Aku berkata…
Wednesday, March 24th, 2004Aku berkata… kau tak mendengar..
Aku bersedih memohon kpdNYA agar kau mendengar..
(more…)
Keluarga Muslim Delft
Aku berkata… kau tak mendengar..
Aku bersedih memohon kpdNYA agar kau mendengar..
(more…)
Kursi rotan yang di ekspor ke belanda adalah kursi rotan yang sudah dipilih kualitasnya. Kalaupun ada, hanya ada sedikit cacat yang mungkin kita temui. Ketika kita berniat membeli kursi rotan, kita tak perlu memilah kursi rotan kita karena takut mendapat rotan kualitas rendah………… Kalimat-kalimat tadi adalah analogi saya yang menggambarkan teman-teman yang dikirim ke Belanda (baca Delft). Rasanya ketika dulu di Delft saya tak harus memilih dan memilah teman (muslim) Indonesia. Semua “Inlander” yang ada adalah teman saya.
Tetapi……………….
(more…)
Kata Allah tiada siapa yang tahu..kecuali mereka yang mendengar dan mengetahui,
(more…)
Hari Ini, 24 Tahun yang Lalu
Mentari baru saja terbenam ketika kami menutup silaturahmi di apartemen seorang sahabat. Silaturahmi yang berbentuk pengajian berbonus acara makan-makan alias ‘proyek perbaikan gizi mahasiswa’ memang kebutuhan yang tak terhindarkan bagi warga Delft. Sejalan dengan waktu, satu persatu rekan yang tempat tinggalnya jauh mulai berpamitan. Sementara, saya dan beberapa teman masih enggan beranjak dari tempat duduk. Kami terkesima mengamati seorang bapak, salah seorang sahabat kami, yang sedang mengasuh putrinya yang masih kanak-kanak. Bapak itu tengah bermain dan bercanda dengan buah hati kesayangannya. Sang putri terlihat begitu asyik dan teramat menikmati guyonan dan bulir-bulir kebijaksanaan yang keluar dari lisan ayahandanya. Sedangkan sang ayah pun kelihatan sangat memaknai perannya saat itu. Sesekali sang putri kecil mendelik tajam ke arah ayahnya, pertanda tak setuju. Terkadang wajahnya memberenggut manja, menunjukkan sewotnya saat sang ayah melarangnya. Namun sesaat kemudian rona bahagia kembali terpancar di wajah riangnya.
(more…)
Minggu lalu saya harus berkunjung ke sebuah instansi di sebuah kota untuk bertemu beberapa kawan. Disana kami harus berembuk merencanakan sebuah proposal penelitian baru. Saatnya saya harus kembali ke Bandung tiba tiba salah seorang kawan saya berkata, “P. Agus tolong ke kantor TU dulu”������.. (TU = Tata Usaha lho bukan Technische Universiteit). Dan dapatlah saya bekal untuk pulang ke Bandung.
(more…)