5)

Saturday, March 19th, 2005

Bismilahirrahmanirrahim Walhamdulillah Wassholatu Wassalamu `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Washohbihie Waman Walaah amma ba’du…

Pribadi Tawadhu’

Meskipun dikenal sebagai pemimpin nasional yang berpikiran maju, KH. Abdul Wahid Hasyim tetap memiliki sikap tawadhu (kepada para ulama, lebih-lebih kepada ayahandanya Hadhratusysyaikh Hasyim Asy’ari. Hal itu, antara lain bisa dilihat ketika melakukan percakapan sehari-hari dengan sang ayah. Kepada KH. Abdul Wahid Hasyim, Hadhratusysyaikh Hasyim Asy’ari biasa melakukan percakapan dengan bahasa Arab yang fasih. Tetapi KH. Abdul Wahid Hasyim selalu menjawab dengan bahasa Jawa halus (kromo inggil). KH. Abdul Wahid Hasyim kurang lancar bercakap-cakap dengan bahasa Arab? Jelas bukan. Penggunaan bahasa Jawa halus saat bercakap-cakap dengan ayahnya dilakukan KH. Abdul Wahid Hasyim untuk memperlihatkan sikap tawadhu (rendah hati) kepada orangtuanya. Apalagi jika percakapan itu disaksikan oleh orang ketiga atau orang keempat. KH. Abdul Wahid Hasyim ingin menghindari jangan sampai ada orang yang tersinggung atau tidak paham dengan yang dibicarakan.
(more…)

KH. Abdul Wahid Hasyim, Berprestasi Besar pada Usia Muda (4)

Saturday, March 19th, 2005

Bismilahirrahmanirrahim Walhamdulillah Wassholatu Wassalamu `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Washohbihie Waman Walaah amma ba’du…

Geraknya Lambat

Selama empat tahun Wahid Hasyim menimbang-nimbang berbagai tawaran
yang diterima. Sesudah itu barulah pilihan dijatuhkan kepada
organisasi Nahdlatul Ulama. Tepatnya tahun 1938 dia menyatakan
menerima tawaran untuk aktif di NU. “NU saya pilih untuk
mengembangkan sayap dan kecakapan,” ujarnya. Dalam buku Mengapa
Memilih NU? Wahid Hasyim menjelaskan alasan dia memilih NU sebagai
tempat “berlabuh”.
(more…)

KH. Abdul Wahid Hasyim, Berprestasi Besar pada Usia Muda (3)

Saturday, March 19th, 2005

Bismilahirrahmanirrahim Walhamdulillah Wassholatu Wassalamu `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Washohbihie Waman Walaah amma ba’du…

Mondok Cukup dengan Hitungan Hari

KH. Hasyim Asy’ari adalah seorang kyai terkenal yang sangat disiplin dalam memimpin. Kepemimpinannya sangat efektif dan unggul sehingga sebagian besar orang yang dipimpinnya menjadi “orang” di kemudian hari. Hampir semua kyai kenamaan pengasuh pesantren pada dekade ‘40-an sampai ‘70-an pernah berguru pada KH. Hasyim Asy’ari. Dia juga berjiwa demokratis. Kedisiplinan dalam memimpin dan sikap demokratisnya tampak menonjol dalam kehidupan keluarga, terutama dalam mendidik putera-puterinya. Sebagai ulama besar beliau mengharapkan putera-puterinya bisa mengikuti jejak dan berkembang menjadi generasi yang berpengetahuan luas, khususnya dalam ilmu agama. Untuk itulah suasana kehidupan keluarga diciptakan sedemikian rupa sehingga mendukung proses pembelajaran seluruh anggota
keluarganya. Sejak dini putera-puterinya diperkenalkan dengan
pengetahuan agama Islam dan dibebaskan untuk mempelajari ilmu
pengetahuan umum. Tidak soal baginya bagaimana mendapatkan buku bahan
bacaan bagi putera-puterinya sebab secara ekonomi dia tergolong mampu
untuk ukuran saat itu. Dalam suasana seperti itulah Abdul Wahid
tumbuh dan berkembang.
(more…)

Tentang Kami

Keluarga Muslim Delft adalah wadah kegiatan kemasyarakatan ummat muslim Indonesia di Delft yang bertujuan menggairahkan kegiatan-kegiatan tersebut dalam mengharapkan ridla Allah Subhanahuu Wata’ala.

Ingin Berlangganan?

 Subscribe in a reader
Cari :