Archive for February, 2004

Silaturrahmi memperpanjang umur

Thursday, February 26th, 2004

Suatu hari malaikat Izrail, malaikat pencabut nyawa, memberi tahu Nabi Daud a.s., bahwa si Fulan tinggal enam hari lagi akan dicabut nyawanya.
(more…)

Membuat Pilihan

Sunday, February 22nd, 2004

Tanpa disadari, sebetulnya hidup ini selalu diisi dengan membuat pilihan-pilihan.
(more…)

Delft Bandung

Monday, February 16th, 2004

Ketika Ami bin Admin meminta saya menulis kolom mengenang Delft dari Bandung, waktu itu saya optimis bahwa saya bisa menuliskannya dengan kata-kata indah bernilai sastra tinggi. Rasa optimisme itu muncul mengingat “manisnya” kenangan tinggal di Delft selama 10% dari usia hidup saya sekarang.
(more…)

Jalmo Tan Keno Kiniro

Monday, February 16th, 2004

Judul tulisan diatas bukanlah sepotong dialog antara Tom Cruise dengan Ken Watanabe dalam film The Last Samurai. Bukan pula sepenggal kalimat dalam bahasa Jepun.
Jalmo tan keno kiniro adalah Falsafah Jawa yang bertutur bahwa manusia itu tidak bisa ditebak. Kehidupan seseorang dapat berubah tanpa bisa diduga. Semua kemungkinan bisa saja terjadi. Orang yang dulunya tak penah diperhitungkan bisa jadi sekarang menjadi tokoh penentu. Kekalahan di hari kemarin bukanlah berarti kekalahan di hari esok. Sementara itu, kemenangan saat ini bukan jaminan untuk kemenangan di masa depan. Garis kehidupan seorang anak manusia memang bisa berubah 180 derajat. Perubahan merupakan tema sentral kehidupan anak-cucu Adam as.
(more…)

Niat

Friday, February 13th, 2004

Beberapa hari terakhir ini saya membaca buku yang membahas tentang niat dan sikap ikhlas. Alhamdulillah, buku tersebut saya peroleh dari seorang teman yang ikhlas untuk meminjamkan buku tersebut ;) Sebelum membaca buku tersebut, saya mencanangkan “niat” bahwa saya akan membaca buku tersebut hingga selesai.
(more…)

Bangsa buat anak-anakku

Friday, February 13th, 2004

Ketika diminta menulis untuk kolom MuslimDelft ini, saya mencari-cari topik yang sesuai buat saya. Sadar dengan kekurangan saya, maka sangatlah kurang bijaksana kalau tulisan itu nantinya ditujukan untuk mengajari orang lain, apalagi menyuruh orang lain berbuat baik. Mencari perbuatan baik apa saja yang sudah diamalkan dalam kehidupan sehari-hari saja sudah sulit, apatah lagi harus menuliskannya dalam ide-ide yang terstruktur. Untuk menulis keburukan orang lain mah gampang…, jangankan keburukan orang lain, keburukan sendiri yang kadang tidak disadari aja daftarnya bisa berhalaman-halaman. …………….

Pada akhirnya, saya memutuskan untuk menulis buat diri sendiri, yang mungkin refleksinya bisa jadi CERMIN bagi yang membacanya. Tadinya saya cukup Puas dengan batasan yang saya buat. Karena dengannya, saya bisa berdialog dengan diri sendiri mencari2 kebaikan apa yang bisa di ulang dan mengevaluasi kekurangan diri berulang-ulang. Selain itu iseng-iseng, kalau ada yang melihat kebaikan yang ada bisa ditiru, dan jikalau ada kekurang yang terlihat, mudah-mudahan jadi contoh kasus yang harus dihindari.

Malangnya…, tidak semua rencana berjalan mulus. Pengakuan yang saya buat pada diri sendiri ternyata dilihat sebagai KELUHAN. Keluh kesah yang perlu tempat pembuangan. Saya terus terang, sempat sungkan menulis karenanya. Tapi tidak untuk hari ini, karena hari ini saya tidak ingin berdialog dengan diri saya sendiri. Saya ingin BERKELUH KESAH dengan pada Tuhan akan bangsaku.
(more…)

Senja di Schoemakerstraat

Friday, February 13th, 2004

Senja itu, gerimis masih membasuh pepohonan. Dinginnya angin mulai menembus jaket dan sweater setiap orang yang lalu lalang di Schoemakerstraat. Jalan beserta pohon dan taman bunga, semuanya basah, menyusul hujan lebat yang mengguyur Delft. Cuaca begini biasanya membuat orang malas keluar rumah. Tapi saya bersikeras tetap bersepeda ke centrum untuk membeli bekal makan malam. Kabut dan licinnya jalan memaksa saya bersepeda lebih lambat.

Samar-samar, dikejauhan terlihat serombongan orang yang hampir semuanya memakai jas hujan. Setelah melihat lebih dekat, baru dapat jelas terlihat. Mereka adalah serombongan orang tua jompo; kakek-kakek dan nenek-nenek. Agaknya karena saat itu weekend, mereka mencoba keluar panti untuk berbelanja akhir pekan ataupun sekedar menghirup udara luar. Rombongan nenek dan kakek tersebut berjalan berdampingan, berdekatan,…seolah berusaha mengurangi dinginnya udara sore itu.
(more…)

Klakson

Wednesday, February 11th, 2004

Ada satu hal yang sebelumnya begitu akrab yang kini sangat jarang saya temui di Delft ini. Bunyi klakson. Ya… bunyi yang tak asing lagi terutama untuk yang tinggal di kota-kota besar itu sekarang menjadi sesuatu yang hampir saya lupakan. Selama lebih dari satu tahun di Delft, baru satu kali saya mendengar bunyi klakson. Itu terjadi ketika seorang pengendara mobil memperingati seorang penyeberang jalan yang masih berusaha menyeberang jalan walau lampu telah berwarna kuning. Bunyi klaksonnya hanya satu kali, pendek, tidak keras dan bersahabat.
(more…)

Atas Nama Cinta (1)

Monday, February 9th, 2004

Rasanya sudah lama kita bergaul dengan cinta. Sewaktu kita masih muda dulu, cinta dipahami dengan sederhana namun provokatif: You are the one that I want to be with, and the one that I can’t live without.
Bagi para pe-lakonnya, cinta adalah perpaduan antara perasaan untuk memiliki dan perasaan takut akan kehilangan seseorang yang dicintai. Cinta tipe ini merupakan cinta yang banyak dijual di kisah-kisah roman.
(more…)

Jika dan ketika

Tuesday, February 3rd, 2004

Jika kau merasa lelah dan tak berdaya dari usaha yang seperti sia sia..
Allah tahu betapa keras engkau sudah berusaha.

Ketika kau sudah menangis sekian lama dan hatimu masih terasa pedih..
Allah sudah menghitung air matamu.
(more…)

Tentang Kami

Keluarga Muslim Delft adalah wadah kegiatan kemasyarakatan ummat muslim Indonesia di Delft yang bertujuan menggairahkan kegiatan-kegiatan tersebut dalam mengharapkan ridla Allah Subhanahuu Wata’ala.

Ingin Berlangganan?

 Subscribe in a reader
Cari :