Archive for February, 2005

Terjemahan Alternatif?

Wednesday, February 9th, 2005

Desember kemarin, penulis berkeliling Bandung mencari terjemahan alternatif. Sudah lama, penulis merasakan sulitnya mengapresiasi Al-Qur’an hanya dari satu versi terjemahan. Kesulitan yang sama ternyata dirasakan oleh juga oleh salah satu Syekh di Delft ini.
(more…)

KH Bisri Syansuri, Pecinta Fiqh Sepanjang Hayat (14-Tammat)

Saturday, February 5th, 2005

oleh Abdurrahman Wahid[*]

Bismillahirrahmanirrahiim

Utuh dan Bulat

kh_bisri.jpg

Tokoh seperti Kiai Bisri dapat digambarkan sebagai lebih besar dari
kehidupan (larger-than-life), karena ia menggambarkan pola kehidupan yang terikat kepada sesuatu yang lebih besar dari kehidupan manusia sehari-hari. Keseluruhan hidupnya diabdikan kepada dua kerja yang saling bertali: mendidik santri dan masyarakat, serta memperjuangkan aspirasi keagamaan melalui perjuangan organisasi.

(more…)

KH Bisri Syansuri, Pecinta Fiqh Sepanjang Hayat (13)

Saturday, February 5th, 2005

oleh Abdurrahman Wahid[*]

Bismillahirrahmanirrahiim

Pasca G-30-S

kh_bisri.jpg

Di saat-saat penuh kesulitan setelah terjadinya percobaan
penggulingan kekuasaan pemerintahan oleh G-30-S/PKI di tahun 1965,
dengan pertumpahan darah luar biasa besarnya serta perpindahan
kekuasaan pemerintahan dari Orde Lama kepada Orde Baru, Kiai Bisri
sering harus meninggalkan Jombang untuk turut dalam pengambilan
keputusan di lingkungan Nahdlatul Ulama mengenai masalah-masalah
nasional, karena Kiai Abdul Wahab sudah banyak sekali menghadapi
‘udzur. Dalam periode setelah wafatnya Kiai Abdul Wahab di tahun 1972
dan pengangkatan Kiai Bisri sebagai Ra’is ‘Am, semakin jelas beratnya tanggung jawab memimpin Nahdlatul Ulama. Organisasi itu semakin nyata membuktikan diri sebagai kekuatan sosial-keagamaan yang memiliki kekuatan jumlah anggauta (manpower) dan kekuatan kejiwaan (daya tahan) begitu besar di hadapan banyak perkembangan yang menguji kelangsungan hidupnya sendiri.

(more…)

KH Bisri Syansuri, Pecinta Fiqh Sepanjang Hayat (12)

Saturday, February 5th, 2005

oleh Abdurrahman Wahid[*]

Bismillahirrahmanirrahiim

Anggota KNIP

kh_bisri.jpg

Periode kemerdekaan juga membawa tahap baru dalam kehidupan Kiai
Bisri, yaitu keterlibatan dalam lembaga pemerintahan. Dimulai dengan
keanggautaan dalam Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP), mewakili
unsur Masjumi (tempat Nahdlatul Ulama tergabung secara politis).
Perang Gerilya, yang sempat membubarkan pesantrennya untuk sementara
waktu, membuat keterlibatan dalam lembaga pemerintahan terhenti.
Tetapi keterlibatan itu dilanjutkan dalam keanggotaan Dewan
Konstituante tahun 1956, terhenti lagi semenjak dewan itu dibubarkan
hingga ke masa pemilihan umum tahun 1971. Ketika itu Kiai Bisri
terpilih menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat hingga saat
berpulangnya ke rahmatullah dalam tahun 1980.

(more…)

KH Bisri Syansuri, Pecinta Fiqh Sepanjang Hayat (11)

Saturday, February 5th, 2005

oleh Abdurrahman Wahid[*]

Bismillahirrahmanirrahiim

Terlibat Perjuangan Bersenjata

kh_bisri.jpg

Yang menarik dari cerita orang-orang tua yang masih hidup di desa
tersebut hingga hari ini, periode tahun-tahun tiga puluhan itu juga
menyaksikan sebuah perkembangan menarik dalam diri Kiai Bisri:
keterlibatannya kepada upaya memperbaiki nasib mereka yang malang dan
miskin. Ia menjadi sangat dekat dengan mereka, memberikan santunan
sosial yang besar kepada mereka, dan senantiasa membantu prakarsa
perbaikan nasib dengan usaha-usaha baru di antara mereka.
Keterlibatan kepada upaya perbaikan nasib mereka yang malang dan
miskin itu ternyata tetap dipeganginya hingga ke akhir hayatnya,
sebagaimana dapat direkam dari cerita masyarakat desa tersebut.

(more…)

KH Bisri Syansuri, Pecinta Fiqh Sepanjang Hayat (10)

Saturday, February 5th, 2005

oleh Abdurrahman Wahid[*]

Bismillahirrahmanirrahiim

Pergerakan Nasional

kh_bisri.jpg

Tahun-tahun tiga puluhan adalah periode yang menarik dalam kehidupan bangsa, karena di dalamnya berlangsung banyak perkembangan penting. Di antaranya adalah pemunculan sejumlah tokoh muda dalam berbagai corak pergerakan, yang membawakan juga perdebatan sengit antara berbagai golongan tentang visi kemasyarakatan apa yang akan
diwujudkan di masa depan bagi bangsa yang disaat itu sendiri masih
dijajah pemerintah kolonial. Perdebatan M. Natsir dan Soekarno dalam
seri polemik yang panjang dalam media masa, umpamanya, dapat
disebutkan sebagai salah satu tonggak penting dalam kehidupan bangsa.
Semakin jelasnya polarisasi pandangan antara aspirasi ‘golongan
Islam’ dan kaum nasionalis, kalau mau dipakai istilah klise yang
kebenarannya memerlukan pengujian lebih lanjut, memunculkan dinamika
berpikir yang akan jauh implikasinya bagi masa depan bangsa,
sebagaimana nantinya terbukti dalam sejarah.

(more…)

KH Bisri Syansuri, Pecinta Fiqh Sepanjang Hayat (9)

Saturday, February 5th, 2005

oleh Abdurrahman Wahid[*]

Bismillahirrahmanirrahiim

Sayap Haji

kh_bisri.jpg

Salah satu hal yang membantunya dalam penunaian tugas seperti itu
adalah kontak kekeluargaan yang dimilikinya dengan pejabat
pemerintahan lokal di daerah pantai utara. Dari jalur hubungan daerah
dengan ibunya yang berasal dari Lasem, Kiai Bisri mempunyai hubungan
kekerabatan dengan sejumlah penghulu kabupaten, seperti di Tuban.
Walaupun ia berasal dari ’sayap haji’ yang diperlakukan hanya sebagai
petani desa dalam pergaulan kekeluargaan, tetapi banyak yang dapat
diperbuatnya dalam kapasitas seperti itu, sudah tentu dengan banyak
pengorbanan perasaan di hadapan perlakuan yang seringkali bersifat
merendahkan harga dirinya.

(more…)

Abdal: Pemimpin Kafilah Ruhani Menuju Allah

Thursday, February 3rd, 2005

Pekak sudah telinga kita mendengar pertengkaran di komunitas muslim. Pekat hati ini menyerap begitu banyak perseteruan, pergunjingan, hasut, dengki dan kedzaliman di tubuh umat.
Artikel berikut mengingatkan untuk memuliakan sesama, untuk membela kehormatan saudara kita, untuk memanusiakan manusia dan untuk mencintai cinta.
(more…)

KH Bisri Syansuri, Pecinta Fiqh Sepanjang Hayat (8)

Tuesday, February 1st, 2005

oleh Abdurrahman Wahid[*]

Bismillahirrahmanirrahiim

Komite Hijaz

kh_bisri.jpg

Walaupun Komite Khilafah bubar dengan sendirinya, karena gagalnya upaya penyelenggaraan muktamar di Mekkah itu, perasaan kecewa Kiai Abdul Wahab atas begitu sedikit perhatian kawan-kawannya ’sekomite’ atas hal yang dianggapnya penting, jelas mempengaruhi sikapnya. Ia mengambil prakarsa mendirikan apa yang kemudian dinamai ‘Komite Hijaz’ guna mencari dukungan atas apa yang dianggapnya penting itu dengan tujuan utama mengirimkan sebuah delegasi ke Saudi Arabia untuk memperjuangkan pendirian itu kepada raja Abdul Aziz ibn Sa’ud. Upaya mengumpulkan dukungan para kiai pesantren itu melibatkan iparnya, Kiai Bisri, dengan mereka berdua menanggung beban tugas berkeliling pulau Jawa, menghubungi kiai-kiai dari Banyuwangi di ujung timur hingga ke Menes di ujung barat.

(more…)

KH Bisri Syansuri, Pecinta Fiqh Sepanjang Hayat (7)

Tuesday, February 1st, 2005

oleh Abdurrahman Wahid[*]

Bismillahirrahmanirrahiim

Santri Wanita

kh_bisri.jpg

Ternyata dalam tahun 1919 Kiai Bisri membuat sebuah percobaan yang
sangat menarik, yaitu dengan mendirikan kelas khusus untuk santri-
santri wanita di pesantrennya. Mereka adalah anak tetangga sekitar,
yang diajar di beranda belakang rumah Kiai Bisri sendiri. Langkah
penting ini adalah percobaan pertama di lingkungan pesantren untuk
memberikan pendidikan sistematis kepada anak-anak perempuan muslim,
setidak-tidaknya di Jawa Timur. Langkah yang demikian ‘aneh’ di mata
ulama pesantren itu tidak luput dari pengamatan gurunya, Kiai Hasyim
Asy’ari, sehingga pada suatu hari sang guru datang melihat sendiri
perkembangan yang terjadi di pesantren bekas muridnya itu. Walaupun
tidak memperoleh izin spesifik dari sang guru. Kiai Bisri memilih
melanjutkan percobaannya itu, karena juga tidak ada larangan datang
dari guru yang ditundukinya itu. Ketetapan hatinya untuk meneruskan
percobaan itu adalah suatu perubahan sikap cukup besar dalam diri
Kiai Bisri. Sedangkan sebelumnya ia tidak pernah mengambil tindakan
baru apapun tanpa memperoleh perkenan formal dari sang guru terlebih
dahulu seperti dapat dilihat pada kasus keengganannya memasuki
Syarikat Islam cabang Mekkah sewaktu didirikan dalam tahun 1913.
Mungkin di saat itu telah terjadi perkembangan yang dibawakan oleh
kematangan sikap dalam menentukan keputusan berdasarkan pranata hukum
agama, seperti nantinya akan terbukti dalam beberapa hal lain.

(more…)

Tentang Kami

Keluarga Muslim Delft adalah wadah kegiatan kemasyarakatan ummat muslim Indonesia di Delft yang bertujuan menggairahkan kegiatan-kegiatan tersebut dalam mengharapkan ridla Allah Subhanahuu Wata’ala.

Ingin Berlangganan?

 Subscribe in a reader
Cari :