Archive for April, 2004

Secangkir Teh dan Senyuman

Tuesday, April 27th, 2004

Pagi datang,
sebelum siang
mentari menang
bulan menghilang.
(more…)

Kami Harus Kembali

Monday, April 26th, 2004

eramuslim - Ada semburat haru ketika kami menginjakan kaki di Schiphol Airport, selatan Amsterdam. Untuk kesekian kalinya, siang itu, kami melepas keberangkatan seorang bapak yang akan kembali ke tanah air. Aroma perpisahan begitu menyengat, saat kami memasuki terminal departures. Lambaian tangan dan pelukan perpisahan menghiasi ruang dan hall di bandara.

Setelah beberapa waktu bergaul dengan bapak pendidik itu, akhirnya perpisahan menemui takdirnya. Beliau adalah teman diskusi yang setia. Hampir semua sisi kehidupan pernah kami bincangkan. Mulai dari urusan dapur pejabat yang dipolitisir, hingga ‘obrolan masa depan’ tentang keluarga sakinah, pernah kami bahas tuntas. Selain narasumber yang baik, beliau adalah ayah sekaligus sahabat bagi kami. Belum usai rasanya, kami meneguk gelas-gelas kebijaksanaan yang beliau hidangkan. Masih segar dalam ingatan, taujih yang membahana itu. Semoga jenak-jenak bersamanya menjadi nasehat kehidupan yang berguna sepanjang waktu.
(more…)

Kata-kataku dan kata-katamu kekal selamanya

Saturday, April 24th, 2004

Terjemahan kata-kataku akan kekal selamanya…
Terjemahan kata-katamu jua akan kekal selamanya…
Kata-kataku dan kata-katamu adalah seperti tenaga…
Tidak akan hilang atau musnah… cuma sekadar berubah bentuk..
(more…)

Islam, Iman, Takwa dan Indonesia

Thursday, April 8th, 2004

Pesan Penulis: Jika tulisan ini terlalu panjang, tiga kalimat berikut bisa disimak terlebih dahulu.

Sistem Islam itu adalah naluri humanis religius. Iman dan takwa adalah perjuangan jihad. Indonesia adalah tempat bertemunya naluri humanis religius, muslim dan mukmin secara damai.

Maka hadapkanlah wajahmu kepada sistem yang lurus; fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut naluri itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. Sistem yang murni; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui,
(QS Ar-Ruum 30:30)
(more…)

Tak Kenal Tak Sayang

Friday, April 2nd, 2004

Satu setengah tahun yang lalu, ketika saya pertama kali menginjakkan kaki di negeri Belanda, tidak ada satu orang pun yang saya kenal kecuali beberapa rekan yang berangkat dengan pesawat yang sama. Beberapa hari kemudian mulai timbul rasa kangen kepada keluarga di tanah air. Sedikitnya jumlah orang yang saya kenal ketika itu membuat saya kesepian. Ingin rasanya berkumpul dengan keluarga dan teman teman untuk sekedar berbincang dan bermain.
(more…)

Tentang Kami

Keluarga Muslim Delft adalah wadah kegiatan kemasyarakatan ummat muslim Indonesia di Delft yang bertujuan menggairahkan kegiatan-kegiatan tersebut dalam mengharapkan ridla Allah Subhanahuu Wata’ala.

Ingin Berlangganan?

 Subscribe in a reader
Cari :